
Ryan benar-benar geregetan dalam hatinya. Dia ingin sekali membenturkan kepalanya sendiri dengan kuat-kuat karena saking geregetnya dia dengan Lintang.
"Baiklah-baiklah.. Kamu bisa mengendarai mobil bukan? Kamu sama ibu naik mobil dan biarkan aku dan Parman naik motor!" ucap Ryan. Pada akhirnya dia harus mengalah dan mengelah lagi.
"Nah.. Itu baru ide yang cocok! Tentu saja aku bisa dong mengemudi mobilmu ini! Ayahku juga ada mobil yang agak mirip seperti punyamu!" ucap Lintang dengan senang. Dia langsung meminta kunci mobil lalu mengajak ibu Ryan untuk masuk kedalamnya.
Ryan yang melihat itu hanya menggelengkan kepala sambil menghela nafasnya pelan. Dia benar-benar dibuat repot oleh gadis satu itu. Lalu bagaimana sebelumnya ibunya sampai menceramahinya perihal ucapannya yang salah? Sungguh Ryan tidak berdaya!
Ryan meminta kunci motor milik Parman. Dia berniat ingin yang menyetir. Awalnya Parman ingin menolak Tapi karena desakan dari Sang Guru Besar maka dia akhirnya menurut.
"Ayok berangkat sekarang! Ikuti aku dari belakang!" ujar Ryan lalu naik motor ninja milik Parman dan menghidupkannya.
[Cih! Dari dulu yang namanya mengikuti pastilah dari belakang! Dasar Tuan yang aneh!] ujar Sistem tiba-tiba.
"Diam kamu Sistem sialan! Tidak tahu orang lagi kesal apa?" ujar Ryan melalui fikirannya lalu menarik gas motornya setelah Parman naik.
[Hihihi.. Dasar emosian! Awas lo.. Cepat kelihatan tua nanti! Hehehe..] kata Sistem menggoda Ryan.
"Bodo amat!" ujar Ryan menyempatkan diri menjawab ujaran Sistem.
[Hahaha..]
Sistem hanya tertawa ngakak karena hal itu, sementara Ryan sudah mengajukan motornya yang diikuti oleh rombongan ibunya dari belakang. Saat ini Ryan benar-benar dalam hati yang sangat kesal. Pertama kesal karena Lintang yang terus membuatnya repot dan keras kepala. Dan yang kedua adalah kesal karena selalu digoda oleh Sistem sialannya.
Ryan menaiki motornya dengan tidak terburu-buru alias santai. Dia tidak ingin ibunya tahu bahwa dia suka menaiki kendaraan dengan cara ngebut-ngebutan. Itu kan nanti Ryan menghindari omelan dari sang ibu tentunya.
Butuh waktu 2 jam bagi Ryan dan rombongannya untuk sampai di Villa Gunung Emas. Mereka tiba ditempat itu tepat pukul 4 sore. Pak Rangga atau si Manager yang mengurusi Villa milik Ryan menyambut mereka di halaman Villa dengan penuh senyum ramah.
"Selamat datang kembali Tuan Ryan!" ucap Pak Rangga sambil tersenyum.
__ADS_1
"Ya, selamat datang Pak Rangga! Bagaimana kabarnya? Anda baik bukan?" ucap Ryan bersalaman dengan Manajer Villa miliknya.
"Tentu saja baik Tuan Ryan! Seperti yang Tuan Ryan lihat! Tidak ada masalah apapun!" ujar Pak Rangga.
Sebenarnya Pak Rangga merasakan sedikit aneh karena ditanya kabar oleh Ryan. Padahal jelas-jelas tadi pagi dia masih bertemu dengan Ryan dan dalam keadaan yang sama seperti sekarang ini.
Namun karena menghormati dari pemilik Villa, maka Pak Rangga mau tidak mau harus menjawabnya dengan ramah dan santai seperti biasanya.
"Aku senang kalau begitu. Oiya Pak Rangga! Perkenalkan! Ini adalah ibuku, namanya Lastri! Dan ini adalah pengawal dari ibuku namanya Parman dan Suprapto! Serta yang terakhir temanku.. Dia Lintang Aprilia!" ujar Ryan memperkenalkan semua orang yang sedang melongo menatap Villa yang sangat besar dan indah itu.
Pak Rangga ingin memberikan salam kepada mereka semua. Namun melihat ekspresi dari mereka yang masih saja membuka mulutnya lebar-lebar membuat Pak Rangga tidak jadi untuk mengucapkan salamnya dan hanya tersenyum dengan kecut melihat ekspresi kampungan semua orang itu.
Melihat Pak Rangga tidak jadi mengucapkan salam dan malah tersenyum kecut, Ryan pun ikut melihat kearah semua orang yang dibawanya.
"Oi..Oi.. Kalian ini kenapa? Mengapa pada melongo seperti itu? Awas hati-hati loh.. Ada lalat masuk!" ujar Ryan mengejutkan semua orang.
"Nak.. Apa benar ini rumah kita? Apa kamu tidak salah alamat? Ini Villa Gunung Run-.." ucapan Lastri dipotong oleh Ryan.
"Apa! K-kamu tidak bohong kan nak?" tanya Lastri.
"Tidak nyonya besar! Villa ini memang milik Tuan Ryan! Beliau membelinya dari pemilik sebelumnya yang sengaja melelang Villanya karena memang sudah lama tidak pernah didatangi!" giliran Pak Rangga yang menjawabnya.
"Apaa! Benarkah? Lalu kamu dapat duit darimana nak? Apa kamu merampok bank?" tanya Lastri yang masih tidak percaya.
Semua orang hampir terjatuh dari berdirinya saat mendengar pertanyaan tidak masuk akal dari Lastri. Ryan melihat sejenak kearah dimana Lintang berdiri. Dia seolah sedang memberikan kode kepada Lintang untuk diam dan tidak membuka suara.
"Ayolah ibu.. Mana mungkin anakmu yang tampan dan baik ini merampok bank? Mustahil lah.." ujar Ryan dengan tidak.berdaya.
"Lalu darimana kamu mendapatkan uang untuk membeli mobil dan Villa itu?" tanya Lastri yang terus menyelidik.
__ADS_1
"Begini bu.. Intinya Ryan mendapatkan ini dari sebuah keberuntungan! Emm.. Atau bisa dikatakan Ryan menang sebuah lotre bu!" ucap Ryan memberikan alasan yang terdengar masuk akal.
Oh.. Menang lotre.. Baiklah, kalau begitu ibu mau tinggal di Villa ini!" ucap Lastri pada akhirnya.
Ryan pun akhirnya bisa bernapas dengan lega setelah ibunya mau atau percaya dengan alasan yang diberikan darinya itu. Dia sangat deg-degan sebelumnya. Jika saja ibunya tidak mau atau menolak tinggal ditempat yang baru dia memiliki ini, maka Ryan sungguh sangat akan kecewa.
Setelah sedikit berkenalan dan berbincang-bincang, Pak Rangga kemudian memanggil para pelayan Vlila untuk membantu memasukkan barang-barang milik keluarga Ryan.
Ryan dan Pak Rangga mengajak masuk ibunya serta orang-orang yang dibawanya kedalam Villa. Setelah itu mereka berdua menjelaskan mengenai Villa tersebut dan beberapa tempat yang ada disana.
Lastri hanya mengangguk-nganggukkan kepalanya karena kagum dengan keindahan pemandangan yang ada di sekitar Villa dan kemegahan Villa itu sendiri.
Satu pelayan diminta oleh Pak Rangga untuk mengantarkan ibu serta kedua pengawalnya ke kamar mereka masing-masing untuk beristirahat atau sekedar mengetahui kamar mereka.
Sementara Ryan dan Pak Rangga, mereka berdua mengobrol di ruang tamu untuk membahas beberapa hal mengenai bisnis yang ada di Villa Gunung Emas.
"Jadi menurut Pak Rangga, villa yang ada disebelah ini sangat cocok untuk bisnis tempat persyutingan?" tanya Ryan.
"Benar sekali Tuan Ryan! Sebelumnya juga ada beberapa dari para pemain film atau sutradaranya yang mencoba untuk menawar tempat itu untuk mereka syuting! Jadi saya mencoba mendiskusikannya dengan Tuan Ryan yang sebagai pemilik Villa tentang bagaimana tanggapan dari Tuan mengenai hal itu," tutur Pak Rangga.
Ya.. Jika memang itu memungkinkan atau lebih baik, maka gunakan saja! Aku sih setuju-setuju saja!" ujar Ryan.
"Oiya, jika memang apa yang menurut Pak Rangga itu baik, apapun itu yang berhubungan dengan Villa, maka lakukan saja! Aku akan menyetujuinya selagi sama-sama menguntungkan bagi kita!" lanjut Ryan dengan tersenyum yang membuat Pak Rangga sangatlah senang.
Pak Rangga tentu memiliki banyak sekali ide yang ingin dia gunakan sebagai bisnis atau yang lainnya yang berhubungan dengan Villa ini. Namun karena dia hanyalah seorang manajer dan bukan dari pemilik Villa, maka dia hanya bisa memendam idenya itu didalam benaknya.
Akan tetapi dengan kepemilikan dari Ryan mengenai Villa ini dia sangat puas dan senang akan ide-idenya yang mungkin akan segera terwujudkan. Dia bertekad dalam hatinya untuk tidak akan mengecewakan Ryan.
___________________________________________
__ADS_1
Ryan Aji Sena: