
"Tuan?" ucap gadis pelayan counter handphone itu tidak percaya dengan apa yang dia dengar sebelumnya.
"Iya, ada apa?" tanya Ryan bingung.
"A-apakah Tuan ini benar akan membeli ketiganya sekaligus?" ucap gadis pelayan itu bertanya memastikan.
"Tentu! Apa ada masalah?" tanya Ryan balik.
"Itu.. Tidak Tuan! Tentu saja tidak!" ucap gadis pelayan itu cepat.
"Jadi berapa jumlah total harganya?" tanya Ryan yang tidak ingin terlalu lama dan basa-basi.
"Untuk i-Phone 14 Pro-.."
"Langsung saja jumlah totalnya!" ucap Ryan memotong ucapan sang gadis yang membuatnya sedikit cemberut untuk beberapa detik lalu kembali tersenyum lagi.
"88 juta!" jawab gadis pelayan itu sedikit ketus.
Ryan hanya tersenyum melihat perubahan ekspresi sang gadis pelayan kemudian dia merogoh saku celananya seolah dia sedang mengambil uang padahal dia mengeluarkannya dari Brangkas sistemnya dengan jumlah 88 juta seratus ribu.
"Ini 88 juta! Dan ini 100 ribu untuk kartu perdananya sekalian! Silakan dihitung dulu!" ucap Ryan santai sambil meletakkan uang segepok itu didepan sang gadis pelayan yang langsung melotot.
Bagaimana tidak? Sebelumnya dia sempat melihat bahwa Ryan datang dan dicelananya tidak terlihat ada tanda dia membawa uang sebanyak itu. Bukankan ini terlihat srperti pesulap dan ajaib.
"Baik! Langsung saja hitung dan tulis notanya!" ujar Ryan tidak mau basa-basi lagi.
"B-baik Tuan!" ucap gadis pelayan itu terbata karena gugup.
Dengan tergesa-gesa dia meminta dua temannya yang lain untuk menghitung uang segepok itu karena tidak ingin mengecewakan pelanggan yang memberikan keuntungan besar didepannya.
Setelah tiga menit, ketiga gadis pelayan cantik dan seksi itu akhirnya selesai menghitung dan langsung membuat nota tanda pembelian.
"Ini Tuan! Sudah selesai! Dan jumlah uangnya pas! Ini nota, kartu perdana, dan uang kembaliannya 50 ribu!" ucap gadis tersebut.
__ADS_1
"Dan semua Hp yang Tuan beli ini memiliki garansi 6 bulan! Jika ada masalah dalam masa itu pada ketiga Hp ini, Tuan bisa mengembalikannya kepada kami!" lanjut gadis itu.
"Baik!" jawab Ryan singkat.
Setelah mengepaknya dengan paper bag, gadis pelayan itu memberikannya kepada Ryan.
"Terima kasih Tuan! Maaf atas sikap saya sebelumnya!" ucap gadis itu dengan tersenyum.
"Lupakan saja! Terima kasih juga! Senang berbisnis dengan anda!" jawab Ryan lalu pergi meninggalkan counter handphone itu.
Ryan tidak langsung pergi meninggalkan counter handphone itu. Dia terlebih dahulu membuka satu kotak Hp i-Phone 14 Pro Max dan memasang kartu perdana baru miliknya didepan counter.
Dia langsung mendaftarkannya dan mencari villa atau rumah mewah yang sedang dijual di internet. Tidak lupa dia mendownload aplikasi banking terlebih dahulu dan menautkannya dengan rekening miliknya untuk mempermudah transaksinya nanti. Setelah itu, dia baru tarik gas pergi meninggalkan counter hanphone karena tidak enak dilihat oleh para gadis pelayan sebelumnya.
"Sungguh pria yang kaya dan aneh!" ucap gadis cantik yang melayani Ryan sebelumnya sambil menggelengkan kepala.
"Tapi dia juga sangat tampan!" ucap temannya.
"Benar! Sudah tampan, motornya bagus, tajir pula! Sungguh benar-benar pria idaman!" tambah satu gadis lainnya.
***
Ditempat lain atau lebih tempatnya di rumah mewah milik keluarga Brian, Dodi atau ayah dari Brian sedang mengamuk membanting beberapa perkakas rumah karena suatu hal yang direncanakannya telah gagal.
Tentu saja yang di amukkan oleh Dodi adalah perihal tentang kegagalan geng motor tengkorak hitam untuk membunuh Ryan. Terlebih dari kabar yang didengarnya adalah bahwa geng motor tengkorak hitam yang dipimpin oleh Rio itu malah justru membelot dan menjadi bawahan daripada musuh anaknya.
Padahal Dodi telah mengeluarkan banyak uang untuk membayar mereka sebelum memerintahkan untuk menghabisi Ryan. Dia tidak bisa menuntut mereka. Yang tidak bisa hanyalah marah, marah dan marah sambil terus membanting beberapa barang berharga dirumahnya.
"Keparat si Rio! Dia telah berani membohongiku! Bahkan pergi begitu saja setelah membawa uangku meski tugas yang kuberikan telah gagal! Sial! Sial! Sialan!" teriak Dodi sangat murka.
"Papa! Hentikan papa!" teriak istri Dodi atau ibu dari Brian yang bernama Lina.
"Tidak! Aku masih tidak terima dengan semua ini! Bocah itu telah menyakiti dan membuat cacat anak kita! Lalu malah orang-orang yang kuutus justru berkhianat kepadaku. Bangs*t sialan!" ucap Dodi yang hampir tidak bisa mengontrol emosinya.
__ADS_1
"Iya Pa! Mama mengerti! Tapi Papa jangan bertindak seperti ini! Nanti rumah kita bisa hancur! Lebih baik Papa hubungi teman-teman Papa yang mafia itu! Yang lebih bisa dipercaya untuk membalaskan dendam anak kita dan geng motor brengs*k itu!" ujar Lina sambil berlinang air mata.
"Kamu benar Ma! Kamu benar! Aku harus menghubungi mereka! Aku harus membalaskan dendam atas rasa sakit yang dirasakan oleh anak kita satu-satunya itu berkali-kali lipat!" ujar Dodi yang menghentikan aktifitasnya menghancurkan barang-barang dirumahnya.
Saat setelah Dodi mengatakan itu handphone yang ada di sakunya tiba-tiba berbunyi tanda ada seseorang yang menelpon.
"Siapa Pa?" tanya Lina.
"Asisten!" jawab Dodi singkat.
"Baik! Papa angkatlah terlebih dahulu! Pasti ada hal penting yang ingin dia sampaikan sampai-sampai menelfon sore-sore seperti ini!" ujar Lina.
"Baik!" kata Dodi mengengguk.
Dia pun mengangkat telepon dari asistennya itu. Setelah beberapa menit berbicara kepada sang asisten, Dodi menutup teleponnya.
"Ada apa Pa?" tanya Lina.
"Itu.. Villa milik kita yang ada dipuncak Gunung Runju ditawar oleh seseorang dengan harga 30 milyar! Bagaimana menurut Mama?" jawab Dodi lalu meminta pendapat istrinya.
"Villa itu memang sangat bagus dan indah, tapi lokasinya begitu jauh dengan rumah kita ini. Jadi tidak apa-apa jika Papa menjualnya kepada orang itu!" jawab Lina setuju.
"Terlebih pasti papa akan membutuhkan banyak uang nanti setelah menghubungi teman-teman Papa yang mafia itu! Uang dari hasil penjualan itu bisa Papa gunakan untuk membayar mereka!" lanjut Lina memberikan pendapatnya.
"Baiklah.. Papa akan menghubungi asisten Papa lagi dan menyetujuinya!" ucap Dodi lalu kembali menelfon sang asisten untuk menyampaikan hasil rundingannya dengan sang istri.
***
Sementara itu di tempat lain, disebuah restoran yang cukup mewah Ryan sedang menikmati makan sorenya dengan sesekali mengutak-atik handphone barunya. Beberapa kali Ryan terlihat mengela nafas panjangnya.
"Haiih.. Villa dipuncak Gunung Runju kah? Itu villa sangat bagus dan idaman dari banyak orang!" ucap Ryan sambil tersenyum.
Dia saat ini sudah memberikan penawaran kepada pemilik atau wakil dari pemilik villa itu sebesar 30 milyar. Dia sedang menunggu konfirmasi selanjutnya dari orang yang dihubungi sebelumnya untuk kepastian harga villa yang ditawarkan.
__ADS_1
Yang tidak Ryan tahu adalah ternyata villa itu adalah villa milik keluarga dari Brian atau ayahnya, Dodi. Sungguh sangat kebetulan dan tidak disangka-sangka!