Bersama Sistem

Bersama Sistem
Chapter 67


__ADS_3

Ryan terus berjalan memasuki villa nya tanpa menghiraukan Parman yang merasa keberatan dengan mengangkat kursi rotan kuno itu. Entah bagaimana hal itu terjadi, padahal sebelumnya Ryan mengangkat kursi itu sangatlah enteng sekali sehingga dengan mudahnya dia meletakkannya di atas mobil Mercedes Benz miliknya.


Lastri menyambut kedatangan Ryan dengan senyuman yang terus terpancar. Benar! Semenjak perubahan yang terjadi pada kehidupannya dan menjadi lebih baik, dia terus tersenyum sebagai ungkapan rasa syukur atas apa yang diberikan oleh Tuhan kepadanya.


Dan itu adalah sesuatu yang selalu ingin Ryan jaga. Senyuman seorang ibu yang telah melahirkannya, merawatnya dan menyayanginya hingga sampai saat ini. Ryan tidak mungkin bisa membalas semua yang telah diberikan oleh ibunya itu. Akan tetapi saat ini yang bisa dilakukannya hanyalah mencoba sebisa mungkin untuk menjaga senyuman itu agar tidak pernah turun lagi bagaimanapun caranya.


"Itu.. Apa yang Parman bawa nak?" tanya Lastri keheranan.


"Hehehe.. Itu hanya kursi rotan saja Bu! Aku ingin membuat sebuah tongkat yang terbuat dari kursi rotan itu!" kata Ryan sambil cengengesan.


"Tongkat? Buat apa?" Lastri mengerutkan keningnya.


"Buat pajangan saja Bu? Hehe.." jawab Ryan yang masih cengar-cengir.


"Haiiss.. Ada-ada saja tingkahmu itu nak! Yasudah! Sana mandi! Ibu dan para pelayan sudah membuatkanmu masakan yang lezat!" ucap Lastri sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Siap Bu bos besar!" kata Ryan sambil memberikan hormat layaknya kepada seorang komandan prajurit.


Ryan kemudian berlari menuju ke kamarnya sementara Lastri hanya tersenyum melihat tingkah dari anak semata wayangnya. Dia sama sekali tidak mempertanyakan apa yang dilakukan oleh anaknya meskipun terlihat sangat aneh, anaknya membuat tongkat dari kursi rotan.


Lastri kemudian meminta Parman untuk meletakkan kursi rotan itu di depan kamar Ryan. Supaya nanti jika putranya itu hendak memulai pekerjaannya membuat tongkat maka tidak perlu lagi bertanya-tanya di manakah kursi rotannya berada.

__ADS_1


Parman yang notabenya hanya seorang pelayan sekaligus pengawal dari Lastri langsung menyetujuinya tanpa bertanya sepatah kata pun. Dia membawa kursi rotan itu masuk ke dalam villa dan meletakkannya di dekat pintu kamar bos besarnya.


Ryan bernyanyi-nyanyi di dalam kamar mandi untuk mengekspresikan kebahagiaannya karena telah mendapatkan sebuah senjata yang menurut Sistem itu adalah senjata yang sangat kuat melebihi baja.


Ryan tidak tahu bagaimana hal itu bisa terjadi. Akan tetapi dirinya sepenuhnya percaya kepada Sistem. Dan jika dipikir-pikir juga dia selama ini menggunakan pedang katana sebagai senjata. Sementara itu adalah senjata yang sangat mematikan dan sangat berlebihan. Jika dia menggunakan tongkat, maka dia tidak perlu membunuh lagi seperti apa yang dia inginkan sebelumnya.


Dia sangat sadar bahwa lika-liku kehidupannya saat ini sangatlah berbeda dengan kehidupannya yang sebelumnya yang penuh dengan kekurangan. Hidupnya saat ini sangat penuh dengan marabahaya yang sewaktu-waktu bisa saja merenggut nyawanya.


Saat ini dia sudah menyinggung beberapa orang yang seharusnya tidak dia singgung. Mulai dari keluarga Brian, Leo, kelompok mafia serigala bayangan dan yang terakhir adalah sindikat terbesar perdagangan barang haram di dunia alias Geng Kapak Maut.


Jika dia tidak memiliki perlengkapan berupa senjata yang dapat diandalkannya maka akan sangat rentan baginya untuk tewas dalam bertarung meskipun dia memiliki keahlian beladiri yang cukup mumpuni.


Setelah itu dia langsung berganti pakaian dengan pakaian yang baru yang sudah tersedia di dalam lemari kamarnya. Ryan keluar dari kamar dan mendapati kursi rotan yang dia dapat dari ayah Ayu atau Sean tergeletak tidak jauh dari pintu kamarnya. Ryan pun tersenyum melihatnya. Kemudian ya berjalan menghampiri ibunya yang sudah ada di ruang makan.


Seperti biasa. Ryan datang paling akhir dan di sana sudah ada Lastri yang sudah duduk di kursi meja makan yang ditemani oleh Parman dan Suprapto beserta kelima pelayan yang bekerja di villanya.


Inilah yang menjadi keunikan tersendiri dalam keluarga kecil Ryan. Lastri selalu meminta para pelayannya untuk ikut makan bersama dengannya. Padahal biasanya seorang majikan akan sangat menjaga diri untuk tidak sampai dekat-dekat dengan para pelayannya dengan alasan menjaga harga diri. Apalagi sampai makan bersama seperti ini.


Akan tetapi hal itu tidak pernah berlaku bagi Lastri dan keluarganya. Dia selalu menganggap kebersamaan dan kerukunan adalah hal yang nomor satu. Tidak kata-kata menjaga harga diri dengan cara menjaga jarak dengan para pelayan. Menurutnya kata-kata itu adalah sebuah kata-kata yang tidak berdasar sama sekali.


Awalnya para pelayan bahkan Suprapto dan Parman berusaha untuk menolak, namun justru mereka malah mendapatkan kata-kata mutiara yang panjang kali lebar dari Lastri yang membuat kuping mereka memerah karena saking bosannya.

__ADS_1


Setelah kedatangan Ryan, mereka pun akhirnya bisa memulai acara makan-makan bersama. Tidak ada satupun orang yang berbicara di saat mereka semua makan. Itu adalah tata krama yang selalu diajarkan oleh Lastri saat dalam kondisi makan maka dilarang untuk berbicara.


Tidak butuh waktu lama mereka pun telah menyelesaikan acara makan-makannya. Para pelayan dengan sigap dan tanpa diperintah langsung membereskan piring-piring atau gelas yang kotor untuk dicuci.


***


Ryan mengangkat kursi rotan yang berada di dekat pintu kamarnya itu keluar di halaman belakang villa. Berbeda dengan Parman, Ryan dapat mengangkat kursi rotan itu dengan santainya. Dia sama sekali tidak merasakan rasa berat sedikitpun. Bahkan menurutnya kursi rotan ini terlalu ringan melebihi ringannya kursi rotan pada biasanya.


Dengan menggunakan peralatan seadanya yang berupa palu, dia mencongkel satu persatu paku yang menancap di beberapa bagian kursi rotan itu.


Selesai dengan pekerjaannya, Ryan kemudian mengambil sebuah besi berlubang yang ukurannya sangat pas untuk dimasuki oleh batang dari kursi rotan itu. Hal ini cukuplah sulit bagi Ryan, karena dia harus memaksa batang rotan yang sudah terlanjur melengkung itu memasuki besi berlubang yang lurus.


Tetapi dengan tenaganya yang sudah berada di atas rata-rata manusia biasa, Ryan pada akhirnya pun berhasil memasukkan seluruh bagian batang rotan ke dalam besi. Sekarang dia hanya perlu menunggu satu sampai dua minggu lamanya sebelum akhirnya mengeluarkan batang rotan.


Sebenarnya waktunya bisa saja dipercepat. Yaitu dengan cara merebus seluruh bagian rotan itu bersama dengan besi bolongnya. Namun yang menjadi permasalahannya adalah dia tidak memiliki tempat atau wadah yang cukup untuk meletakkan batang rotan itu yang memiliki panjang hampir 2 meter.


[Cukup tunggu saja sampai dua minggu paling lamanya Tuan! Batang rotan itu pasti sudah menjadi lurus! Tuan bisa mengetes kekuatan dari rotan itu dengan pedang katana Tuan! Aku yakin pedang katana Tuan lah yang akan penyok!] ujar Sistem dengan santai.


"Baiklah! Aku percaya kepadamu! Sekaran lebih baik aku menghubungi Rio untuk mencarikan sebuah gedung perkantoran mewah yang dijual untuk kantor pusat dari perusahaan E-Shan milikku! Aku harap dia dapat menemukannya yang tidak jauh dari kampus ataupun villa ini!" ucap Ryan lalu pergi meninggalkan halaman belakang villa.


Tidak lupa dia meminta kepada beberapa pelayannya untuk membereskan sisa-sisa dari potongan-potongan kecil kursi rotan sementara dia membawa besi bolong yang sudah diisi dengan batang rotan memasuki villa.

__ADS_1


__ADS_2