Beautiful Sin

Beautiful Sin
apartamen dr Raisa


__ADS_3

"Nadia!" Teriak Ian menghampiri sang adik.


"Nadia tunggu kaka!" Ian berlari keNadia.


Nadia berhenti menunggu kaka nya Ian, mata nya sudah sembab terlalu lama menangis.


"A-ada apa ka?" Tanya Nadia ketika Ian sudah di dekat nya.


"Kamu tunggu sini, kaka ambil mobil!" Tidak mau mendengarkan jawaban adik nya , Ian berlari menuju mobil nya.


"Ayo masuk!" Pinta Ian ketika mobil yang di kemudikan nya sudah di samping Nadia.


Nadia yang bingung harus berbuat apa, menurut masuk kemobil kaka nya.


"Kaka nanti kaka di marahin sama papah" Nadia khawatir kaka nya nanti jadi sasaran emosi papah nya.


"Biarin, gua gak bisa liat lo sendirian keluar dari rumah tanpa tujuan, gua gak mau elo.kenapa kenapa" jelas Ian. "Urusan papah biar nanti gua yang hadapin" tambah Ian lagi.


"Hhhmmm" Nadia mengangguk, di perjalanan hanya suara isak tangis Nadia yang terdengar, Nadia maupun Ian tidak ada yang bicara, mereka sibuk dengan pikiran mereka masing masing.


Sempat Nadia berpikir untuk keapartemen nya Raka yang di beli Raka tanpa sepengetauan orang tua Raka, namun di urungkan nya. Nadia takut nanti nya akan menjadi masalah lagi kalo nanti orang tua Raka tau.


Lambat laun pasti nanti apartemen yang di beli Raka juga akan di ketaui daddy nya Raka, pikir Nadia yang mengingat daddy nya Raka adalah orang yang sangat kaya.


Ian mengambil handphone nya menelpon seseorang. "Hallo loe dimana?" Ketika telpon Ian sudah tersambung.


"Gua lagi di apartemen gua" balas orang itu.


Ian menepi kan mobil nya kepinggir jalan sebentar. "Mmm Ca gua mau ngomong penting sekalian mau minta tolong lagi sama loe, gua ketempat loe sekarang" ucap Ian.


"Mau ngomongin dan minta tolong apa Ian? Ya udah mending loe kesini biar enak ngomong nya!" Ucap Dr Raisa orang yang di telpon Ian.


"Ok, makasih Ca!" Ian mematikan telpon nya.

__ADS_1


"Kita ketempat dr Raisa dulu" ucap Ian dengan Nadia, dari dulu memang dr Raisa lah tempat Ian buat bercerita segala sesuatu mau itu senang ataupun duka, begitu juga dengan dr Raisa yang merasa nyaman berbagi cerita dengan Ian.


Ian bingung mau membawa kemana Nadia, saat ini tujuan dan pikiran nya hanyalah dr Raisa, Ian ingin mencarikan tempat tinggal untuk Nadia, tapi saat ini Ian butuh menjernihkan pikiran nya. Tidak mungkin kan membawa Nadia keliling untuk mencarikan tempat tinggal buat Nadia dengan keadaan Nadia yang masih lemah baru keluar dari rumah sakit.


****


Kini Ian dan Nadia sudah di dalam apartemen nya dr Raisa. Ian, Nadia dan dr Raisa duduk di kursi tamu di apartemen nya dr Raisa.


"Di minum dulu !" Titah dr Raisa dengan Ian dan Nadia yang diam namun air mata nya tidak henti henti nya jatuh membasahi pipi nya.


"Makasih Ca" Ian mengambil minuman dingin di meja yang di buat dr Raisa.


"Ok sekarang loe bisa ceritakan masalah lo kegua!". Ucap dr Raisa yang sudah bisa menebak terjadi suatu masalah dengan Nadia , karna dr Raisa melihat Nadia yang dari tadi diam hanya menundukan kepala nya dengan tubuh bergetar dan isak tangis nya yang tertahan.


Ian menceritakan semua masalah yang terjadi hari ini dirumah nya, tidak ada yang di tutup tutupin Ian, karna Ian sangat percaya dengan dr Raisa.


"Jadi gua minta tolong nitip Nadia dulu bentar disini sementara gua nyari tempat tinggal buat Nadia" ucap Ian dengan dr Raisa. "Gua takut kalo bawa Nadia takut dia kenapa kenapa, dia baru keluar dari rumah sakit" tambah Ian lagi.


"Ngapain loe repot repot nyari tempat tinggal buat Nadia, Nadia bisa tinggal sama gua sampai kapan pun" ucap Dr Raisa.


"Gua gak ngerasa di repotin, coba loe pikir kalo Nadia tinggal sendirian nanti, apa loe gak mikir kalo sewaktu waktu Nadia nanti kenapa kenapa atau misalkan dia sakit tapi dia disana hanya sendiriaan, kalo disini ada gua yang jagain Nadia" ucap Dr Raisa panjang lebar, ia tidak merasa sedikit pun di repotkan, malah ia merasa kasian dengan Nadia.


"Nadia lebih aman bersama gua, loe gak usah repot repot nyari tempat tinggal buat Nadia, biar Nadia sama gua sekalian gua bisa pantau tumbuh kembang janin yang ada di dalam kandungan nya Nadia" ucap dr Raisa lagi sambil memandangi Nadia yang dari tadi hanya menunduk.


"Sekarang Nadia biar istrahat dulu dikamar yah" dr Raisa mendekati Nadia membelai pucuk kepala Nadia dengan lembut. "Nadia bisa tidur di kamar satu nya kebetulan apartemen kaka kamar nya ada dua, sekarang mari ikut kaka!" Dr Raisa menarik tangan Nadia yang begetar dan terasa sangat dingin.


"Ini kamar kamu, sekarang kamu istrahat bentar, jangan sungkan sungkan sama kaka ya, anggap aja kaka kamu sendiri" ucap dr Raisa lembut.


"Hhhmmm .." Nadia mengangguk. Dr Raisa tersenyum lembut kepada Nadia. "Ka dokter, terimakasih" ucap Nadia dengan suara yang hampir tidak terdengar, ntah hilang kemana suara Nadia karna sudah terlalu lama menangis


"Sama-sama, Nadia istrahat disini, Kaka tinggal bentar keluar"  ucap dr Raisa kemudian menutup pintu kamar Nadia dan berjalan menuju Ian yang duduk dengan wajah yang terlihat begitu sedih.


"Makasih Ca, tapi apa loe benar benar tidak apa apa Nadia disini" ucap Ian setelah dr Raisa duduk di samping nya.

__ADS_1


"Gua gak ngerasa di repotin, Nadia udah gua anggap kaya adik gua sendiri" jelas dr Raisa mengulas senyuman di wajah nya.


"Loe gak liat keadaan Nadia sekarang begitu terpukul, saat ini Nadia butuh suport dari orang sekitar nya, gua liat dari tadi Nadia hanya diam dan menunduk, gua takut kalo Nadia tinggal sendirian Nadia melakukan hal hal yang membahayakan diri kan nya, gua khawatir Nadia nanti jadi despresi" jelas dr Raisa panjang lebar.


Ian nampak diam ia mencerna omongan nya dr Raisa. "Makasih ya Ca, gua bodoh banget sih gak sampai mikir kesitu" Ian merutuki diri nya sendiri.


"Sama sama, Nadia pasti akan lebih aman sama gua disini, loe gak usah khawtir"


"Benaran gak ngerepotin loe?" Tanya Ian memastikan.


"Mmmmm..! Loe bisa transfer kerekening gua tiap bulan kok anggap saja loe bayar sewa tempat sama perawat" kelakar dr Raisa.


"Ok setuju" ucap Ian mengambil hp yang ada di saku nya kemudian ia transfer sejumlah uang, tidak lama hp dr Raisa masuk sebuah notifasi dari bank.


"Gila, loe serius, gua kan tadi cuma bercanda" dr Raisa menatap nominal tranferan Ian layar hp nya.


"Maaf gua transfer segitu dulu, siapa tau ntar Nadia membutuhkan sesuatu, seperti susu ibu hamil atau apa, nanti gua transfer lagi di awal bulan" ucap Ian tulus.


"G-gak., gak gua gak mau terima ini, tadi sumpah gua cuman bercanda, gua ihlas tulus benar benar ihlas bantuin loe sama Nadia." Tolak dr Raisa kemudian metransfer balik ke rekening Ian.


"Semua kebutuhan Nadia loe bisa beli sendiri dan antar kesini" ucap dr Raisa.


"Dasar!" Ian meacak acak rambut dr Raisa, sudah kebiasaan Ian mengacak acak rambut dr Raisa saat Ian merasa gemas dengan tingkah laku dr Raisa.


"Ian suka banget deh ngerusakin rambut gua" gerutu dr Raisa kesal.


"Ca sekali lagi makasih ya, gua benar benar beterimakasih, hanya elo yang benar benar care dengan gua, gua merasa sangat beruntung punya sahabat kaya loe" ucap Ian tulus sembari menggenggam tangan dr Raisa.


Dr Raisa terpaku dengan Ian yang menggenggam tangan nya dan menatap dengan tatapan yang tidak seperti biasa yang menurut dr Raisa tatapan Ian sulit di artikan oleh dr Raisa.


Detak jantung dr Raisa berdetak tidak beraturan, padahal ini bukan kali pertama Ian menggenggam tangan nya, namun kali ini kenapa jantung nya berdetak lebih kencang saat Ian menggenggam dan menatap nya seperti itu. "Apa kah kesehatan jantung gua bermasalah?" Pikir dr Raisa ia bergumam dalam hati.


"Ehem! " dr Raisa berdehem menghilangkan kegugupan nya, ia menarik tangan nya di genggaman Ian.

__ADS_1


"Sama sama Ian, mending loe keminimarket beliin susu hamil buat Nadia, gua mau masak masak dulu buat kita makan, kebetulan hari ini gua libur gak.kerja" ucap dr Raisa lagi, ia tidak mau ketauan Ian kalo diri nya saat ini gugup dan detak jantung nya berdetak tak karuan.


__ADS_2