
Evelyn tidak pernah menyangka, Aaron akan membuat keputusan seperti ini. Keputusan yang tidak disangka malah membuat hatinya terpuruk.
Evelyn begitu bingung dengan perasaannya saat ini. Saat Aaron berada di dekatnya, dirinya ingin bebas dan lepas dari jeratan pria itu. Tapi kenapa saat Aaron membebaskannya, hatinya justru tidak rela.
Sudah tiga hari Evelyn hanya berdiam diri sejak Aaron pergi. Gadis itu terlihat lesu dan tidak bersemangat. Jelas saja, sejak Aaron pergi, dia tidak pernah mengabarinya lagi. Tidak hanya itu, pesan dan panggilannya tidak pernah dibalas dan diangkat.
Evelyn menjadi sangat sedih. Sepertinya Aaron benar-benar ingin melepaskannya.
Alexander dan Anastasia yang memperhatikan putri tunggal mereka, turut sedih dengan keadaan Evelyn. Meski Evelyn tidak pernah bercerita, sebagai orang tua mereka tentu tau.
"Elin." panggil Anastasia.
"Mommy." wajah yang sedari tadi murung tersenyum pada wanita paruh baya itu.
"Kau merindukan suamimu?"
Evelyn hanya tersenyum tipis, menandakan bahwa ucapan Anastasia benar. Ya, dia sangat merindukan Aaron.
"Kalau begitu pulanglah. Kami akan baik-baik saja di sini." ucap Anastasia.
"Mom..." Evelyn menggeleng. "Elin masih sangat merindukan kalian. Elin masih ingin tinggal di sini."
Anastasia tersenyum, anak dan menantunya ini sama-sama keras kepala.
"Kau tidak mencintai Aaron?" ucap Anastasia tiba-tiba membuat Evelyn terkejut.
"Ma..maksud Mommy apa?" Evelyn bingung, kenapa Anastasia berkata seperti itu.
"Kami sudah tau semuanya sayang." Alex menimpali. "Aaron sudah menceritakan semuanya. Dia telah mengaku dan memohon maaf atas semua kesalahannya." ujar Alex.
Evelyn melebarkan matanya. Rahasia yang selama ini dia tutup-tutupi dari kedua orang tuanya terbongkar sudah.
"Daddy tidak marah?" karena Evelyn tau kesalahan Aaron tidak akan pernah termaafkan.
__ADS_1
"Tentu saja Daddy marah. Bagaimana mungkin Daddy tidak marah saat putri kesayangan Daddy disiksa dan dibuat menderita." geram Alexander.
Evelyn tertegun mendengar jawaban Alex. Entah kenapa dia begitu takut jika saja Alex tidak bisa memaafkan Aaron.
"Dad..."
"Tapi Daddy tau ini tidak sepenuhnya kesalahan Aaron. Dia hanya salah paham akan kejadian di masa lampau. Daddy sangat mengenal mendiang Ayahnya. Lisin, dia adalah teman dekat Daddy. Dia dan istrinya meninggal secara tragis beberapa tahun lalu. Dan sampai sekarang Aaron masih mencari pembunuh yang sebenarnya. Tetapi sangat disayangkan, ada pihak ketiga yang mengkambing hitamkan Daddy, membuat Aaron salah paham." jelas Alexander.
Evelyn terdiam. Dia tidak menyangka akan kebenaran ini. "Berarti Daddy bukan pembunuh orang tua Aaron?" Evelyn memastikan.
Alexander mengangguk, tangannya terbuka lebar menyambut Evelyn. "Syukurlah. Elin tau, Daddy tidak bersalah. Daddy tidak akan mungkin melakukan hal sekotor itu." akhirnya terbukti sudah jika Alex tidak bersalah. Evelyn begitu lega sampai tidak dapat menahan air matanya.
Alex terkekeh, dia dapat merasakan cinta putrinya yang begitu besar untuknya, tetapi cintanya jauh lebih besar. "Putriku, kau masih sangat cengeng ternyata, padahal sudah memiliki suami."
Evelyn melepas pelukannya, "Elin sangat menyayangi Daddy. Elin tidak sanggup melihat Daddy menderita."
"Ya Daddy tau. Tetapi masih ada satu hal yang harus kau pikirkan sayang."
"Apa itu Dad?"
"Tanya pada hatimu, bagaimana perasaanmu pada Aaron. Jika memang kau tidak mencintainya, Aaron bersedia pergi dan melepaskanmu." Evelyn langsung melebarkan matanya, air mata kembali menggenang. "Bukan Aaron tidak ingin berjuang, tetapi Aaron tidak ingin kau semakin menderita." tangan rentannya mengusap air mata yang sudah menggenangi wajah putrinya.
"Kau sudah dewasa bukan? Kau putri Daddy, kau pasti tau mana yang terbaik untuk masa depanmu. Daddy tidak memaksamu Nak, tapi satu hal yang harus kau ketahui, Aaron sangat mencintaimu."
***
Satu minggu kemudian....
Setelah mendengar kebenaran dari kedua orang tuanya, Evelyn semakin dirundung kegundahan. Dia masih bingung dengan hatinya. Apakah sudah ada cinta dalam hatinya untuk Aaron? Evelyn belum menemukan jawabannya.
Sampai hari ini, Aaron belum juga mengabarinya. Pria itu seolah menghilang ditelan bumi. Evelyn sangat ingin menemui pria itu, namun tidak tau harus berkata apa saat bertemu Aaron.
Evelyn memegang kalung permata hitam yang melingkar di lehernya. Dia teringat perkataan Aaron hari itu, bahwa dia memiliki pasangan kalung ini.
__ADS_1
Setelah mencoba mengingat, Evelyn membuka lemarinya. Menyeret sebuah kotak yang lumayan besar dari dalamnya. Kotak itu adalah tempat penyimpanan barang kesayangannya yang tidak rela dia sumbangkan.
Evelyn mengeluarkan satu per satu barang-barang yang tersimpan di dalamnya. Cukup banyak isi di dalamnya, dan Evelyn hampir menyerah. Tetapi Evelyn tidak ingin berhenti. Hingga maniknya menangkap sesuatu yang berkilauan di sudut paling dasar kotak itu.
Evelyn mengambil apa yang dia cari. Maniknya berkaca-kaca setelah membandingkan dengan kalung di lehernya.
Samar-samar memori saat dirinya bertemu dengan seorang anak kecil muncul dalam ingatannya. Saat dirinya selalu membuat sosok anak laki-laki itu marah dan kesal. Dan saat dirinya melamar Aaron kecil beberapa tahun lalu.
Evelyn membekap mulutnya, menahan tangis haru yang tiba-tiba membendung.
"Kak Aaron..."
Evelyn berlari keluar dari kamarnya. Dia ingin bertemu Aaron sekarang juga, kekasih masa kecilnya.
"Aku mencintaimu..."
Evelyn menuruni anak tangga. Di lantai bawah, tidak sengaja menabrak Anastasia.
"Elin ada apa?" Anastasia menjadi panik melihatnya menangis seperti ini.
"Elin ingin menemui Kak Aaron Mom... Elin tidak ingin berpisah dari Kak Aaron..." isak gadis itu.
Anastasia tertegun. "Elin..."
"Elin harus pergi Mom, Elin ingin bertemu Kak Aaron..."
"Tunggu Elin." menahan Evelyn, kemudian memberikan sebuah amplop.
"Apa ini Mom?"
"Bacalah."
Dengan ragu Evelyn menerima amplop itu dan membukanya. "Dari pengadilan agama?" Evelyn tidak mengerti, tangannya bergetar.
__ADS_1
TBC ☘️☘️☘️