
Pria kekar yang tampaknya adalah pemimpin dari ketiga orang tersebut langsung tersungkur sambil berteriak dengan sangat keras karena merasakan sakit yang luar biasa pada bagian matanya yang terkena lemparan batu itu.
Bola mata pria kekar itu sampai dibuat pecah oleh lemparan batu itu sehingga darah mengucur darinya dengan sangat deras. Pria kekar itu berguling-guling di tanah sambil terus berteriak minta tolong, sementara Ryan si pelempar batu menjadi linglung karena dia lupa jika kekuatan tubuhnya sudah jauh berada di atas normal manusia biasa.
'Sial! Aku lupa melemparkannya terlalu kuat!' batin Ryan mengutuk kebodohannya sendiri.
Kedua teman pria kekar yang baru saja tersadar dari keterkejutannya langsung bergerak mendekati bos-nya yang sedang berguling-guling di tanah dengan darah yang berceceran kemana-mana.
"Bos! Bos! Apakah anda baik-baik saja?" tanya salah satu pria dengan wajah khawatir. Dia bernama Tommy yang biasa dipanggil Tom saja.
Plakk!
Pria satunya lagi yang bernama Jerry langsung menempeleng mulut dari temannya itu hingga dia terjengkang kebelakang. Jelas-jelas bos-nya sedang meraung-raung kesakitan, bagaimana mungkin masih ditanya apakah baik-baik saja? Sungguh tolol menurutnya.
"Sial! Mengapa kau menampol mulutku?" protes Tom kepada Jerry.
"Diam! Apakah kamu itu tolol atau bagaimana? Jelas-jelas bos kita sedang kesakitan karena matanya berdarah-darah begini! Tapi kamu malah masih bertanya apakah dia baik-baik saja? Dasar koplok!" ucap Jerry dengan ekspresi wajah yang sangat kesal.
"Ah! Maaf! Aku hanya terlalu mengkhawatirkan bos saja!" ucap Tom membuat alasan atas kesalahannya.
"Sudahlah! Mari kita bawa bos ke mobil dulu! Setelah itu barulah kita mengurus kedua orang tua bangka itu!" kata Jerry.
Akan tetapi keduanya terhenti untuk mengangkat tubuh dari bosnya yang sudah terkulai lemas serta hampir pingsan karena tidak kuasa lagi menahan rasa sakit disebabkan oleh kemunculan dari seorang pemuda tampan yang tersenyum menyeringai kepada keduanya.
"Siapa kau?" tanya Jerry dengan memasang ekspresi wajah menyeramkannya.
"Aku?" ucap Ryan sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Iya kamu! Siapa lagi?" dengan wajah kesal.
"Apakah kamu yang telah melemparkan batu sehingga membuat bos kami terluka seperti ini?" tanya Tom.
"Sepertinya demikian! Aku tidak bisa membiarkan bosmu itu berbuat semena-mena dengan meludahi orang tua bahkan hendak membunuh orang tua dari seseorang yang aku kenali!" jawab Ryan dengan santainya.
__ADS_1
"Kurang ajar! Aku akan membunuhmu pemuda sialan!" teriak Tom sambil bergerak menuju ke arah Rian dengan sebilah pisau yang diambil dari balik pinggangnya.
Ryan hanya tersenyum melihat salah satu dari rentenir yang sedang menagih hutang kepada orang tua Ayu berlari menuju ke arahnya. Dia sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apapun meskipun dia bisa saja terbunuh setelah ini.
Akan tetapi dengan bermodalkan keahlian beladiri yang dimilikinya, Ryan sangat yakin dapat mengalahkan pria kekar yang sedang menghampirinya itu. Ryan sedikit membuat kuda-kuda beladiri untuk bersiap menyambut serangan dari Tom.
Tom mengayunkan tangannya berniat memberikan sebuah saya dan ke arah wajah dari pemuda yang sangat terlihat angkuh itu. Akan tetapi niatnya tidak bisa terkabulkan karena pemuda itu dengan mudah menghindari setiap serangan yang dilontarkan olehnya.
Dengan sedikit gerakan tinjuan Upper Cut, Ryan menonjok hidung dari Tom sehingga Tom kembali terjengkang untuk kedua kalinya.
Buak!
"Aakkhh.."
Hidung Tom langsung patah dan mengeluarkan banyak darah sehingga dirinya menjerit kesakitan dan berusaha untuk mengelap darah yang mengucur dari hidungnya.
Tom kembali bangkit, dia menatap pemuda yang sedang berdiri santai di hadapannya itu dengan tatapan penuh kebencian. Dia kembali bergerak menyerang Ryan dengan ayunan tangan yang ada pisau dalam genggamannya.
Dengan mudah Ryan menghindari setiap serangan dari Tom. Dia berkelit-kelit kesana kemari dengan gerakan yang sangat lincah sehingga tidak ada satupun dari serangan Tom yang mendarat di tubuhnya.
Ayu yang sebelumnya menyusul Ryan dari belakang sangat terkejut ketika melihat sebuah perkelahian yang menurutnya sangat mengerikan dan kedua orang tuanya sedang terduduk lemah di dekat pria kekar yang matanya berdarah-darah.
Ayu segera berlari mendekati kedua pria paruh baya dan wanita banyak yang tidak lain adalah orang tuanya untuk menanyakan perihal bagaimana mungkin Ryan berakhir bertarung dengan kedua pria kekar yang tidak dikenal.
"Ayah! Ibu! Apa yang terjadi? Mengapa bisa begini?" tanya Ayu dengan wajah khawatir.
"Pemuda itu menyelamatkan kami berdua ketika bos dari ketika rentenir itu hendak membunuh kami berdua!" jawab ibu dari Ayu.
"Apaa!" Ayu terkejut dengan kenyataan itu.
"B-bagaimana mungkin!" katanya lagi dengan terbata.
"Maksudmu?" tanya ayah Ayu dengan kening yang mengerut.
__ADS_1
"Ah! Tidak apa-apa ayah! Semoga Ryan dapat selamat dan bisa mengalahkan mereka berdua!" ujar Ayu gelagapan karena hampir saja dia mengatakan sesuatu yang tidak bisa masuk di akal.
"Ya.. Semoga saja!" kata ayah Ayu yang bernama Sean.
"Iya!" angguk ibu Ayu yang bernama Sinta.
Sementara Ayu sendiri bernama lengkap Ayu Puspita. Dia sangat mengkhawatirkan Ryan saat ini. Dia berharap pemuda itu dapat memenangkan pertarungan menegangkan itu dan kembali dalam keadaan tanpa luka.
.
.
Ryan yang mendapatkan serangan dari dua sisi yang berbeda, dia sama sekali tidak merasa tertekan sedikitpun. Meski hanya menggunakan bogem mentah sebagai senjata tapi dia dapat mengungguli keduanya bahkan membuat lawannya itu dipaksa dalam posisi bertahan.
"Kalian tahu! Sebenarnya aku datang ke tempat ini bukan ingin berbuat kasar kepada kalian! Tetapi aku datang untuk melunasi semua hutang-hutang dari orang tua Ayu Puspita! Maka lebih baik hentikan pertarungan ini karena aku tidak ingin kembali melukai orang lagi!" ucap Ryan di sela-sela dirinya berkelit untuk menghindar dan menyerang balik.
"Tapi kau telah melukai bos kami kampret!" Tom berseru dengan lantang karena kemarahan yang ada di dalam dirinya sudah tidak bisa ditahan lagi.
"Itu wajar saja! Bukankah sebelumnya aku sudah mengatakan kepada kalian berdua bahwa aku tidak bisa membiarkan seseorang yang telah berani bertindak tidak sopan dengan meludahi orang tua dan bahkan hendak membunuhnya! Itu adalah suatu hal yang tidak bisa aku tolerir sedikitpun!" ucap Ryan dengan nada yang juga meninggi karena dirinya mengingat bagaimana bos dari kedua orang yang sedang dilawannya ini meludahi wajah dari ayah wanita yang saat ini sedang dekat dengan dirinya.
"Hah! Banyak bacot! Bunuh saja Tom!" ujar Jerry yang sudah terlanjur masuk dalam pertarungan dan dia tidak ingin menghentikannya dengan musuh yang tanpa terluka sedikitpun.
Tom dan Jerry terus menyerang Ryan bahkan kali ini serangannya terlihat lebih cepat dari sebelumnya.
"Kalian yang memaksaku untuk bertindak kasar lagi!" ucap Ryan dengan kesal.
Kemudian Ryan mulai bergerak dengan gerakan yang sangat cepat yang tidak bisa diimbangi oleh Tom dan Jerry sehingga kedua anak buah dari bos rentenir itu menjadi bulan-bulanan bogem mentah dari Ryan.
Bak! Buk! Bak! Buk!
Buk! Buk!
"Rasakan tinjuku ini manusia ngeyel!" seru Ryan sambil menonjok hidung dari Jerry sehingga kini telah impas dengan kedua lawannya sama-sama berhidung patah.
__ADS_1
Buak!