
***
Sementara itu disisi lain, diatas sebuah gedung yang cukup tinggi, seseorang dengan memakai baju serba hitam yang ditutupi oleh topeng terlihat sedang memasang wajah yang cukup suram. Dimatanya masih tertempel sebuah teropong dari tembak atau senjata laras panjang yang ia gunakan untuk membidik sasaran.
"Sial! Bagaimana mungkin!" ucap pria itu yang tidak percaya dengan apa yang dia lihat, bahwa korbannya dapat selamat atau bahkan dapat menghindari tembakan yang dia berikan.
Pria itu beberapa kali terus mengarahkan moncong senjatanya itu kearah mobil Porsche yang terus melaju dengan berliku-liku.
"Sialan! Orang itu sangat lincah dalam mengemudikan mobilnya!" ucap pria itu yang terus berdecak kesal.
***
Sementara di lain sisi, Ryan terus membelok-belokkan mobilnya ke kanan dan ke kiri untuk menghindari bidikan sang sniper. Dia terus fokus terhadap hal itu selama beberapa menit hingga pada akhirnya dia sampai didepan gedung tempat sang sniper itu berada.
"Huh! Awas saja! Aku tidak akan memaafkanmu!" ujar Ryan yang melihat kaca mobil Porsche miliknya itu berlubang. Padahal mobil itu baru pertama kalinya dia memakai.
Setelah keluar dari mobil Porsche nya itu dengan kecepatan yang sangat tinggi yang mungkin hampir tidak dapat dilihat oleh penglihatan mata orang biasa, Ryan langsung berlari memasuki gedung itu dan menuju lantai yang paling atas.
Hal itu karena Ryan tahu bahwa biasanya para sniper atau penembak jitu selalu berada ditempat seperti itu untuk membidik sasaran atau korbannya.
Hanya butuh waktu tidak lebih dari 5 menit bagi Ryan untuk mencapai lantai 20 yang menjadi lantai teratasnya. Ryan menuju ke lantai tertinggi itu dengan berlari sangat kencang. Dia melihat ada seorang pria dengan pakaian serba hitam sedang mencari sesuatu dengan teropong yang terus menempel dimatanya.
Ryan menghampiri pria itu dengan perlahan dan tidak menimbulkan suara sedikitpun. Dia melihat sang pria atau sang penembak jitu itu untuk beberapa saat.
"Kau sedang mencariku?" tanya Ryan langsung membuat sang penembak jitu itu terkejut dan membalikkan badannya untuk melihat seseorang yang bersuara sebelumnya.
Namun belum sempat pria itu 100% balik badan, sebuah tendangan yang cukup kuat menghantam bagian perutnya.
Buk!
Pria itu terlempar beberapa meter kesisi lain hingga menabrak pagar pembatas lantai teratas itu. Hampir saja dia terjatuh dari sana jika saja Ryan memberikan tendangan yang lebih keras lagi. Senjata laras panjang yang sebelumnya dia pegang pun terjatuh diatas lantai.
__ADS_1
"Katakan siapa kau! Mengapa kau ingin membunuhku?" ujar Ryan bertanya sambil berjalan mendekat kearah pria berpakaian hitam itu dengan tenang.
"Kau.. Bagaimana mungkin!" ucap pria itu tidak percaya.
"Jawab pertanyaanku atau kamu akan benar-benar sangat menyesal!" ucap Ryan dengan kesal yang pertanyaannya tidak digubris oleh sniper itu.
Sniper itu hanya diam, dia masih tidak menggubris apa yang diucapkan oleh Ryan. Perlahan dia bangkit dari tempat terlemparnya dan berdiri dengan tegak sambil melihat ke arah Ryan yang mulai mendekati dirinya.
"Kau tidak perlu tahu siapa aku! Yang jelas aku akan membunuhmu!" ucap pria itu dengan memasang wajah datar.
Setelah itu, dia mengeluarkan sebuah pisau lipat dari dalam saku celananya dan mengacungkannya kearah Ryan.
"Ohoo.. Kau mengajakku bermain?" tanya Ryan dengan ekspresi senang.
Tidak ada dari raut wajahnya yang sedikit pun ketakutan sebab pria berpakaian hitam itu membawa sebuah senjata lagi. Bagi Ryan, selagi itu bukan senjata api maka dia masih akan tetap tenang dan meladeni lawannya dengan jurus-jurus dari seni beladiri atau kungfu yang dia miliki.
Hal itu karena senjata api terlalu merepotkan baginya. Bagaimana tidak? Kecepatan dari laju peluru senjata api sangatlah cepat dibandingkan dengan kecepatan ayunan tangan atau tendangan kaki seorang master seni beladiri sekali pun.
Setelah itu sang pria bergerak mendekati Ryan sambil mengayunkan pisaunya ke kanan dan ke kiri untuk melukai Ryan. Namun Ryan yang notabenya adalah seorang guru besar di perguruan beladiri tengkorak hitam tentu dapat menghindarinya dengan sangat mudah.
"Aku tanya sekali lagi kepadamu! Siapa kau dan mengapa kau ingin membunuhku?" ucap Ryan bertanya disela-sela dirinya menghindar.
"Kau.. Kau masih berani bicara disaat yang seperti ini? Kurang ajar! Kau terlalu meremehkanku!" ujar pria itu dengan amarahnya yang memuncak.
Dia lalu mempercepat ritme gerakan dari setiap ayunan tangannya yang membuat Ryan cukup terkejut sejenak namun setelahnya dia kembali pada ketenangannya. Sampai saat ini Ryan masih belum membalas serangan dari sang pria. Dia hanya terus menghindar dan menghindar saja tanpa memberikan serangan balik.
"Oh.. Dengan skill penembak yang luar biasa dan gerakan bertarung selincah ini, aku yakin kamu adalah seorang mafia! Katakan! Dari kelompok mana kamu berasal?" tanya Ryan yang sudah seperti mengetahui asal-muasal dari sang pria berpakaian hitam.
Sang pria yang kesal terhadap Ryan yang selalu berkelit dalam setiap serangannya itu akhirnya berhenti dan mundur beberapa langkah sambil terus menajamkan pandangannya terhadap Ryan.
"Sepertinya kamu juga mengetahui sedikit banyak tentang mafia! Bukankah begitu?" tanya sang pria berpakaian hitam.
__ADS_1
"Yah.. Tentu saja! Karena aku juga salah satu dari kelompok itu!" jawab Ryan sambil tersenyum santai.
"Kau mengatakan bahwasanya kamu juga anggota dari salah satu kelompok mafia? Hah!" ujar pria itu tidak percaya.
"Yah.. Memang kelompokku itu tidak terlalu terkenal dengan mafia! Akan tetapi jika membahas tentang geng motor, maka kelompokku adalah yang paling besar di kota ini!" ujar Ryan yang mengatakannya dengan bangga.
"Bocah ingusan yang terlalu sombong! Mana mungkin anak kecil sepertimu ditarik oleh anggota geng motor! Terlebih kau mengatakannya adalah geng motor yang paling besar di kota ini! Cih!" ucap pria itu yang masih tetap tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Ryan.
"Baiklah-baiklah.. Kau saya tidak percaya denganku! Tapi jika begitu, kau bisa kan mengatakan dari kelompok mana dirimu itu?" ucap Ryan lagi yang masih mencoba untuk menelisik identitas pria didepannya itu.
"Hah! Baiklah! Berhubung kau akan mati sebentar lagi, maka aku akan mengatakannya agar arwahmu tidak penasaran! Aku adalah Martin! Si Setan Hitam alias penembak jitu malam dari kelompok mafia serigala bayangan!" ucap pria itu memperkenalkan dirinya sebagai Martin dengan sangat bangga.
"Oh.. Jadi kau berasal dari kelompok mafia serigala bayangan? Baiklah.. Aku akan mengingatnya!" ujar Ryan sambil menganggukkan kepalanya lalu bergerak dengan sangat cepat menuju ke arah Martin atau si setan hitam dari kelompok mafia serigala bayangan.
Martin sangat terkejut dengan gerakan Ryan yang sangat cepat itu, dia tidak menyangka bahwa seorang bocah ingusan seperti Ryan dapat bergerak secepat itu layaknya seorang master beladiri tingkat tinggi.
Akan tetapi andaikan Martin tahu bahwa Ryan nyatanya adalah seorang guru besar dari sebuah perguruan beladiri yang cukup tinggi dan terkenal, maka Martin pasti akan ketakutan hanya dengan mendengarkan namanya saja. Mereka pun kini langsung bertarung dengan sangat sengit.
Syut!
Buk! Duk!
Syut!
Buk! Buak! Buak!
Tinjuan demi tinjuan, tendangan demi tendangan satu persatu mulai mendarat di tubuh Martin yang membuatnya sedikit oleng dalam kuda-kuda bertarungnya.
"Rasakan tamparanku!" teriak Ryan.
Plaakkkk!
__ADS_1