Balas Dendam Tuan Muda

Balas Dendam Tuan Muda
Kedatangan Aaron


__ADS_3

Sebuah permata hitam mengkilap menyilaukan pandangannya ketika pertama kali membuka kotak itu.


Keningnya berkerut dalam, memperhatikan kalung itu. Memang dia terpesona akan kemewahan kalung itu dan Evelyn yakin bahwa kalung itu bukan main mahalnya.


Tapi bukan itu yang menjadi fokus utamanya. Kalung ini terasa familiar dalam ingatannya. Evelyn merasa seperti pernah melihat kalung ini, api kapan dia pernah melihatnya?


Dengan ragu-ragu Evelyn mengambil kalung itu, membentangkannya di udara. Sungguh indah memang.


"Kalung ini merupakan peninggalan terakhir Ibu Aaron. Seperti yang Ibu katakan tadi, kalung ini akan diberikan kepada istri Aaron, dan kaulah orangnya." Evelyn mendengar penjelasan Chlarent tapi tidak berniat menjawabnya. Dia masih berpikir keras dimana dia pernah melihat kalung ini.


"Evelyn..."


"Eh iya Bu. Maaf, aku cukup terpesona melihat kalung ini." Evelyn terkekeh.


Chlarent tersenyum, "Kalung ini ada sepasang, satu lagi ada pada Aaron. Sini Ibu pasangkan." Chlarent mengambil alih kalung permata itu.


"Tapi Bu, apakah tidak apa-apa aku memakainya?" Evelyn masih ragu. Dia tidak ingin Aaron murka karena sudah lancang memakai barang peninggalan Ibunya.


"Tidak apa-apa. Jangan pikirkan Aaron, ada Ibu yang melindungimu. Mengerti?" Chlarent meyakinkan.

__ADS_1


"Baiklah Bu." Evelyn mengangguk pasrah. Dengan segera Chlarent memakaikan kalung itu di leher Evelyn.


Setelah selesai Evelyn menyentuh kalung yang kini melekat di lehernya. Keindahannya semakin bertambah ketika berpadu dengan lehernya yang putih mulus. Seakan kalung itu memang diciptakan khusus untuk Evelyn.


"Cantik sekali." Puji Chlarent.


"Ingat ya, kau harus menjaga kalung ini dengan baik. Jangan sampai hilang, ok?"


"Baik Bu, aku pasti menjaganya dengan baik." Jawab Evelyn tersenyum.


***


Sendok yang dia pegang terlepas begitu saja di atas piring sarapannya melihat pria berwajah dingin itu semakin mendekat kepadanya. Tubuhnya gemetar hebat melihat pria itu.


Tatapan mematikan itu masih menatapnya dengan tajam. Ingin sekali Evelyn lari dari tempat ini, pergi dari pria itu sejauh mungkin.


Pria itu menyeringai melihat reaksi Evelyn saat melihatnya. "Kau takut?" Tanya pria itu.


Dialah Aaron, pria yang sangat Evelyn takuti. Pria yang mengisi penderitaannya selama beberapa bulan ini. Pria yang tega menjualnya pada germo hanya untuk menuntaskan balas dendamnya.

__ADS_1


Evelyn tidak menjawab, dia malah beringsut menjauh ketika Aaron duduk di sampingnya.


Tangan kekar Aaron terangkat menyentuh wajah pucat Evelyn yang mana membuat Evelyn berjingkrak dari duduknya.


Aaron menyeringai, "Sst jangan takut. Aku tidak akan menyakitimu." Aaron memang mengatakannya dengan lembut, tapi bagi Evelyn suara itu sudah seperti suara sangkakala yang berkumandang dari neraka.


"Kemarilah istriku." Aaron menarik Evelyn dengan pelan agar mendekatinya.


"Jangan." Evelyn setengah berteriak menutup matanya erat. "Kumohon jangan Tuan. Jangan sakiti aku...."


Aaron terdiam sejenak, sebegitu takutnyakah gadis ini kepadanya?


Aaron ingin peduli pada Evelyn, tapi logikanya bersikeras menepis semua itu.


"Siapa yang ingin menyakitimu hmm? Kemarilah, aku tidak akan melakukan apapun padamu." Aaron berucap selembut mungkin.


Ternyata perkataan Dokter Lenin mengenai kesehatan Evelyn benar adanya. Lihatlah gadis ini begitu ketakutan padanya.


Saya mohon jangan berkata kasar pada Nona Evelyn. Hindari perkataan yang mungkin membuat Nona Evelyn merasa tertekan yang akan membuatnya stres.

__ADS_1


Itulah pesan Dokter Lenin, ketika Aaron kembali mempertanyakan keadaan Evelyn.


__ADS_2