
Evelyn keluar dari kamar mandi dengan wajah kesal, sembari tangannya memegang erat ujung handuk yang melilit tubuh mungilnya. Lain halnya dengan Aaron, senyum puas di wajah pria itu tercetak dengan jelas. Sebab pagi ini sudah mendapat hiburan dengan mempermainkan sang istri.
Setelah keluar dari ruang ganti, Evelyn mendapati Aaron duduk di tepi ranjang. Namun dia acuh, melakukan kegiatannya untuk bersiap-siap ke rumah sakit.
Gadis itu duduk di depan meja riasnya sedang mengeringkan rambutnya. Dia terhenyak saat hair dryer yang dipegangnya tiba-tiba direbut.
"Tuan apa yang kau lakukan?" protesnya.
"Duduklah, biarkan aku yang melakukannya." menahan bahunya agar tetap diam.
"Tapi Tuan..." suaranya disamarkan oleh mesin hair dryer, membuat Evelyn memilih bungkam, dan membiarkan Aaron mengeringkan rambutnya.
Aaron mengeringkan rambut Evelyn dengan hati-hati, tidak membiarkan sehelai rambut halus dan wangi itu rontok. Setelah selesai, pria itu mengambil vitamin rambut dan mulai meratakannya di surai hitam nan panjang itu.
"Tuan kau tidak perlu melakukannya...." Evelyn berusaha mencekal Aaron, tapi Aaron tidak membiarkannya.
"Diamlah. Jangan banyak bergerak."
Memegang tengkuk gadis itu agar tetap diam. Entah sengaja atau tidak Aaron memijat pelan kepala gadis itu yang mana membuat Evelyn memejamkan matanya, merasakan pijatan Aaron yang membuatnya sedikit rileks.
Aaron tersenyum puas kala melihat bayangan Evelyn yang menikmati pijatan tangannya.
"Kau menikmatinya kucing kecil." Langsung saja Evelyn membuka matanya. Dia tidak sadar akan apa yang baru dia lakukan, karena jujur saja pijatan Aaron memang terasa menenangkan yang membuatnya lupa diri.
Aaron terkekeh kecil, melihat rona merah di wajah cantik itu.
__ADS_1
"Tidak perlu malu. Kalau kau mau mulai besok aku akan melakukannya untukmu."
"Tidak usah Tuan. Kau tidak perlu melakukannya." tolak gadis itu.
"Kenapa? Bukankah kau menyukainya?"
"Tidak... maksudku aku menyukainya, tapi kau tidak usah melakukannya."
Evelyn sangat heran akan sikap Aaron pagi ini. Dia bingung mengapa sikap Aaron berubah padanya.
"Ya sudah kalau begitu maumu."
"Selesai." mengambil helaian rambut Evelyn lalu menghidunya dalam-dalam. "Wangi sekali."
"Tidak usah Tuan. Aku bisa pergi sendiri. Bukankah kau harus pergi bekerja?"
"Tidak apa-apa. Aku juga ingin melihat Mommy."
Evelyn terpaku mendengar ucapan pria itu. Mengingat statusnya yang hanya budak bagi Aaron, ucapan itu mengartikan seolah Aaron mengkhawatirkan Anastasia dan menganggap wanita itu adalah bagian dari keluarganya.
"Hei." sebuah jentikan menyandarkannya. "Kau tidak mau pergi?"
"I...iya Tuan."
Gadis itu melangkah, yang malah mendapat kejutan lagi saat Aaron meraih tangannya dan menggenggam erat.
__ADS_1
"Ayo." pria itu melangkah membawa Evelyn.
Manik gadis itu menatap Aaron lekat-lekat. Sungguh perubahan Aaron liat biasa membuatnya tenggelam dalam keterkejutan.
Evelyn tidak tau lagi, jika sikap Aaron terus-terusan seperti ini, dia tidak yakin bisa menjaga hatinya. Dia takut benteng pertahanan yang dia bangun di hatinya runtuh akan sikap pria ini.
Selama beberapa menit perjalanan menuju rumah sakit tempat Anastasia dirawat, akhirnya mereka sampai. Kejutan yang kesekian kalinya, Aaron membukakan pintu mobil untuknya.
"Ayo." lagi-lagi Aaron menggenggam tangannya.
Evelyn menyembunyikan debaran jantungnya dengan tetap bersikap tenang. Biarlah Aaron berbuat sesukanya.
Setelah beberapa lama keduanya sampai di depan kamar perawatan Anastasia. Evelyn masuk lebih dulu.
"Mommy aku... Dad...Daddy..."
Manik gadis itu melebar dengan sempurna saat melihat lelaki yang paling dia cintai ada di dalam sana.
TBC ☘️☘️☘️
JANGAN LUPA LIKE DAN VOTENYA YAAA
SAMA GIFTNYA BIAR OTHOR MAKIN RAJIN UPDATE
__ADS_1