Bersama Sistem

Bersama Sistem
Chapter 73


__ADS_3

[Mulai memindai..]


[Ding! Memindai selesai!]


[Nama: Parman Sriwedari


Usia: 37 Tahun


Kekuatan: 6/1000


Keahlian: Seni Beladiri Golok Tingkat Rendah


Senjata: -]


[Nama: Maman Suprapto


Usia: 36 Tahun


Kekuatan: 6/1000


Keahlian: Seni Beladiri Tangan Kosong Tingkat Rendah


Senjata: -]


Ryan tersenyum dengan lebar saat mendapati hasil dari fitur pemindaian yang baru saja dia dapatkan dari Sistem. Dengan memindai seseorang terlebih dahulu, maka dia dapat mengukur kemampuan atau ketidakmampuannya dalam menghadapi musuh nantinya.


"Bos belum tidur?" tanya Parman menyapa Ryan.


"Hahaha.. Aku justru baru saja bangun dari tidurku saudara Parman!" jawab Ryan sambil terkekeh-kekeh kemudian ikut duduk di kursi yang tersedia di meja yang sama dengan kedua anak buahnya itu.


"Lalu mengapa tidak tidur lagi saja bos Ryan? Ini masihlah dini hari!" ujar Suprapto bertanya.

__ADS_1


"Saudara Suprapto! Aku juga ingin merasakan bagaimana berjaga di malam hari di villa gunung emas ini!" jawab Ryan sambil tersenyum kepada Suprapto.


"Ah! Jika begitu aku akan membuatkan bos Ryan kopi dulu! Gimana bos?" tanya Parman kepada Ryan.


"Ya.. Itu sangatlah cocok sekali! Haha.." ucap Ryan sambil tertawa kecil.


Parman pun pergi meninggalkan Ryan bersama dengan Suprapto untuk membuatkan kopi bos besarnya itu. Sementara berbincang-bincang santai bersama dengan Suprapto.


Gelak terkadang pecah dari obrolan Ryan dan juga Suprapto. Keduanya seperti seorang saudara saja, tidak mencerminkan seorang tuan dan bawahannya. Ya, begitulah Ryan adanya! Dia tidak pernah menganggap orang yang sudah membantu dia dan ibunya sebagai bawahan atau pembantu. Melainkan Ryan menganggap bahwa orang tersebut adalah saudaranya yang harus dia hormati juga.


Tidak berapa lama kemudian Parman pun datang dengan membawakan segelas kopi yang di bawahnya menggunakan nampan.


"Silakan kopinya bos besar!" ucap Parman sambil menyodorkan segelas kopi tersebut di depan Ryan.


"Terima kasih!" ucap Ryan dengan tulus.


Setelah itu mereka pun mengobrol dengan santai mengenai beberapa hal yang penting dan juga tidak penting. Canda dan tawa terus menghiasi setiap obrolan mereka bertiga hingga tanpa sadar waktu terus berlalu dan sekarang sudah berada di pukul 04.00 pagi.


"Haiih.. Baiklah! Aku akan masuk terlebih dahulu! Aku harap kalian berdua juga tidak terlalu memaksakan untuk berjaga! Waktu untuk beristirahat juga kalian perlukan!" ujar Ryan sambil berdiri dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan taman belakang villa.


***


Waktu berlalu dengan cepatnya. Saat ini kalian sedang melanjutkan motor Kawasaki Ninja H2 carbon dengan santai menuju ke kampus tempatnya berkuliah. Sudah hampir satu bulan ini dia tidak ingin terlalu menarik perhatian lagi dengan menggunakan mobil Mercedes Benz Maybach edisi terbatas yang hanya ada satu atau dua di negara tempatnya tinggal.


Hari ini Ryan pergi ke kampus lebih awal dari biasanya karena dua alasan. Yang pertama karena dirinya tidaklah tidur semalaman. Dan yang kedua adalah dirinya tidak ingin terburu-buru untuk segera sampai di kampus.


Ryan pergi meninggalkan rumahnya sebelum pukul 06.00 pagi. Dia berpamitan kepada ibunya untuk berangkat ke kampus lebih awal dan tidak membawa kendaraan dengan ngebut-ngebutan. Lastri tentu saja memberikan izinnya dengan senang hati, karena dia juga tidak ingin jika anaknya selalu mengendarai kendaraan dengan kecepatan tinggi.


Sesampainya dikampus, Ryan memarkir motor Kawasaki ninja h2 carbon ditempat parkir yang sudah disediakan oleh kampus. Dia berjalan dengan santai sambil membawa ransel yang biasa dia bawa untuk kuliah semenjak dia masihlah orang yang belum berpunya.


Suasana di kampus saat ini masihlah cukup lengang. Itu karena waktu saat ini barulah menunjukkan pukul 08.00 pagi dan pelajaran barulah akan dimulai pukul 08.30. Sangat cukup bagi para mahasiswa untuk bersantai-santai terlebih dahulu sebelum akhirnya menuju ke kampus untuk memulai pelajaran.

__ADS_1


Saat Ryan sedang berjalan ke kantin, dia melihat rombongan dari sebuah geng yang sangat dia kenali. Rombongan itu saat melihat keberadaan Ryan langsung memelototkan matanya karena marah. Siapa lagi jika bukan rombongan milik Brian dan Leo.


Untuk menanggapi pelototan mata dari keenam geng yang telah turun tahta sebagai penguasa kampus, Ryan hanya mengacungkan jari tengahnya ke arah mereka sehingga mereka menjadi sangat-sangat marah namun tidak berani untuk menyerang Ryan seperti pada saat sebelum-sebelumnya.


"Kau!" ucap Topan sambil menggertak giginya kuat-kuat karena menahan kemarahannya.


"Kau apa? Mau ngajak gelud? Sinilah! Dengan senang hati aku akan melayanimu!" ucap Ryan dengan nada memprovokasi.


"Cukup Topan! Biarkan saja dia bertingkah sesuka hatinya untuk sementara waktu! Namun tidak lama kemudian dia pasti akan bersujud-sujud meminta pengampunan kepada kita!" ucap Brian sambil menahan tubuh Topan untuk mendekati Ryan.


"Hahaha.. Aku akan menunggu dimana waktu itu tiba! Jika ucapanmu itu hanyalah omong kosong belaka, maka jangan kaget jika aku akan melakukan hal yang sama kepada diri kalian seperti yang kamu katakan saudara Brian! Hehehe.." ucap Ryan sambil tertawa terkekeh-kekek lalu pergi meninggalkan keenam anggota geng kampus itu.


"Keparat kau Ryan! Awas saja! Aku akan membuatmu mati secara perlahan-lahan!" sekarang giliran Leo yang berteriak.


Ryan menghentikan langkah kakinya kemudian menoleh ke arah Leo. Hal itu sontak membuat keenam anggota geng mantan penguasa kampus itu menjadi sangat waspada.


"Sebelumnya aku hanya memberikan pelajaran dengan menembak kepala dari burung perkututmu itu. Namun esok, mungkin aku akan menembak kepalamu langsung tanpa berbelas kasihan lagi!" ucap Ryan sambil tersenyum menyeringai dalam memberikan ancamannya lalu kembali melanjutkan perjalanannya menuju ke kantin.


Setelah kepergian dari musuh bebuyutannya, 6 orang dari kelompok ke kampus itu hanya bisa menggertakkan giginya lagi untuk meredam amarahnya yang sudah berkejolak di dalam batin mereka.


"Kita harus sedikit bersabar untuk kali ini! Dia mendapat dukungan penuh dari perusahaan raksasa asal luar negeri yang bernama perusahaan E-Shan! Bahkan perusahaan itu setingkat dengan perusahaan tempat ayahku bekerja!.."


"Namun nanti setelah rencana yang telah dirancang oleh ayah berjalan dengan lancar, barulah kita akan menindaklanjuti bocah sombong sialan itu!" ucap Brian dengan nada yang sangat kesal.


"Baik bos Brian! Kami akan sedikit menahannya! Aku pastikan dia akan merasakan siksaan berlipat-lipat ganda dari apa yang telah dia lakukan kepadaku!" tutur Leo dengan mata yang berapi-api karena terkuasai oleh emosi.


"Aku juga akan mematahkan kaki dan tangannya serta beberapa tulang rusuknya sebagai balasan atas perlakuannya kepadaku waktu itu!" ujar Topan menambahkan.


"Ya! Benar sekali!" angguk ketiga anggota geng yang lainnya.


Setelahnya, mereka pun pergi meninggalkan tempat itu dengan perasaan dongkol yang memenuhi batin.

__ADS_1


__ADS_2