
Di tengah kesedihan kedua wanita yang sedang duduk di meja makan, mereka tidak menyadari seorang gadis bermata bulat memperhatikan mereka dari pintu ruangan.
"Hei." gadis itu terlonjak kaget akibat seorang pelayan menepuk bahunya.
Pekikan gadis itu menyita perhatian kedua wanita yang masih duduk di meja makan. "Vera, kau sedang apa di sana?" ujar Chlarent. Ternyata gadis itu adalah Chlarent.
"Ah ti tidak bi, aku hanya ingin pamit kuliah Bi." jawab gadis itu terbata-bata.
"Hari ini hari pertama kuliahmu?"
"Iya Bi."
"Oh ya sudah, hati-hatilah di jalan." ujar Chlarent.
"Iya Bi, aku pergi dulu." Vera menjawab dengan tersenyum, tapi ketika mata bulatnya bertemu dengan Evelyn wajahnya tiba-tiba menjadi tidak ramah, kemudian berlalu dengan hatinya yang panas.
Vera akui Evelyn memang cantik, fakta itu membuat Vera kesal, dia takut Aaron akan terlena kepada Evelyn. Karena sebenci apapun Aaron pada gadis itu, tidak menutup kemungkinan Aaron jatuh cinta kepada gadis secantik Evelyn.
"Mengesalkan sekali." gerutu gadis itu seraya melangkah keluar mansion.
Hari pertama kuliahnya telah diawali dengan kekesalan, membuatnya tidak semangat memulai hari pertamanya ini. Vera memang seumuran dengan Evelyn, dan sudah seharusnya menginjak bangku kuliah. Untung saja keluarga Lisin berbaik hati membiayai semua keperluan kuliah gadis itu.
"Dia siapa Ibu?" Evelyn bertanya setelah Vera pergi dari ruang makan.
"Dia Vera, putri Kane."
__ADS_1
"Putri Kane?" Evelyn terkejut. "Diakah itu?"
"Iya Nak, memangnya kenapa?"
"Tidak apa-apa bu, Kane pernah bilang kalau dia punya seorang putri tinggal di sini. Jadi ternyata dia."
"Iya, benar. Tapi Ibu sarankan, kau jangan terlalu dekat dengannya?" ujar Kane.
"Memangnya kenapa?"
"Vera gadis yang sombong, dia selalu semena-mena di rumah ini, hanya karena Keluarga Lisin memprlakukannya sedikit istimewa." jelas Kane. Kane mulai menceritakan bagaimana kepribadian Vera yang merasa seperti seorang putri, apapun harus dilayani, padahal dia tidak sadar bahwa Ibunya Kane dan mendiang Ayahnya hanyalah pelayan di rumah ini.
Evelyn mendengar cerita Kane, sesekali menganggukkan kepalanya.
"Jadi kalau dia ingin membuat masalah denganmu, abaikan saja, tidak usah ditanggapi."
"Oh ya Ibu belum mengatakan satu hal."
"Apa itu?"
"Dia menyukai suamimu."
"Maksud Ibu Tuan Aaron?"
"Kenapa masih memanggil suamimu seperti itu?" protes Chlarent.
__ADS_1
"Itu, aku segan memanggilnya dengan nama Bu, karena Tuan Aaron lebih tua dariku."
"Tapi tidak harus 'Tuan' kan?"
Evelyn menjadi bingung, selama ini Aaron memang tidak pernah mempermasalahkan panggilannya. Tapi panggilan itulah yang pantas, karena dirinya bukanlah istri melainkan hanya budak Aaron.
"Memang seperti itu seharusnya Bu, karena aku hanyalah pelayan Tuan Aaron?" jawab Evelyn.
"Apa yang kau bicarakan Nak?" Chlarent tidak setuju akan perkataan Evelyn baru saja. "Jangan seperti itu Nak, kau bukan pelayan, melainkan istri. Ingat dengan jelas, kau istri dari putraku Aaron. Mengerti?" Chlarent mempertegas ucapannya.
Evelyn menghela nafas, "Aku mengerti." jawabnya dengan tersenyum hambar.
"Baiklah. Habiskan sarapanmu, setelah ini kita pergi ke pusat perbelanjaan."
"Untuk apa ke sana Bu?"
"Kita akan membeli pakaianmu, juga perlengkapan kuliahmu." jawab Chlarent.
"Ku kuliah?" Evelyn terbata.
"Iya Nak, mulai besok kau akan kuliah di kampus terbaik di kota ini."
Evelyn terdiam, berusaha mencerna ucapan Chlarent. Benarkah dia akan kuliah? Hal yang sangat dia inginkan waktu masih duduk di bangku SMA, akhirnya terwujud.
"Benarkah Bu?" Evelyn masih kurang yakin.
__ADS_1
"Iya Nak, kau akan kuliah. Vera yang bukan siapa-siapa keluarga ini bisa kuliah, apalagi dirimu, menantu keluarga Lisin. Kau tenang saja, Ibu sudah memilihkan universitas terbaik di negara ini." ujar Kane.
"Terima kasih Bu." Evelyn sangat senang. Akhirnya keinginannya terpenuhi. Dulu setelah lulus sekolah, Evelyn berencana kuliah di sebuah Universitas terkenal di luar negeri, namun terhalang akibat semua musibah yang menimpa keluarganya. Dan sekarang dia bisa melanjutkan pendidikannya, walaupun tidak di luar negeri, Evelyn tetap bersyukur, setidaknya dia masih bisa.