
Mentari pagi menyambut ketika Evelyn membuka manik sendunya. Pagi yang damai dirasakannya untuk pertama kali setelah menikah dengan Aaron. Tidak ada tekanan maupun beban yang harus dipikul gadis itu di rumah ini.
Senyum Evelyn terpancar kala melihat Chlarent sedang berdiri di ambang pintu kamar. "Bagaimana tidurmu?" sapa wanita itu.
"Cukup nyenyak Bu."
Chlarent tersenyum, "Baguslah, segeralah mandi, kita akan sarapan bersama." Evelyn mengangguk lalu melenggang memasuki kamar mandi.
Selang beberapa menit kemudian, kedua wanita itu sudah sampai di meja makan yang terlihat mewah. Berbagai macam makanan lezat yang khusus dibuatkan oleh koki profesional sudah tertata rapi di sana. Evelyn meneguk liurnya ketika aroma makanan masuk menyeruak dalam indra penciumannya. Melihat itu Chlarent terkekeh dibuatnya, "Kau pasti sangat lapar ya?" goda wanita itu.
Wajah Evelyn memerah, ternyata Chlarent melihatnya.
"Duduklah, kita sarapan bersama." Chlarent dengan cekatan mengambilkan makanan untuk Evelyn.
"Jangan Ibu, aku bisa mengambilnya sendiri." tolak Evelyn tidak mau merepotkan.
"Tidak usah sungkan, Nak. Biarkan Ibu melayanimu, sebagai tanda permintaan maaf atas perbuatan Aaron padamu." jawab Chlarent.
Evelyn menggeleng, "Ibu tidak perlu meminta maaf, karena ibu tidak salah apa-apa di sini,"
"Tapi Nak..."
"Aku ikhlas Bu, aku menerima semua perbuatan Tuan Aaron dengan lapang dada. Mungkin ini sudah menjadi takdirku, dan aku tidak bisa menolaknya sekalipun aku menghindar. Jadi mulai sekarang jangan menyalahkan diri lagi ya? Aku sudah sangat bersyukur, karena ternyata masih banyak orang yang memperdulikanku, termasuk Ibu." tutur Evelyn.
__ADS_1
Mendengar penuturannya, Chlarent memeluk Evelyn erat, "Mulia sekali hatimu Nak. Ibu malu, karena Ibu tidak..."
Evelyn menggeleng, "Jangan lagi Bu.."
***
"Ayah kau datang?" sapa Myke ketika pintu terbuka menampilkan seorang pria tua dengan rambut yang sudah mulai memutih. Morrone Towers, lelaki yang dipanggil Myke sebagai ayah.
"Hmm.." Pria tua itu bergumam tidak jelas.
"Ada apa Ayah, apa yang membuatmu datang kemari. Bukankah kita bisa membicarakannya di rumah?"
Morrone mendengus, "Kau saja tidak pernah pulang." kesalnya.
"Alasan saja. Kau pikir Ayah tidak tau apa yang kau lakukan di luar sana? Setiap malam kau hanya bermain dengan para wanita j*lang." timpalnya.
"Ayolah Ayah, aku hanya ingin bersenang-senang. Aku bisa gila jika hanya memikirkan pekerjaan."
"Ini yang tidak Ayah suka. Bagaimana kau bisa mengembangkan perusahaan ini jika kau masih berleha-leha di luar sana. Come on Son, buatlah Ayahmu ini bangga."
"Apakah semua keberhasilan ini belum cukup?" batin Myke.
Myke menghela nafas dalam, inilah yang tidak dia sukai dari sang ayah. Pria tua itu selalu memaksanya melakukan apa yang dia inginkan. Apa pun yang dia lakukan semua harus sesuai dengan perintahnya tanpa bantahan.
__ADS_1
Myke bagaikan boneka yang yang dikendalikan oleh Morrone. Terkadang Myke jenuh akan aturan Ayahnya dan ingin lari dari semua ini. Tapi mengingat hanya Ayahnya yang merawatnya sejak kecil, memberikan kasih sayang sama seperti ibu sekaligus, membuat Myke tak kuasa melawan pria itu.
Keheningan meliputi selama beberapa menit.
"Bagaimana penelusuran mu, sudah sampai dimana?"
Myke paham apa yang dimaksud Morrone, "Ternyata Aaron sudah menikah Ayah."
"Menikah? Bagaimana mungkin?"
"Pernikahan mereka disembunyikan. Apa Ayah tau siapa gadis itu?"
"Memangnya siapa"
"Putri dari Alexander Karl."
"Alexander Karl?" Morrone nampak berpikir. "Bukankah pengusaha yang melakukan korupsi beberapa bulan lalu?"
"Ayah benar. Cukup mengejutkan bukan?"
Morrone mengangguk, "Lalu apa hubungannya dengan rencana kita?"
Myke tersenyum menyeringai, kemudian membisikkan sesuattu pada Morrone.
__ADS_1