
"Kenapa melihatku seperti itu?" Suara Aaron mengejutkan Evelyn yang sedang fokus memandangnya.
"Ti..tidak. Aku tidak melihatmu Tuan." Menggelengkan kepalanya karena gugup.
"Sudah mengaku saja. Aku tau, kau terpesona akan ketampananku." Ucap Aaron dengan percaya diri, dengan senyum mengejek di bibirnya.
"Kau terlalu percaya diri Tuan." Evelyn kesal.
"Tidak salah kalau aku percaya diri. Karena memang kenyataannya, bahwa aku ini sangat tampan. Semua wanita berlomba-lomba datang padaku, semuanya ..."
"Kecuali aku." Evelyn jengah sekaligus tercengang melihat betapa narsisnya pria di hadapannya ini. Sisi lain dari Aaron yang baru pertama kalinya dia lihat.
"Ya terserah kau saja. Tapi aku yakin, cepat atau lambat, kau pasti akan jatuh dalam pesonaku."
Aaron memegang pergelangan kakinya, membuat Evelyn beralih pada kakinya yang sudah dililit kain kasa.
"Sekali kau masih ceroboh dan melukai tubuhmu, lebih baik aku saja yang mematahkan dan meremukkan tubuhmu, agar kau tidak susah payah menyakiti dirimu lagi."
Evelyn yang masih awam dengan dunia asmara, dengan polosnya menganggap ucapan Aaron adalah ancaman atau ultimatumnya.
Evelyn menarik kakinya dari atas pangkuan Aaron. "Terima kasih Tuan." Ucapnya, lalu hendak berjalan menuju sofa.
"Kau mau kemana?"
__ADS_1
"Tentu saja ingin tidur Tuan."
"Tidur di atas ranjang." Jawabnya singkat. "Jangan berpikir macam-macam, aku akan pergi malam ini." Jawabnya sinis ketika melihat wajah bingung gadis itu.
Evelyn mengangguk mengerti, walaupun hatinya bertanya-tanya mau kemana pria itu semalam ini.
Evelyn segera tidur di atas ranjang empuknya, setelah Aaron pergi.
"Nyaman sekali." lirih gadis yang sedang bergelung di dalam selimut tebal. Beberapa malam ini tidur di sofa, membuat badannya sakit.
Tangan mungilnya bergerak menyentuh kalung permata hitam yang melingkar di lehernya. Kalung peninggalan mendiang Ibu mertuanya yang diberikan oleh Chlarent.
Evelyn mencoba mengingat, dimana dia pernah melihat kalung ini.
"Dimana aku pernah melihat kalung ini?"
***
"Bangun! Hei bangun pemalas."
Evelyn terpaksa membuka matanya yang masih terpejam erat dan meninggalkan mimpi indahnya, saat Aaron membangunkannya.
Evelyn melihat Aaron berdiri di sebelahnya sambil bersedekap. "Bangun! Cepat ikut aku!" Perintahnya lalu berjalan menuju kamar mandi.
__ADS_1
Evelyn yang masih sangat mengantuk, berkali-kali mengerjapkan kelopak matanya yang masih enggan terbuka. Sampai akhirnya, tubuh mungilnya kembali limbung di atas ranjang dan kembali mengarungi mimpi.
"Astaga." Aaron berdecak kesal, saat berbalik melihat Evelyn tidur lagi. Aaron mendekati tempat tidur, lalu menyingkap selimut yang membungkus tubuh Evellyn.
"Kemari kau kucing kecil."
Saat Aaron hendak mengangkat tubuh mungil itu, Evelyn langsung membuka matanya. "Tuan, apa yang kau lakukan?" Menjauhi Aaron. Pikirannya langsung sadar dari kantuknya.
"Dasar pemalas. Cepat bangun!" Perintahnya tegas.
Evelyn melihat jam di dinding, masih jam setengah enam pagi. Hari ini Evelyn masuk agak siang, makanya dia masih betah berlama-lama di atas ranjang.
"Ini masih sangat pagi Tuan. Aku masuk pukul sembilan."
"Aku tidak peduli. Cepat ikut aku." Aaron menarik tangan Evelyn, membawanya dengan paksa menuju kamar mandi.
Sampai di kamar mandi, Aaron membuka bathrobe yang membungkus tubuh kekarnya.
"Tuan, apa yang kau lakukan." Refleks menutup matanya dengan telapak tangannya saat melihat tubuh polos Aaron hanya ditutupi celana boxer.
Aaron menyeringai melihat Evelyn, lalu masuk ke dalam bathtub yang sudah terisi air hangat. Bersandar di dinding porselen bathtub dengan tenang.
"Mandikan aku."
__ADS_1
TBC ☘️☘️☘️
JANGAN LUPA LIKE DAN VOTENYA YAAA 😀