
Ryan ingin mengumpati Sistem akan hal itu, namun dengan kedatangan dari Ayu dan kedua orang tuanya dia tidak jadi melakukannya.
"Terima kasih banyak telah menolong kami nak! Kami tidak bisa membayangkan apa yang terjadi pada diri kami jika dirimu tidak datang menolong!" ucap Sean dengan penuh ketulusan yang terpancar dari setiap tutur kata yang keluar dari mulutnya.
"Ah! Itu hanya hal kecil saja Paman Sean! Maaf karena aku telah mengetahui nama paman dari kedua orang yang menjadi lawanku sebelumnya itu!" ucap Ryan dengan berbasa-basi.
"Tidak perlu meminta maaf anak muda! Jika boleh tahu siapa namamu?" tanya Sean.
"Namanya Ryan ayah!" ucap Ayu dengan bersemangat mendahului Ryan sehingga Ryan hanya bisa tersenyum saja.
"Oh.. Ryan? Nama yang bagus!" tutur Sean sambil mengangguk-anggukkan kepala.
"Baiklah-baiklah.. Tidak baik mengobrol sambil berdiri seperti ini! Ayo masuk terlebih dahulu nak Ryan!" ajak Sinta untuk memasuki kediaman sederhana di belakangnya.
"Ah! Benar sekali! Sungguh aku tidak punya sopan santun terhadap tamu sekaligus penolongku! Hahaha.. Harap dimaafkan ya nak Ryan!" ujar Sean sambil tertawa terkekeh-kekeh.
Keempatnya pun memasuki kesiangan sederhana milik keluarga dari Ayu Puspita dan Ryan pun dipersilahkan duduk di sebuah kursi rotan yang tampak sangat sederhana namun elegan. Ryan dari kecil sudah menyukai akan karya seni, dan saat dirinya melihat kursi yang terbuat dari rotan dia ingin sekali membuat atau membelinya.
"Kursi rotan ini sangat elegan sekali Paman Sean!" ucap Ryan basa-basi sambil membuka kata.
"Haha.. Itu adalah kursi rotan terbaik yang pernah ada dan kumiliki, karena mengingat usianya saja sudah lebih tua daripada usia bakwan sendiri! Hahaha.." ujar Sean sambil tertawa renyah.
"Apaa! Apakah itu artinya.." Ryan tidak bisa melanjutkan kata-katanya.
__ADS_1
"Benar sekali! Kursi rotan itu bahkan adalah buatan tangan dari leluhurku yang nomor lima atau biasa dikenal dengan kakek canggah!" kata Sean menjelaskan.
Ryan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala ternyata kursi rotan yang tampak elegan ini adalah barang antik yang sudah berusia ratusan tahun. Pantas saja dirinya seperti merasakan sebuah aura yang membuatnya tertarik walau hanya sebuah kursi rotan yang padahal dapat ditemui atau dibeli dari pedagang-pedagang kursi rotan yang tersebar di kota ini.
[Tuan bisa menjadikan kursi rotan itu sebagai sejata berupa tongkat setelah diluruskan dan tongkat rotan itu sangatlah kuat sekali melebihi kekuatan baja!] ucap Sistem tiba-tiba.
"Apaaa! Apakah se-special itu Tem?" tanya Ryan yang terkejut.
[Mungkin Tuan pernah menonton TV serial Sun Go Kong. Nah.. Tongkat yang jika dibuat dari kursi rotan ini bisa sekuat itu! Keistimewaannya adalah tongkat rotan itu akan sangat ringan namun tingkat kekerasannya sangat luar biasa!] kata Sistem lagi.
"K-kamu tidak bercanda bukan Tem?" tanya Ryan dengan terbata-bata meski saat ini dia sedang berbicara melalui pikiran.
[Cih! Kapan Sistem yang baik dan keren ini membohongi Tuan? Sudahlah! Lebih baik Tuan menawarkan harga saja kepada pria baya didepan Tuan untuk membeli kursi rotan yang sedang Tuan duduki!] ucap Sistem ya salat tidak mau berdebat.
Sean yang melihat Ryan hanya berdiam diri setelah mendengar pengungkapan darinya merasa bahwa anak muda didepannya itu terlalu terkejut dengan umur dari kursi rotan yang sedang didudukinya.
"Ehem! Nak Ryan! Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Sean menegur Ryan agar tersadar dari lamunannya.
"Ah! Maaf-maaf! Aku terlalu terkejut mendengar usia dari kursi yang sedang aku duduki ini ternyata lebih tua dari usia paman! Hehehe.." kata Ryan sambil tertawa terkekeh dan membuat alasan.
Sean hanya tersenyum saat mendengar ucapan dari Ryan yang ternyata sama dengan apa yang dia batinkan.
"Aku sudah menduga bahwa nak Ryan pasti akan terkejut! Tapi itu hanyalah sebuah kursi! Sampai kapanpun hanya akan tetap menjadi kursi yang tidak berguna kecuali hanya untuk diduduki!" ujar Sean sambil tersenyum.
__ADS_1
"Ehem! Begini Paman Sean! Aku adalah orang yang sangat menyukai akan karya seni, bagaimana jika aku memberikan penawaran kepada Paman Sean untuk menjual kursi rotan ini! Paman bisa menyebutkan harga, nanti aku akan langsung mentransfernya!" kata Ryan yang memulai aksi membujuknya.
Sean menggeleng-gelengkan kepala tanda tidak setuju dengan apa yang diminta oleh Ryan.
"Kursi rotan itu memang bukanlah sesuatu hal yang berharga dimata nak Ryan kecuali hanya sebuah karya seni saja! Namun bagi kami, khususnya bagiku, kursi rotan itu adalah sebuah peninggalan leluhur yang harus aku jaga sampai aku akan menurunkan kepada generasi selanjutnya!" kata Sean langsung menolak usulan Ryan.
Ryan dibuat mengerutkan kening karena ternyata pria paruh baya yang tidak lain adalah ayah Ayu sangatlah kekeh untuk memegang tradisi turun temurun. Ryan ingin berkata lagi, namun sebelum dia membuka tutup mulutnya sebuah suara wanita yang tidak lain adalah suara Sinta atau ibu Ayu terdengar dari balik pintu ruangan tengah.
"Mengapa kamu selalu bersikap keras kepala seperti itu suami? Sudah banyak orang yang menawarkan kursi rotan itu namun kamu selalu menolaknya begitu saja dan mengatakan akan menurunkan kepada anak kita! Apa sebenarnya keistimewaan dari kursi rotan itu?" ucap Sinta dengan nada tidak senang kepada suaminya.
Ayu yang berjalan di belakang Sinta dengan membawa beberapa kue ringan untuk camilan menemani minuman teh yang dibawa oleh Sinta dengan sebuah baki juga memperlihatkan wajah yang tidak suka kepada ayahnya.
Bagaimana tidak? Seseorang yang telah menyelamatkan dia dari ajang pembunuhan para rentenir hanya ingin membeli (bukan merampas) sebuah kursi rotan saja tidak dipenuhi keinginannya? Bukankah itu terlalu keterlaluan?
"Tapi Sinta.. Ini adalah.." ucap Sean yang masih kekeh pada pendiriannya.
"Jika kamu masih saja kekeh untuk memegangi tradisi aneh dari leluhurmu itu, makasihlahkan saja kamu pergi dari tempat ini karena rumah ini adalah pemberian dari mendiang ayahku!" kata Sinta dengan nada agak meninggi, raut wajahnya juga sangat jelas sekali memperlihatkan kekecewaan yang teramat dalam kepada suaminya.
Bagaimana tidak demikian? Hanya karena sebuah kursi rotan saja dia sampai lupa akan berterima kasih kepada penolong yang telah menyelamatkan hidupnya serta melunasi hutang-hutang keluarganya. Alangkah betapa kecewanya seorang Sinta saat ini.
Sinta berlarian kecil meninggalkan ruang tamu setelah meletakkan teh di atas meja tempat Ryan dan Sean berada. Terdengar suara sesenggukan kecil yang menandakan bahwa dia saat ini sedang menangis.
Ayu menatap ayahnya dengan tatapan mata tidak percaya sekaligus tidak berdaya. Sosok ayah yang selama ini dia bangga-banggakan akan budi pekertinya yang sangat baik ternyata memperlihatkan sikap yang tidak seharusnya diperlihatkan tepat di depan matanya dan teman yang paling baik dalam hidupnya.
__ADS_1
"Aku juga kecewa kepadamu ayah!" ucap Ayu lalu ikut pergi juga menyusul ibunya.