Balas Dendam Tuan Muda

Balas Dendam Tuan Muda
Borscht Soup


__ADS_3

Setelah kelasnya selesai Evelyn pulang tanpa mampir di suatu tempat seperti teman-temannya yang lain, untuk sekedar bersantai atau mengobrol. Waktunya tidak cukup untuk melakukan hal itu meskipun dia juga ingin seperti mereka. Tapi Aaron, pria itu selalu mengintainya dimana pun dia berada.


Di dalam mobil Evelyn teringat Mommy Anastasia. Sudah beberapa hari dirinya tidak mengunjungi sang Mommy, karena hukuman yang diberikan Aaron. Evelyn mengambil ponselnya, mencari kontak sang suami yang entah kapan tersimpan di ponsel barunya.


Hanya menatap layar ponselnya menimang-nimang akan menghubungi Aaron. Setelah sekian lama berpikir, Evelyn akhirnya memutuskan untuk menghubungi sang suami.


Pada dering pertama panggilannya sudah dijawab, padahal Evelyn masih bingung harus mengatakan apa.


"Halo." suara dingin Aaron terdengar di seberang sana.


"Halo Tuan."


"Ada apa?"


"Tuan aku...aku..." Evelyn gugup, permintaannya takut ditolak.


"Cepat katakan jangan membuang-buang waktuku!" Kesal Aaron. Pria itu sangat pemarah.


Evelyn menjadi takut mengutarakan keinginannya. Ingin rasanya segera mengakhiri panggilan, tapi dia sangat ingin bertemu sang Mommy.


"Tuan...boleh tidak aku menemui Mommyku?" tanyanya dengan ragu.


Hening sejenak, sampai Aaron kembali bersuara. "Apa kau tidak ingat, sekarang kau sedang menjalani hukumanmu, berani sekali dirimu." Nampaknya Aaron tidak mengizinkannya.


"Tuan..." Evelyn masih memohon.


"Tidak boleh! Jangan membuatku marah!" Langsung saja panggilan berakhir.


Evelyn menatap layar ponselnya, lalu menghela nafasnya. Begitu sulit hanya untuk menemui Mommy. Entah sampai kapan semua ini akan berakhir. Kapan kehidupan normalnya kembali seperti semula. Hidup damai dan bahagia bersama kedua orangtuanya.


Punggungnya tersandar pada jok mobil, meratapi nasibnya yang tiada berujung baik. Evelyn memejamkan matanya, sekedar istirahat sejenak, tetapi malah ketiduran.


Setelah beberapa lama, mobil yang membawa Evelyn berhenti dan Evelyn terjaga saat itu juga. Evelyn menatap luar mobil, keningnya berkerut ketika melihat dimana dia berada saat ini. Senyumnya merekah menghiasi wajah sendunya.


"Pak? " panggilnya kepada supir pribadinya, untuk meminta penjelasan.


"Tuan Aaron memberi perintah pada saya untuk membawa Nona kemari." jelas supir tersebut seolah tau maksud Evelyn.


Evelyn diam, pikirannya dipenuhi pria itu. Evelyn terharu, setidaknya Aaron masih memiliki hati nurani.


"Terima kasih Tuan." batinnya.


Tanpa berlama-lama lagi, Evelyn keluar dari mobil. Berjalan dengan semangat menuju kamar Mommynya.


***


Merasa puas menghabiskan waktu bersama Anastasia, Evelyn memutuskan untuk pulang. Karena bagaimanapun dia sudah menjadi seorang istri, dan tidak baik baginya berlama-lama di luar rumah.


Sampai di rumah Evelyn disambut oleh Chlarent. "Bagaimana keadaan Mommymu Nak?"


"Dia baik Bu."


"Syukurlah. Lain kali kau harus membawa Ibu mengunjungi Mommymu. Ibu sangat ingin bertemu dengannya, wanita yang melahirkan gadis setangguh dirimu." mencubit dagu Evelyn.


"Iya Bu, aku janji akan membawa Ibu menemui Mommy."


"Ibu tunggu hari itu. Nah sekarang ayo temani Ibu di dapur, kita akan membuat sesuatu."


"Membuat apa Bu?"


"Makanan kesukaan Aaron. Kau tertarik?" menelisik Evelyn.


Evelyn menatap Chlarent, sebenarnya sedikit penasaran dengan sosok Aaron. Aaron yang benar-benar membatasi dirinya dan tertutup membuat gadis itu tidak tau apa-apa tentang lelaki itu. Dengan tawaran Chlarent, setidaknya dia tau apa yang Aaron suka.


Evelyn mengangguk pelan, "Aku mau Bu."


"Baiklah, mari kita buat kejutan untuk suamimu."


Walau tidak mengerti apa yang dikatakan Chlarent, Evelyn hanya menurut saja.

__ADS_1


"Kita akan membuat apa Ibu?"


"Kau tau sup borscht?"


"Tentu saja Bu, itu adalah menu andalan Mommy dulu, dan aku sangat menyukainya. Bahkan aku bisa membuatnya."


Evelyn antusias, ketika makanan khas Rusia itu disebut. Dia teringat saat-saat dulu, ketika Anastasia menghidangkan makanan itu.


"Wah kebetulan sekali. Aaron juga sangat menyukainya." Ujar Chlarent, yang terkejut akan fakta tersebut.


"Iya kebetulan sekali." tersenyum.


"Baiklah, kalau begitu mari kita buat sup borscht dengan porsi banyak, karena kau dan Aaron juga menyukainya. Kalian memang berjodoh, makanan kesukaan saja bisa sama seperti itu."


Bukannya tersipu saat Chlarent mengatakan itu, tapi malah sebaliknya. Evelyn murung, karena sangat tidak mungkin dirinya berjodoh dengan Aaron. Tidak mungkin.


"Ibu bisa saja." tersenyum tipis.


"Jangan berkecil hati sayang. Mungkin kau berpikir hal itu tidak mungkin, tapi siapa yang tau di masa depan? Hanya Tuhan yang tau." ujar Chlarent yang mengerti apa yang ada dalam pikiran gadis ini.


"Ibu punya ide, bagaimana kalau makan malam kita kau saja yang buat? Kau bisa memasak bukan?"


Evelyn mengangguk, "Iya Ibu, aku bisa. Dulu Mommy selalu mengajariku."


"Bagus. Kalau begitu makan malam kita, Ibu serahkan padamu?"


"Tapi Bu, bagaimana kalau Tuan Aaron tidak menyukai masakanku?"


"Hei, kenapa kau masih memanggilnya Tuan. Ingat sayang, kau ini istrinya bukan pelayan." Tegurnya yang risih mendengar panggilan Evelyn pada Aaron.


"Maaf Ibu, aku masih belum terbiasa." Padahal tidak, justru Evelyn tidak ingin lancang memanggil Aaron sembarangan.


"Baiklah kali ini Ibu maafkan, mulai sekarang jangan memanggil Aaron seperti itu." dengan nada mengancam. "Satu lagi, tidak usah khawatir Aaron tidak menyukai masakanmu. Aaron bukan pemilih soal makanan." ucapnya menenangkan Evelyn.


Evelyn menurut dan berpikir positif. Dia mulai memasak, sedangkan Chlarent duduk memperhatikan menantunya berkutat di sana dan sesekali ikut membantu.


Menu utama kali ini adalah sup borscht, makanan klasik Rusia yang disukai oleh sepasang suami istri itu. Dengan ajaran yang diajarkan sang Mommy, Evelyn melakukannya dengan sepenuh hati. Sekaligus mengingat ketika dirinya dan Sang Mommy yang sering memasak bersama. Semuanya penuh dengan kenangan.


"Ibu yakin semua ini pasti sangat lezat."


"Tolong cicipi Ibu. Aku takut ini tidak sesuai dengan selera Tuan Aaron."


"Kau ini." Chlarent mengingatkan panggilan Evelyn pada Aaron.


"Maaf."


"Sudahlah, Ibu tidak akan mencicipinya sekarang, karena Ibu ingin menjadi kejutan malam itu. Tenang saja Ibu yakin Aaron akan menyukainya."


"Tapi Bu..."


"Sudah, jangan banyak bicara. Lebih baik bersiap-siaplah, Aaron akan pulang sebentar lagi. Kita akan makan malam bersama."


"Tu.. tidak maksudku, Aaron akan pulang cepat malam ini? Bukankah dia sedang sibuk?" Heran Evelyn, karena setaunya Aaron sedang sibuk akhir-akhir ini.


"Ibu menyuruhnya pulang cepat malam ini. Naiklah ke kamarmu dan cepat siap-siap."


"Baiklah Bu." Evelyn menurut dan pergi ke kamarnya.



Sebelum jam makan malam berakhir, Evelyn sudah siap, dan duduk tenang di meja makan bersama Chlarent. Sudah sepuluh menit mereka menunggu Aaron.


"Kenapa Aaron lama sekali?"


"Mungkin masih sibuk Bu."


"Mungkin saja, tapi dia sudah berjanji akan pulang cepat malam ini."


"Kita tunggu sebentar lagi ya." ujar Chlarent.

__ADS_1


"Iya Ibu."


"Tidak usah menunggu, aku sudah di sini." Ujar Aaron yang baru saja sampai di ruang makan.


"Akhirnya kau pulang Nak."


"Demi Ibu, semua akan kulakukan."


Duduk di sisi kanan Ibu dan berhadapan dengan Evelyn. Aaron melirik Evelyn sekilas, yang masih saja takut bertatapan dengannya. Apalagi mengingat tadi pagi.


"Baiklah karena semua sudah di sini, ayo kita mulai makan malam." menghidangkan makanan kepada putra dan menantunya. Sudah menjadi kebiasaan Chlarent melayani anak-anaknya itu.


Aaron yang memang sudah kelaparan mulai melahap makan malamnya.


"Ibu kau memasak ini?" menunjuk mangkuk berisi sup kesukaannya.



Ibu tersenyum tipis, dan menaikkan kedua alisnya. Aaron salah paham, mengira sup itu adalah buatan Chlarent.


"Terima kasih Bu, sudah lama aku tidak memakannya." mulai memasukkan sesendok sup itu ke dalam mulutnya.


"Bagaimana rasanya?" Chlarent penasaran.


Aaron terdiam sejenak, menunggu sup merah itu meresap cecapan lidahnya. "Ibu yang memasaknya?"


"Kenapa? Apakah rasanya tidak enak?" Chlarent cemas, dia menyesal tidak mencicipinya terlebih dahulu.


Evelyn yang melihat raut wajah Aaron pun cemas, dia yakin makanan itu tidak sesuai dengan selera Aaron.


"Rasanya enak, hanya saja..."


"Kenapa? Ada apa?" cecar Chlarent.


"Rasanya sangat mirip dengan buatan Ibuku."


Mendengar itu, Chlarent melihat Evelyn yang juga terpaku. Senyum bahagia tercetak di bibirnya. Dia bangga pada menantunya itu.


"Kalian memang berjodoh." batinnya.


"Siapa yang membuatnya Bu?"


Aaron begitu penasaran siapa yang membuat sup ini. Padahal pria itu tidak peduli siapa yang memasak bahkan selezat apa pun makanan itu. Tapi kali ini, Aaron sangat ingin tau, karena ini mirip sekali dengan buatan Ibunya.


Chlarent melirik Evelyn, dan tiba-tiba saja Evelyn menggelengkan kepalanya samar. Dengan maksud agar Chlarent tidak memberitahukannya. Chlarent bingung kenapa Evelyn tidak mau Aaron mengetahuinya.


"Kau tidak perlu tau siapa yang membuatnya."


"Tapi aku ingin tau Bu, aku..."


"Kalau kau ingin sup ini setiap hari, tenang saja, keinginanmu akan terwujud." Potong Chlarent.


Aaron bungkam, karena memang itu yang dia inginkan. Tapi selain itu dia juga ingin berterima kasih kepada orang itu, karena bisa kembali merasakan masakan buatan mendiang Ibunya setelah dua puluh tahun lamanya.


Setelah makan malam berakhir, Aaron masuk ke kamar. Sedangkan Evelyn di ruang keluarga mengobrolkan banyak hal.


"Kenapa kau tidak mau Aaron tau kalau kau yang membuat sup itu?" cecar Chlarent.


"Sebenarnya tidak ada alasan yang pasti Bu. Hanya saja, aku tidak ingin dia tau."


Chlarent benar-benar tidak habis pikir dengan sifat menantunya ini. Wanita lain berlomba-lomba menunjukkan kemampuan dan kelebihannya untuk menarik perhatian Aaron. Sedangkan Evelyn, sangat besar peluangnya agar Aaron membuka hati untuknya, tapi malah disia-siakan.


Ibu menghela nafasnya dalam. "Ibu hargai keputusanmu. Tapi bukankah lebih baik kalau Aaron tau? Maka dengan itu, sikap Aaron bisa berubah padamu Nak." Ibu masih membujuk.


"Tidak Bu. Aku hanya ingin Aaron berubah dengan sendirinya, bukan karena kelebihan yang kumiliki." jawab Evelyn yang membuat Chlarent tidak bisa menjawab lagi.


"Baiklah Nak, kalau memang itu maumu, Ibu hargai keputusanmu. Ya sudah, pergilah ke kamarmu, beristirahatlah. Kau sudah lelah satu hari ini."


"Baik Bu. Selamat malam."

__ADS_1


"Selamat malam. Semoga mimpi indah."


Evelyn pergi ke kamarnya, yang sekarang juga dihuni oleh Aaron.


__ADS_2