
Setelah melihat Nick beserta putrinya menjauh, Aaron langsung mendorong Evelyn dari pangkuannya. Untung saja Evelyn dapat menyeimbangkan tubuhnya agar tidak terjatuh akibat dorongan Aaron yang tiba-tiba.
Aaron menatap tajam Evelyn sebelum melayangkan kalimat merendahkannya kepada Evelyn. "Jangan berbangga diri dulu, aku terpaksa melakukannya." sarkas Aaron. Pria itu mendengus kesal melihat Evelyn, lalu meninggalkan Evelyn sendirian di sana.
Evelyn yang tadinya terkejut menatap nanar kepergian Aaron hingga menghilang di kerumunan para tamu undangan. Begitu perih rasanya ketika pria itu memperlakukannya dengan kasar. Evelyn menetralkan perasaannya, tidak ingin membiarkan air matanya jatuh di kerumunan ini.
Dengan menahan rasa di hatinya, Evelyn melangkah meninggalkan gedung itu, berniat menyusul Aaron. Sampai di sana Evelyn tidak menemukan Aaron, bahkan mobil yang dinaikinya kemari tidak nampak oleh penglihatannya.
Apakah Aaron meninggalkannya di sini sendiri? Bagaikan anak kecil yang tersesat Evelyn menelusuri sekitar halaman gedung hotel, tapi tetap saja tidak menemukan siluet tubuh suaminya. Aaron benar-benar meninggalkannya. Lalu bagaimana dirinya akan pulang, sebab dia tidak memegang uang sepeserpun untuk membayar taksi. Ponselnya juga tertinggal di mansion karena datang kemari pun juga terburu-buru.
Kali ini Evelyn tak kuasa menahan air matanya. Isak tangisnya terdengar memilukan. Keadaan sekitarnya yang memang sepi membuat Evelyn leluasa mengeluarkan isak tangisnya di sana. Karena terlalu kalut dalam perasaannya, Evelyn tidak menyadari seseorang memandangnya dari seberang sana.
__ADS_1
Orang itu adalah Aaron, pria itu sedari tadi memperhatikan Evelyn dari dalam mobil sana. Tatapannya tak terartikan melihat Evelyn menangis di sana.
Aaron tidak tahu apa yang terjadi dalam dirinya. Hatinya berkecamuk sejak menarik Evelyn ke pangkuannya di pesta tadi. Antara rasa nyaman ketika Evelyn bersandar di dadanya membuat jantungnya berdebar tidak karuan.
Aaron membuang perasaannya itu jauh-jauh, tidak seharusnya perasaan semacam itu tidak timbul dalam hatinya. Oleh karena itulah Aaron buru-buru meninggalkan Evelyn karena ingin menyembunyikan perasaannya.
Harusnya Aaron tidak peduli dengan Evelyn, tapi entah mengapa pria itu malah menyuruh sang sopir untuk menghubungi pengawalnya yang selalu berjaga di sekitar mereka guna membawa Evelyn pulang. Setelah itu mobil Aaron melenggang pergi dari jarak amannya dari Evelyn.
Beberapa menit kemudian Evelyn berhasil menetralkan emosinya, tangan ringkihnya mengusap air mata yang tiada bosan membasahi wajah cantiknya.
"Ya Nona, mari saya antar pulang." ucap Remar dengan wajah dinginnya.
__ADS_1
Evelyn mengangguk, lalu mengikuti langkah Remar menuju mobil yang parkir tidak jauh dari sana. Evelyn sedikit merasa lega saat itu, ternyata Aaron tidak sekejam yang dia kira. Pria itu berbaik hati memberikan tumpangan lain.
"Remar." panggilnya ketika mobil sudah melaju membelah jalanan kota yang terlihat lenggang sore ini.
"Ya Nona?" wajah dingin itu menjawab tanpa menoleh pada Evelyn. Evelyn terkadang heran kenapa ada orang sedingin Remar.
"Remar aku ingin minta maaf." ucap Evelyn tulus.
Evelyn merasa bersalah ketika beberapa hari yang lalu dia pergi menemui Daddy-nya di penjara. Evelyn mendengar dari Kane bahwa Remar dihukum oleh Aaron karena membiarkannya pergi dari rumah sakit. Padahal yang bersalah adalah dirinya, tapi Remar juga ikut mendapat hukuman.
"Maaf untuk apa Nona?" Remar tahu arah pembicaraan Evelyn, tapi sepertinya Remar memang enggan mengakrabkan diri dengan Evelyn. Dia sadar diri bahwa dia hanyalah pengawal rendahan yang tidak pantas bertegur sapa kepada majikannya.
__ADS_1
"Aku minta maaf tentang kejadian beberapa waktu lalu. Karena diriku kau juga ikut di hukum oleh Tuan Aaron."
TBC ☘️☘️☘️