Balas Dendam Tuan Muda

Balas Dendam Tuan Muda
Extra Part


__ADS_3

Entah sudah berapa banyak peluh membasahi tubuh dua insan yang tengah asik mengarungi nikmatnya terbang menuju nirwana. Siang hari yang panas, semakin panas oleh pergulatan kedua insan yang tengah dimabuk cinta tersebut.


Aaron menatap penuh arti, wajah cantik yang tengah bergerak gelisah di bawahnya. Ketika manik keduanya saling bertemu, wanita itu tersenyum malu. Dengan perasaan gemas, Aaron melabuhkan ciumannya di bibir wanita tersebut.


"Aku mencintaimu Evelyn." entah sudah berapa kali bibir pria itu membisikkannya.


Evelyn tidak mampu menjawab. Wanita itu hanya bisa mengeratkan kakinya yang tengah membelit pinggang Aaron, seolah mengutarakan perasaan yang sama.


Aku juga mencintaimu Kak Aaron


Evelyn hanya bisa mendesahkan dalam hatinya. Sebab sudah tidak mampu lagi berucap sepatah kata pun, karena rasa nikmat tak terperi yang Aaron suguhkan.


***


"Kenapa Kau menceraikanku?" kalimat pertama yang Evelyn ucapkan sejenak setelah pergulatan panas mereka.


Aaron yang baru saja mengambil posisi nyaman memeluk tubuh polosnya, tiba-tiba diam. Membalas tatapan Evelyn yang penuh selidik.


"Aku tidak berniat melakukannya. Itu hanya kesalahpahaman." Aaron menggeleng, lalu semakin memeluk erat Evelyn.

__ADS_1


"Tapi Kau mengirim surat cerai ke rumah orang tuaku." Evelyn masih belum menerima penjelasannya. Gadis yang baru saja melepas kesuciannya itu, memajukan bibirnya, masih meminta penjelasan.


Maniknya terpejam ketika Aaron membelai wajahnya lembut, "Kau tau apa hal yang paling aku takutkan di dunia ini?" tanya Aaron. Tangan besarnya masih sibuk membenahi selimut yang membungkus tubuh polos mereka.


Tanpa membiarkan Evelyn menjawab, "Kehilanganmu. Aku sangat takut kehilangan dirimu Evelyn!" ucapnya seolah menegaskan.


"Surat cerai itu, asal kau tau, aku telah cinta mati padamu. Rasanya cintaku tidak bersisa lagi sayang. Semua hanya untukmu."


"Tapi, jika..."


"Sst... biarkan aku bicara." meletakkan jari telunjuknya di bibir Evelyn. "Aku sangat mencintaimu Evelyn. Bahkan ketika kau menyuruhku melepasmu, aku setuju. Walau berat untukmu, tetapi aku tetap melakukannya asal kau bahagia. Jika memang kau bahagia tanpaku, aku akan menjauh." ucap Aaron, dan jelas membuat Evelyn melebarkan bola matanya.


Tetapi Evelyn masih belum mau kalah. Maniknya menatap galak pada Aaron, "Setidaknya kau berjuang untukku. Coba ingat dengan jelas, aku tidak pernah mengingat kau berjuang untukku. Lalu satu minggu yang lalu. Kau membiarkanku seperti orang bodoh di rumahmu. Kau memang pecundang Aaron. Aku membencimu!" dengan kesal memukul dada Aaron.


Wajah kesal gadis itu justru malah menimbulkan senyum di wajah Aaron. Pria membiarkan Evelyn memukuli dadanya.


"Maafkan aku." memeluk Evelyn dari histerisnya, "Bukan aku tidak ingin berjuang. Justru aku sangat ingin berjuang. Kau tau sendiri, aku sudah membuatmu menderita selama ini. Jadi aku tidak ingin semakin menambah penderitaanmu, dengan kehadiranku, yang sangat kau benci." jelas Aaron. Menghirup dalam-dalam aroma rambut Evelyn lalu bersandar di atas puncak kepalanya.


Sedangkan Evelyn yang mendengar penjelasan Aaron, hanya bisa diam sambil memandangi dada bidang pria itu.

__ADS_1


"Aku sangat mencintaimu Evelyn. Sangat mencintaimu." ucap Aaron seolah tiada puasnya.


Aaron sedikit menjauhkan Evelyn, menatap penuh tuntut pada gadis itu. "Kenapa tidak membalas ucapanku?" ucapnya.


"Membalas apa?" Evelyn menatap bingung.


"Aku mencintaimu." ucap Aaron menegaskan.


Dan lagi, wajahnya menjadi masam karena tidak mendapat balasan.


"Apa?" tanya Evelyn dengan sengaja dan Aaron tau itu.


"Aku juga mencintaimu. Tolong katakan Evelyn. Aku sangat ingin mendengarnya lagi." pinta Aaron.


Evelyn malah menggeleng dengan senyum usilnya. Menelusupkan kepalanya ke dalam pelukan Aaron.


Aku juga sangat mencintaimu Kak Aaron-ku


Ucap gadis itu, tetapi hanya bisa terucap di bibir ranumnya.

__ADS_1


__ADS_2