Balas Dendam Tuan Muda

Balas Dendam Tuan Muda
Memberitahu Gerry


__ADS_3

"Paman..." pekik Evelyn ketika melihat Gerry memasuki kamar perawatan Mommy Anastasia. Evelyn yang juga merindukan Pamannya itu, tidak tahan untuk tidak memeluknya.


"Bagaimana kabar Paman?" Evelyn tersenyum manis.


"Kabar saya baik Nona." Membalas senyuman itu. "Nona tidak kurus lagi." Ujar Gerry melihat keponakannya tidak sekurus terakhir kali mereka bertemu.


Tentu saja, sejak tinggal di mansion utama, Chlarent benar-benar memperhatikan asupan nutrisi untuk Evelyn. Wanita itu membayar segala kekurangan nutrisi yang tidak didapatnya saat bersama Aaron.


Lihatlah, sekarang Evelyn terlihat sehat dan berisi. Wajahnya yang dulu tirus sudah mulai menggembul kembali.


Gerry melihat Anastasia yang sedang terlelap di atas ranjang. "Bagaimana keadaan Nyonya Anastasia?" Gerry terlihat sedih, sebenarnya sudah lama dia mengetahui mengenai kabar Anastasia. Dia yang hendak mengabari Evelyn, tapi tidak bisa karena ponsel Evelyn tidak bisa dihubungi.


"Begitulah Paman. Aku berharap Mommy bisa menghadapi penyakitnya." Evelyn tersenyum pasrah menatap Mommy tercinta.


"Semoga saja." Gerry menimpali.


"Paman, aku ingin menanyakan sesuatu, tapi kita bicara di luar saja." Gerry mengangguk dan berjalan beriringan keluar dari ruangan.

__ADS_1


"Nona ingin menanyakan apa?" Tanya Gerry duduk bersebelahan dengan Evelyn di kursi tunggu.


"Sebenarnya sudah lama aku ingin menanyakan ini pada Paman, tapi aku tidak punya kesempatan. Aku mau tanya, apakah dulu Daddy punya musuh?"


"Musuh?" Kening Gerry berkerut.


"Iya Paman. Mungkin sekitar lima belas tahun lalu? Atau apakah Daddy pernah bersitegang dengan kolega bisnisnya?" Evelyn begitu penasaran menunggu jawaban Gerry.


"Tunggu Nona. Untuk apa Nona menanyakan hal itu. Apakah itu ada kaitannya dengan kasus Tuan Alexander?" Gerry pun bingung, kenapa tiba-tiba Evelyn mempertanyakan hal ini.


"Sangat berhubungan Paman." Evelyn menarik nafasnya. "Paman tau, sebenarnya orang yang berada di balik semua penderitaan yang dialami keluargaku adalah suamiku sendiri."


Daddy mendekam di penjara, Mommy sekarat di rumah sakit, sedangkan dirinya sendiri berada dalam kekangan kekejaman lelaki yang mendalangi semua musibah dalam hidupnya.


Wajah datar Gerry berkerut dalam mendengar ucapan Evelyn. "Apa maksud perkataan Nona? Saya tidak mengerti?"


"Maafkan aku Paman karena tidak memberitahumu dari dulu. Sebenarnya Tuan Aaronlah yang menjebak Daddy dalam tender itu." Evelyn melihat Gerry berkaca-kaca.

__ADS_1


"Paman pasti bingung kenapa dia melakukan hal itu pada Daddy. Tuan Aaron mengatakan bahwa Daddy adalah orang yang membunuh orang tuanya lima belas tahun yang lalu." Evelyn menelisik wajah Gerry yang penuh keterkejutan.


"Oleh sebab itu aku bertanya pada Paman, apakah Daddy memiliki musuh di masa lalu. Paman sudah lama mengabdi pada Daddy bukan? Pasti Paman lebih tau dariku."


Gerry berusaha menenangkan dirinya dari keterkejutannya. Sungguh dia tidak menyangka bahwa Aaron yang melakukan semua ini.


Gerry menggelengkan kepalanya, setelah berpikir keras akan pertanyaan Evelyn.


"Dalam dunia bisnis, musuh itu pasti ada. Tapi seingat saya, Tuan Alexander tidak pernah mengalami bersitegang dengan mereka. Nona tau sendiri sifat Tuan Alexander, dia pasti bijak dalam mengambil langkah. Dan tidak akan melakukan hal kotor seperti membunuh para musuh-musuhnya." Jelas Gerry jujur.


"Berarti Daddy bukan pembunuhnya Paman?"


"Saya sangat mengenal Tuan Alexander, dan selalu bersamanya hampir setiap waktu. Saya yakin seratus persen, beliau tidak pernah melakukan hal itu."


"Sudah kuduga Paman. Daddy-ku tidak bersalah." Evelyn merasa lega, setelah menceritakan pada Gerry. "Sekarang aku tidak tau lagi bagaimana cara untuk menjelaskan pada Tuan Aaron, kalau Daddy bukan pembunuhnya." Ucap Evelyn lesu.


"Satu-satunya cara adalah menanyakan langsung pada Tuan Alexander. Kita bisa mencari bukti dari Tuan Alexander."

__ADS_1


Evelyn tersenyum cerah, "Paman benar, kita harus menemui Daddy. Ayo Paman, kita pergi sekarang." Evelyn begitu semangat. Di berdiri tapi terkejut melihat pria berdiri di depannya.


"Kau mau pergi kemana?" Tatapan tajam itu menusuk jiwanya.


__ADS_2