
Ian dan mamah Ros langsung masuk kekamar rawat inap nya Nadia, di sana ada dr Raisa yang kebetulan jam kerja nya sudah selasai untuk hari jadinya bisa menjaga Nadia yang masih belum sadar kan diri.
Mamah Ros menangis melihat sang putri kesayangan nya yang masih belum sadar. Di Usap nya kening sang anak penuh dengan kasih sayang. "Sayang kenapa kamu sampai bisa seperti ini sih?, mamah harus ngomong apa nanti dengan papah kamu nak?" ucap mamah Ros.
"mamah jangan nangis terus ya, soal papah nanti kita bicara kan baik baik dengan papah kalo Nadia sudah pulih dan sudah di bolehkan pulang" ucap Ian merangkul pundak sang mama.
"Ca makasih ya loe sudah mau jagain Nadia, maaf kalo sudah merepotkan loe" ucap Ian.
"sama sama , santai aja Ian, lagian gua juga memang sudah jam nya pulang jadi nya bisa jagain Nadia", ucap Dr Raisa tersenyum.
"eemmmhhhh!!!" Nadia sudah mulai sadar, mata nya mulai terbuka. Sejenak Nadia memperhatikan tempat di sekitar nya.
"Nadia dimana ini? di rumah sakit kah ?" ucap Nadia yang menyadari dia berada di rumah sakit.
"iya loe di rumah sakit , tadi loe pingsan " jelas Ian.
Pandangan Nadia tertuju tepat kemamah Ros. "mamah" lirih Nadia.
"Nadia jelaskan sama mamah! apa yang sudah terjadi dengan kamu?" ucap mamah Ros dengan ekspresi muka yang dingin. Air mata nya pun jatuh lagi tuk kesekian kali membasahi pipi yang sudah mulai keriput.
*DEG
Jantung Nadia berdetak tak beraturan, wajah nya yang pucat makin tambah pucat. "apa mamah sudah tau" batin Nadia.
"Nadia jawab mamah! kenapa kamu jadi seperti ini, kenapa kamu bikin mamah, papah dan kaka kamu kecewa?" ucap mamah Ros mecengkram tangan Nadia yang tidak terpasang infus dengan erat dan kuat, karna sangking emosi dan kesal sampai ia tidak sadar cengkraman nya itu membuat Nadia merasakan sakit karna begitu sangat kuat dan keadaan Nadia masih lemah.
"mamah benar benar kecewa, bagaimana nanti kalo papah kamu mengetahui kalo kamu hamil?" ucap mamah Ros dengan kecewa sekaligus geram namun ia tahan, karna sudah terlanjur marah pun percuma pikir mamah Ros. Sebenar nya ingin rasa nya mamah Ros memukul putri nya itu.
Ian melihat mamah nya yang mulai emosi, berjalan menghampiri mama nya. "mamah sabar!" Ian mendekat ke mamah Ros, mengajak mamah Ros duduk.
__ADS_1
Nadia menangis, air mata nya begitu tak terbendung lagi, hati nya begitu hancur mendengar tangis pilu mamah nya. Ia merutuki kebodohan nya yang tidak bisa menjaga harga diri dan nama baik keluarga nya.
"m-maafin Nad-Nadia mah" ucap Nadia disela tangis nya.
"Nadia sudah bikin semua nya kecewa, Nadia salah, Nadia sangat bodoh" ucap Nadia lagi.
"Semua salah Nadia mah, maafin Nadia mah sudah jadi anak yang merusak nama baik keluarga" ucap Nadia frustasi ,Nadia menangis dan memukul memukul perutnya sendiri.
Dr Raisa dan Ian yang melihat Nadia seperti berjalan mendekat ke Nadia mencoba menenangkan Nadia
"hey Nad, gak boleh seperti ini! Ingat di dalam perut kamu itu sudah ada nyawa yang meski kamu jaga" dr Raisa mencoba meraih tangan Nadia, mengusap ngusap kepala Nadia memberi ketenangan.
"Nadia gak mau hidup lagi, Nadia sudah jadi anak durhaka bikin mamah, papah dan kaka kecewa dan mencoreng nama baik keluarga" Nadia masih mencoba memukul diri nya namun tangan nya sudah di tahan dr Raisa.
"Ian pegangin tangan Nadia ya!" kemudian Dr Raisa memasukan cairan kedalam suntikan dan menyuntikan cairan tadi keinfus nya Nadia, tidak lama Nadia pun tenang dan tertidur.
Kebetulan hari itu papah Leman keluar kota untuk beberapa hari karna urusan bisnis nya, jadi papah Leman hanya di kabari lewat telpon kalo Nadia sakit masuk rumah sakit, namun tidak dengan kabar kehamilan Nadia yang masih di sembunyikan dari papah Leman.
****
Setelah beberapa hari di rawat di rumah sakit akhir nya Nadia di bolehkan dokter pulang kerumah. Nadia dan mamah Ros di jemput Ian dan papah Lemah di rumah sakit dan pulang kerumah mereka.
Kini mobil yang di tumpangi Nadia dan keluarga sudah sampai di depan rumah. Mamah Ros turun dari mobil dengan muka murung, dan itu tidak luput dari pandangan suami nya. Papah Leman ingin bertanya kepada sang istri namun di urungkan nya.
"hati hati jalan nya Nad" ucap mamah Ros, meski kecewa tapi masih memberi perhatian dan kasih sayang dengan anak nya. Nama nya kasih sayang seorang ibu tak kan hilang dan luntur sepanjang masa. Sebenar nya ia merasa iba kepada sang anak karna mamah Ros sudah mengetaui semua cerita tentang Nadia dan Raka dari anak nya Ian. Ian menceritakan kalo Raka juga sudah tidak ada di Indonesia dan tidak tau pasti keberadaan Raka. Tapi Ian tidak mencerita kan perlakuan daddy nya Raka yang menghina Ian dan Nadia.
"sayang langsung istrahat kekamar ya, sini biar mamah temanin" ucap mamah Ros menggandeng tangan Nadia, ia takut kejadian Nadia yang kemarin jatuh di tangga.
Kini hanya ada Ian dan papah Leman duduk di kursi di ruang tengah yang biasa nya di guna kan Nadia dan keluarga untuk bersantai dan nonton tv.
__ADS_1
"bagaimana pah urusan proyek yang kemarin?" tanya Ian.
"ya seseperti yang kita harapkan client kita yang bernama Tuan Baskoro itu menyukai prestansi dari perusahaan kita dan menyetujui kerja sama dengan perusahaan kita" senyum itu terbentuk di bibir yang di tumbuhi kumis itu.
"syukur lah jadi tidak sia sia papah jauh jauh untuk keluar kota" ucap Ian.
"hhmmm" papah Leman mengangguk.
"mmmm pah, sebenar nya ada yang ingin Ian bicarakan dengan papah" ucap Ian gugup.
"katakan apa yang ingin kamu katakan!" ucap papah Leman dengan santai karna tidak mengetahui masalah nya.
"m-mmmmm" sekita Ian kehilangan kata kata nya sambil menggaruk garuk kepala nya yang tidak gatal.
*********
π JANGAN LUPA KASIH LIKE, VOTE, KOMEN NYA YA GUYSπ
ππYANG SUDAH LIKE, VOTE,KOMEN NYA MAKASIH BANYAK πππ
ππSALAM CINTA, SAYANG , DAMAI DARI AUTHORππ
__ADS_1