Balas Dendam Tuan Muda

Balas Dendam Tuan Muda
Licik


__ADS_3

Evelyn masuk ke dalam kamarnya yang tepat sekali saat Aaron keluar dari walk in closet. Pria itu sudah mengenakan piyama, itu tandanya dia sudah ingin tidur. Mengherankan bagi Evelyn, Aaron tidur secepat ini, mengingat Aaron adalah pria workaholic. Bekerja seharian dengan minim waktu untuk rehat.


Aaron sudah duduk menyandar pada kepala ranjang, dengan mata terus mengikuti gerakan Evelyn. Ketika Evelyn mengambil selimut kecil dari lemari pun Aaron tetap mengintainya. Evelyn tentu merasakan tatapan mata itu, kalau saja berani, Evelyn ingin menutup mata itu. Dirinya selalu dibuat salah tingkah oleh tatapan itu.


"Berhenti menatapku Tuan." Evelyn tidak tahan, akhirnya dia protes.


Alis Aaron terangkat, tersenyum penuh ironi. "Kenapa?" tanpa merasa bersalah sama sekali.


Astaga, apakah sopan menatap orang seperti itu?.


"Bukan apa-apa Tuan. Hanya saja, maksudku aku tidak suka ditatap seperti itu." protesnya.


"Memangnya kenapa?" masih belum sadar.


"Tidak Tuan, maksudku, siapapun akan risih jika ditatap seperti itu, dan aku sendiri juga begitu." berusaha menjelaskan.


"Untuk apa mata diciptakan?" bukannya menjawab, Aaron malah bertanya.


Walau bingung, Evelyn tetap menjawab, "Melihat."


"Mata ini adalah mataku." menunjuk kedua matanya dengan dua jemarinya. "Jadi terserah padaku mau melihat apapun, selama apapun itu." jawabnya telak, membuat gadis itu tidak bisa berkata-kata. Sungguh Aaron sangat menyebalkan malam ini.

__ADS_1


"Aku tau fakta itu Tuan, tapi setidaknya kau harus tau dan tidak sembarangan mengganggu privasi orang lain. Karena orang itu pasti risih diperhatikan seperti yang kau lakukan tadi." Evelyn tidak kehabisan akal.


Aaron tersenyum miring, "Orang lain mungkin tidak suka, tapi dirimu, mau tidak mau, suka tidak suka, kau tidak boleh protes akan apa saja yang kuperbuat padamu." jawabnya santai, seolah-olah Evelyn adalah barang miliknya yang bisa dia permainkan sesuka hatinya.


Mendengar itu, lagi-lagi Evelyn hanya bisa menatap dengan nyalang pria di depannya, tanpa bisa berbuat apa-apa. Selalu saja dirinya lemah dan tak berdaya di bawah kuasanya.


Evelyn menundukkan kepalanya, tidak berniat menyahut pria itu lagi, karena dia tidak ingin mendengar lagi kecaman yang membuatnya sakit hati.


Evelyn memilih berjalan menuju sofa, tapi tunggu, sofanya dimana. Evelyn kebingungan, menelusuri ruangan mencari-cari sofa tempatnya tidur. Tapi nihil, sofanya hilang dan tidak ada di dalam kamar. Evelyn beralih pada Aaron yang sekarang fokus pada ponselnya.


Aaron yang sebenarnya tidak fokus pada gawainya tersenyum tipis, nampaknya dia begitu menikmati kebingungan gadis di tengah ruangan itu.


Aaron melirik arah tangan Evelyn, "Sofa itu sudah rusak, pelayan sudah membuangnya." jawabnya santai tanpa melihat Evelyn.


Kening gadis itu berkerut, bagaimana mungkin sofa yang masih dia pakai sebelum makan malam tadi rusak. "Rusak? Tapi Tuan, sebelum makan malam aku masih mendudukinya, dan tidak ada yang rusak. Tidak mungkin dalam hitungan jam langsung rusak."


Aaron melempar ponselnya di sisi tempat tidur, lalu menatap tidak suka pada Evelyn. "Kalau kau bertanya padaku kenapa sofa itu rusak, kau salah besar. Tanyakan saja pada pelayan. Lagi pula kau yang menggunakannya, harusnya kau yang lebih tau."


"Tapi Tuan, lalu aku akan tidur dimana?" menelusuri seluruh ruangan, barangkali ada tempat yang bisa dia jadikan sebagai alas tidur. Namun yang didapatnya hanyalah karpet bulu yang ada di depan televisi dan tempat tidur kosong yang ada di sebelah Aaron.


Evelyn tau diri, tidak mungkin dia tidur di sebelah Aaron. Dan memilih tidur di karpet bulu itu.

__ADS_1


"Kau mau kemana?" suara Aaron menghentikannya.


"Aku akan tidur Tuan." menunjuk karpet yang membentang cukup lebar itu.


"Kau bodoh atau apa? Bagaimana jika Ibu tau kau tidur di sana? Kau pikir siapa yang akan dimarahi jika Ibu melihatmu tidur di sana?" Cecar Aaron.


"Maksud Tuan?".


"Ck. Kau ini memang bodoh. Setiap tengah malam Ibu selalu datang ke kamar ini."


"Ibu? Datang kemari? Tapi..."


"Sudahlah terserah padamu saja. Kalau kau mau tidur di sana silahkan, aku tidak peduli. Tapi jika sampai Ibu tau, kau yang bertanggungjawab." ketusnya dan langsung merebahkan tubuhnya membelakangi Evelyn. "Sial, kenapa aku lupa menyingkirkan karpet sialan itu." gumamnya tanpa dapat didengar oleh Evelyn.


Evelyn yang mendengar penjelasan Aaron diam, jika Ibu ternyata datang ke kamarnya setiap malam, berarti Ibu tau kalau dia tidur di atas sofa selama ini. Setelah berpikir sekian detik, akhirnya dengan ragu gadis itu memutuskan untuk tidur di atas ranjang.


Padahal dia tidak tau, jika sebenarnya hanya dibodohi oleh Aaron. Memanglah gadis polos, Evelyn sama sekali tidak sadar jika Aaron memiliki niat terselubung.


Aaron menyeringai ketika tempat tidur di sebelahnya bergerak.


TBC

__ADS_1


__ADS_2