Balas Dendam Tuan Muda

Balas Dendam Tuan Muda
Perpisahan


__ADS_3

Penyesalan memang selalu datang di akhir. Selalu datang ketika kita telah melakukan kesalahan yang begitu fatal dan tidak terelakkan. Itulah yang Aaron rasakan saat ini.


Di saat dirinya menyadari kesalahan yang dia perbuat, pada gadis yang ternyata adalah kekasih masa kecilnya. Aaron pikir Evelyn bersedia berdamai dengannya dan melupakan semua yang terjadi. Aaron begitu percaya diri mengutarakan perasaannya, berharap Evelyn menerimanya. Namun dia salah, meski semua kesalahannya sudah termaafkan, rasa sakit itu masih menyisakan sembiluh yang tidak akan pernah hilang selamanya.


Yah, kini hanya penyesalan yang tersisa.


Aaron tidak memaksa apapun lagi, setelah penolakan Evelyn padanya. Karena dirinya tidak berhak. Aaron pasrah jika suatu saat nanti Evelyn benar-benar ingin pergi darinya.


"Aaron, sepertinya kau memiliki banyak masalah?" ucap Anastasia pada menantu laki-lakinya yang terlihat tidak semangat dalam acara makan malam pertama mereka.


Bara menggeleng samar, lalu menyampirkan senyum hangat pada Anastasia, "Tidak Mom. Aku tidak apa-apa." jawabnya sopan.


"Baguslah. Kalau begitu, kau harus menghabiskan makanan ini. Istrimu sudah memasaknya sepanjang sore tadi."


"Ini..." kening Aaron berkerut melihat sup merah di hadapannya.


"Ya. Ini sup borscht buatan istrimu juga." Anastasia menawarkan makanan itu pada Aaron.


Pria itu tertegun dalam suapan pertamanya. Aaron melirik Evelyn yang terlihat sibuk memakan makan malamnya. Rasa sup ini, sama persis dengan sup yang pernah tersaji di mansion orang tuanya setelah sekian tahun lamanya.


Aaron awalnya kebingungan, tetapi setelah semua kepingan memorinya terkumpul, Bara akhirnya menyadari.


"Aaron? Supnya tidak enak?" tanya Anastasia yang sedari tadi melihat reaksi Aaron setelah memakan masakan Evelyn.


"Sup ini sangat enak Mom. Aku menyukainya." jawab Aaron.

__ADS_1


Aaron melanjutkan makan malamnya, tetapi hatinya tengah berkelana. Semua ini masih begitu rumit baginya.


***


"Mom, Dad. Besok pagi aku harus pulang, saat ini perusahaan sangat membutuhkanku." ujar Aaron setelah makan malam berakhir.


"Ya. Tidak apa-apa. Kalian pulang saja, Daddy akan menjaga Mommy dengan baik." sahut Alex.


"Maaf Dad. Elin tidak ikut pulang bersamaku. Untuk beberapa hari ini, Elin masih ingin berkumpul bersama kalian." potong Aaron.


Evelyn langsung menoleh setelah penuturan Aaron, kapan dirinya meminta tinggal di sini?


"Benar begitu Elin? Mommy dan Daddy tidak apa-apa. Lebih baik kau pulang bersama suamimu." bujuk Anastasia yang tidak suka putrinya berpisah dari Aaron.


Evelyn hendak menjawab, tetapi Aaron langsung memotongnya. "Elin baru saja berkumpul dengan kalian Mom. Istriku masih sangat merindukan kalian." Aaron meyakinkan.


Aaron terpaksa melakukan ini. Setiap bersamanya, Aaron dapat merasakan ketidaknyamanan Evelyn. Oleh sebab itu, dia ingin menjauh dari Evelyn, daripada membuatnya semakin menderita.


Setelah makan malam, Aaron dan Evelyn masuk ke dalam kamar. Keduanya memutuskan untuk tidur. Jika biasanya setiap malam Aaron memeluknya saat hendak tidur, kini Aaron malah memunggunginya.


Evelyn bingung dengan sikap Aaron. Dia dapat merasakan Aaron tengah menjauhinya. Jika Aaron pikir Evelyn akan senang jauh darinya, maka pemikiran itu salah. Entah kenapa setitik dalam hati gadis itu tidak rela saat Aaron akan meninggalkannya di rumah ini.


Evelyn menatap punggung Aaron sambil memegang dadanya yang tanpa sadar berdetak untuk pria itu. Setelah mendengar pernyataan pria itu beberapa saat lalu, bohong jika hatinya tidak bergetar.


Setitik perasaan bahagia terselip dalam lubuk hatinya yang terdalam. Tetapi rasa itu terkubur dalam oleh sembiluh luka yang masih belum mengering. Hatinya seperti mati rasa akan pernyataan cinta pria itu.

__ADS_1


Kebebasan, lalu berkumpul dengan kedua orang tuanya, itu yang Evelyn inginkan selama ini. Tetapi kenapa, setelah Aaron perlahan memberikan keinginannya, hatinya seolah tidak rela? Hatinya sangat sakit tanpa dia sadari, dan takut kehilangan pria ini.


Evelyn selalu menepis rasa cintanya untuk Aaron. Gadis itu selalu membohongi hatinya dengan mengatasnamakan luka yang belum sembuh.


Pagi menjelang, Aaron akan benar-benar pergi. Sejak bangun, Evelyn berharap Aaron mengubah keputusannya dan membawanya pulang bersamanya. Tetapi sepertinya Evelyn harus menelan pil pahit, Aaron hanya diam sejak pagi.


"Jaga dirimu baik-baik. Kalau ada apa-apa, segera hubungi aku." ujar Aaron yang bicara untuk pertama kalinya pagi ini.


Evelyn menggigit bibirnya, menahan air mata yang membendung di pelupuk matanya. Pria ini benar-benar akan pergi.


Evelyn mengangguk, "Hati-hati di jalan. Titip salam pada Ibu dan Kane." jawabnya dengan suara bergetar, entah pria itu sadar atau tidak.


"Akan kusampaikan. Nikmati hari-hari bahagiamu yang pernah hilang. Semoga kalian bahagia. Aku pergi." ujar pria itu tanpa meninggalkan kecupan seperti biasa, atau pun menggodanya seperti pagi yang sudah-sudah.


Aaron memasuki mobil yang sudah terparkir di sana dan segera melajukannya. Evelyn tersadar maksud ucapan pria itu baru saja. Kata-kata itu seolah mengatakan kalimat perpisahan.


Air matanya jatuh begitu saja. "Tuan..." panggilnya. Namun Aaron yang sudah melajukan mobilnya dengan cepat tidak mendengar lagi.


Sakit. Hatinya berdenyut sakit. Evelyn berlari mengejar pria itu, tetapi terlambat, pria itu sudah benar-benar menghilang.


"Kau meninggalkanku..."


Sedangkan di dalam mobil, Aaron menahan air matanya. Keputusannya sudah tepat untuk melepaskan Evelyn dari jeratannya. Evelyn sudah terlalu menderita berada di sisinya, dan tidak pantas menderita jika terus mempertahankannya.


"Maafkan aku Elin. Meskipun kita jauh, tetapi hati ini hanya milikmu."

__ADS_1


TBC☘️☘️☘️


JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEN YAH


__ADS_2