Bersama Sistem

Bersama Sistem
Chapter 86


__ADS_3

Keempat orang itu tertawa dengan terbahak-bahak karena merasa senang dengan apa yang saat ini terjadi kepada diri Ryan. Mereka berharap bahwa pemuda itu tidak akan cepat-cepat mati sebelum dia mencapai tepat di hadapan wanita baya yang sedang mereka ikat atau ibunya.


Mereka berempat ingin menjadikan kematian pemuda itu setragis mungkin agar kepuasan batin mereka benar-benar terpenuhi. Sungguh mereka semua bukanlah manusia namun hanya wujudnya saja yang manusia.


"Pemandangan ini sangatlah indah!" ujar wanita yang berasal dari Geng Kapak Maut sambil memvideokan adegan penyiksaan itu.


"Tentu saja! Aku tidak akan mengecewakanmu seperti yang kukatakan sebelumnya," sahut Dodi sembari tersenyum melihat Ryan yang tidak berdaya.


"Dengan ini dendam pemimpin kami akan kematian tuan muda Alexander pastilah akan terobati seutuhnya!" kata wanita itu dengan senyuman puas terpampang jelas di wajahnya yang cantik.


Di sisi lain, Ryan terus mendapatkan hantaman dari tongkat bisbol dari para preman. Saat ini dirinya bergerak mendekati ibunya dengan cara mengesot karena sudah tidak dapat lagi berdiri. Tulang-tulang kakinya telah banyak sekali yang patah namun semangatnya untuk mendekati sang ibu tidak pernah patah.


Meski tatapan matanya saat ini sudahlah berkunang-kunang, dia tetap berusaha tegar dan tidak ingin kehilangan kesadarannya. Ryan menggigit bibir bawahnya hingga berdarah agar kesadarannya tetap terjaga.


Sedikit demi sedikit jaraknya dengan sang ibu mulai terpangkas dan kini hanya berkisar 5 meter saja. Para preman semakin bersemangat memukuli Ryan menggunakan tongkat bisbol mereka karena sebelumnya mereka diberikan perintah agar Ryan nantinya mati tepat dihadapan ibunya.


Saat para preman dan yang lainnya masih sibuk dengan urusan mereka masing-masing, tanpa sepengetahuan dari mereka Ryan menelan sesuatu yang berbentuk bulat dengan warna hijau cerah. Ya, itu adalah sebuah pil yang dia beli dari toko sistem untuk pemulihan dirinya.


Tidak hanya itu saja, Ryan juga membeli semacap artefak yang berguna untuk melindunginya dari segala macam rasa sakit dari serangan yang dilakukan oleh para preman. Harga yang sangat fantastis untuk Ryan membeli artefak perlindungan itu yaitu dengan mengeluarkan 200 poin sistemnya.


Ryan terus bergerak mendekati sang ibu sembari berekspresi seolah dia sangatlah tersiksa hingga jaraknya dengan Lastri tinggallah 2 meteran saja. Tubuh dan tulang-tulangnya yang patah juga terus beregenerasi tanpa sepengetahuan dari para preman dan juga Dodi serta ketiga orang lainnya.


Hanya Lastri yang melihat ada sebuah senyuman ringan yang terpancar dari sudut bibir Ryan meski hanya sekejap karena dia terus fokus melihat anaknya itu sembari terus menerus menangis tanpa suara. Lastri kebingungan akan arti senyuman itu namun dirinya langsung menyadarinya tatkala Ryan tiba-tiba bergerak membalik badan dengan posisi telentang lalu menangkap tongkat bisbol milik salah satu preman dan menariknya hingga preman itu terjungkal ke arahnya.

__ADS_1


Ryan lalu menendang leher dari preman itu dengan sangat kuat hingga preman itu pun langsung terpental dan kehilangan kesadarannya. Tidak sampai disitu saja, Ryan lalu mengeluarkan pisau lempar dari dalam brankas sistemnya dan melemparkannya kearah tangan Dodi yang sedang memegang pisau yang diletakkan dileher ibunya sembari dia berdiri dari posisi tidurannya.


"Aaaakkhh.."


Dodi pun menjerit kesakitan saat tangannya terkena pisau lempar dan menancap di tulang keringnya. Spontan saja pisau yang dia genggam langsung terlepas dan dia bergerak mundur tanpa dikomando untuk menjaga jarak.


Ketiga orang lainnya dan semua preman juga ikut menjaga jarak karena proses kebangkitan dan penyerangan balik yang dilakukan oleh Ryan itu sangatlah cepat sekali. Mereka terkejut setengah mati bagaimana bisa pemuda yang sebelumnya hampir saja tewas ternyata hanyalah pura-pura saja untuk dapat membuat serangan kejutan seperti sebelumnya.


Ryan lalu mendekati ibunya dan melepaskan tali yang mengikat menggunakan pedang samurai yang telah dia keluarkan dari dalam brankas sistemnya. Setelah itu dia pun memeluk sang ibu sembari memasangkan artefak pertahanan tanpa disadari oleh sang ibu dan memberikan juga pil yang sama untuk kesembuhannya.


Lastri hanya mengangguk dan langsung menelan pil hijau terang pemberian dari anaknya. Dia merasakan sensasi hangat di sekujur tubuhnya lalu perlahan luka-luka yang di deritanya sembuh tanpa berbekas.


Ryan melepaskan pelukannya dengan sang ibu lalu menatap kearah Dodi dan ketiga orang lainnya dengan tatapan tajam. Darahnya yang sudah mendidih akibat ibunya yang dilukai tidak akan pernah bisa dingin jika diq belum menghabisi seluruh preman dan dedengkot yang memerintahkan mereka.


"Ibu tetaplah disini dan jangan pernah bergerak! Ibu akan baik-baik saja dan tidak akan pernah ada yang dapat melukaimu lagi!" ujar Ryan kepada Lastri.


Ryan kemudian berjalan mendekati Dodi dan ketiga orang lainnya namun dengan cepat dia dihadang oleh 169 preman bersenjata tongkat bisbol.


"Kalian semua harus mati!" ucap Ryan dengan dingin sembari mengacungkan pedang katana miliknya ke arah Dodi dan ketiga orang lainnya.


"Hahaha.."


Tiba-tiba wanita cantik yang berasal dari Geng Kapak Maut tertawa lantang dan tersenyum menyeringai kepada Ryan.

__ADS_1


"Kau sangat sombong anak muda! Lewati dulu 169 orang ini, barulah kau layak berhadapan dengan kami!" kata wanita cantik itu dengan tersenyum sinis.


"Hanya melawan kroco-kroco ini? Tidak masalah sama sekali!" balas Ryan dengan sengit.


Salah satu dari 169 preman yang bersenjata tongkat bisbol yang posisinya berada di barisan paling depan merasa terprovokasi dengan Ryan yang mengatakan bahwa mereka hanyalah kroco.


"Keparat kau bocah! Akan ku bunuh kau!" teriak preman itu kemudian bergerak menyerang Ryan.


"Hah! Benar-benar tidak sayang nyawa!" ucap Ryan menanggapinya dengan sinis lalu mengayunkan pedangnya.


Srett!


"Aakh.."


Preman itu ingin menjerit namun tidak bisa karena tenggorokan sekaligus kerongkongannya telah terpotong oleh pedang ke tanah milik Ryan. Matanya melotot menatap Ryan seolah tidak percaya dengan nyawanya yang akan melayang hanya dengan satu kali tebasan pedang saja.


"Naif!" ucap Ryan dengan dingin lalu menendang preman itu hingga jatuh tersungkur dan kehilangan nyawa.


Seketika itu juga semangat bertarung dari 168 preman yang lainnya langsung menjadi surut dan gentar untuk melawan Ryan. Akan tetapi teriakan dari wanita cantik yang berasal dari Geng Kapak Maut berhasil membangkitkannya lagi.


"Apa kalian hanya akan diam seperti batu dan tidak ingin membalaskan dendam atas kematian kedua saudara kalian?"


Provokasi itu langsung membuat para preman itu bergerak secara serentak menyerang Ryan dengan tongkat-tongkat bisbol mereka. Dengan tanpa gentar dan rasa takut sedikitpun Ryan menyambut serangan dari para preman itu dengan segenap kemampuan yang dimilikinya.

__ADS_1


Trank! Trank! Trank!


Pertarungan sengit antara Ryan melawan 168 preman bersenjatakan tongkat bisbol segera terjadi dan suara dentingan benda logam yang bertemu segera terdengar memekakkan telinga.


__ADS_2