
"Ryan! Benarkah itu kamu Ryan?" ucap Lastri bertanya dengan wajah tidak percaya.
"Halo Ibu! Ya, tentu saja aku adalah anak tampanmu ini! Siapa lagi kalau bukan aku?" ujar Ryan dengan nada sok nya.
"Benarkah? Lalu.. Lalu ini mobil siapa? Mengepa bisa kamu yang membawanya? Kamu mencurinya dari mana?" tanya Lastri yang membuat Ryan hampir jatuh dari tempat berdirinya.
"Ayolah ibu.. Mobil keren ini itu mobilku! Ini surprise buat ibu! Bagaimana? Mobilku keren bukan? Hehehe.." ucap Ryan dengan lemas namun mencoba untuk tertawa.
Reaksi yang diharapkan Ryan dari Lastri ibunya ternyata tidak seperti yang diharapkan. Lastri terlihat biasa-biasa saja dengan mobil mewah milik Ryan itu.
"Lalu, siapa gadis ini?" tanya Lastri yang melihat ke arah Lintang.
"Apakah dia pacarmu?" lanjutnya yang membuat Ryan tersentak.
"Eh.. Itu ibu.. Dia Lintang Aprilia. Dia hanya temanku!" jawab Rian sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Benarkah? Jadi cuma teman! Padahal ibu sudah berharap dia adalah calon menantu ibu!" ucap Lastri dengan wajah yang kecewa.
"Ayolah Ibu.. Ryan itu masih sekolah! Ryan belum ingin memiliki pacar atau pendamping atau apalah itu.." ucap Ryan dengan nada tidak berdaya.
Lastri pun mengalihkan pandangannya kepada Lintang. Dia memeluk Lintang sebagai tanda perkenalan daripadanya.
"Kamu cantik sekali nak!" ucap Lastri memuji kecantikan Lintang.
"Terima kasih ibu!" jawab Lintang dengan malu-malu.
"Tidak perlu seperti itu! Nama ibu Lastri! Ibunya bocah nakal Ryan itu!"
"Baik bu" angguk Lintang.
__ADS_1
Keduanya pun lalu meninggalkan Ryan seorang diri ditempat itu seperti mereka sudah kenal lama dan baru bertemu lagi.
Sementara Ryan hanya bisa diam di tempat melihat keduanya yang sudah langsung akrab. Ya, begitulah wanita! Sungguh sulit untuk ditebak. Namun yang tidak Ryan percaya adalah Lintang ternyata biasa-biasa saja saat melihat rumahnya yang sangat sederhana atau bisa dibilang sangatlah buruk itu.
Parman dan Suprapto pun menghampiri Rian keduanya memberikan salam selamat datang kepada Sang Guru Besar.
"Kalian berdua! Tolong persiapkan semuanya! Kita akan pindahan nanti ketempat yang lebih baik!" ucap Ryan memberikan perintah kepada Parman dan Suprapto.
"Baik Guru Besar!" ujar keduanya menurut.
Setelah itu Ryan pun masuk kedalam rumahnya. Dia melihat Lastri dan Lintang sedang mengobrol di ruangan tamu sambil tertawa cekikikan. Hal itu membuat Ryan yang melihatnya merasa begitu aneh dengan keakraban mereka berdua. Pasalnya, mereka itu baru saja bertemu dan saling kenalan, tapi sudah seakrab ini.
"Nak! Duduklah!" ucap Lastri memandangi Ryan yang baru masuk itu dengan tatapan tajam.
Ryan merasakan firasat buruk akan pandangan dari ibunya. Namun begitu, dia tetap menurut dan duduk dikursi yang ada diruangan tamu itu bersama dengan Lastri dan Lintang.
'Jadi.. Katakanlah! Mengapa kamu begitu dingin dengan Lintang ini hah?" tanya Lastri tiba-tiba yang membuat Ryan kaget.
"Memang benar kalian itu baru kenal! Tapi apa salahnya untuk bersikap ramah kepada gadis secantik Lintang ini?" ucap sang Ibu sambil memelototkan matanya.
Wajah Lintang seketika itu memerah malu karena Lastri menyebutnya sebagai seorang gadis yang cantik. Dia sangat senang dengan sikap ramah dari ibunya Ryan. Tidak seperti anaknya yang sangat cuek dan dingin kepadanya.
"Ibuku yang paling manis, yang paling cantik, yang paling segala-galanya. Jika aku bersikap ramah kepada semua orang yang baru aku kenal itu akan sangat merepotkanku! Terlebih jika itu adalah seorang wanita!" ucap Ryan dengan asal memberikan alasan.
Namun hal yang lain langsung terjadi kepada ekspresi atau raut wajah dari Lastri. Dia sangat tidak percaya dengan anaknya yang mengatakan bahwasanya wanita itu adalah sesuatu yang merepotkan. Bukankah itu artinya dirinya juga sangat merepotkan?
"Apa katamu nak? Coba ulangi lagi? Merepotkan? Jadi selama ini kamu merasa direpotkan dengan kehadiran ibu? Ingat! Ibu adalah wanita juga! Apa mau kamu ibu kutuk jadi batu seperti Malin Kundang hah?" ucap Lastri dengan nada geram.
"Eh.. Itu.. Bukan seperti itu maksudku ibu.." ucap Ryan gelagapan.
__ADS_1
"Bukan seperti itu bagaimana? Jelas-jelas kamu mengatakan bahwa wanita itu sesuatu yang merepotkan tadi!" kata Lastri dengan nada kesal dan mata yang melotot kepada Ryan.
Pada akhirnya Rian hanya bisa menundukkan kepalanya sambil mendapatkan ceramah yang panjang dikali lebar, dikali luas dari ibunya. Dia sungguh sangat tidak menyangka bahwa ucapannya yang jujur itu akan mendapatkan reaksi yang begitu tidak seperti harapannya dari Lastri.
Sementara untuk Lintang, dia sangat puas dengan apa yang dilakukan oleh ibu Ryan kepada Ryan saat ini. Dia tertawa terbahak-bahak dala hatinya dan mensyukuri Ryan yang dimarahi habis-habisan itu.
Setelah hampir 15 menit mendengarkan ceramah dari ibunya, Ryan pun berdiri dari tempat duduknya untuk keluar dari ruangan itu guna menyiapkan apa-apa saja yang akan dibawa oleh dia beserta ibunya untuk berpindah ke Villa Gunung Emas.
Sebelumnya dia juga sudah mengatakan kepada Lastri bahwa setelah ini dia akan mengajak Lastri pindah rumah ketempat yang lebih baik atau lebih layak dari tempat tinggalnya sekarang.
Lastri hanya mengiyakan saja. Dia sangat senang jika memang apa yang dikatakan oleh anaknya itu benar adanya. Meskipun dia sebelumnya sangat kesal terhadap Rian yang mengatakan wanita adalah sesuatu yang merepotkan, namun kekesalan itu kini sudah larut karena kabar yang dibawa oleh Ryan.
.
.
Waktu berjalan dengan cepat. 1 jam telah berlalu semenjak Ryan yang dibantu oleh Parman dan Suprapto menyiapkan segala hal yang akan dibawa oleh mereka untuk pindah rumah.
Tidak hanya itu saja, Ryan juga memberikan handphone iPhone kepada sang ibu sebagai hadiah dan juga handphone Samsung kepada Parman atau Suprapto untuk dapat digunakan khusus untuk menghubunginya jika memang ada perlu.
"Jadi cuma itu saja?" tanya Ryan yang melihat barang bawaannya sudsh tertata rapih disebuah mobil truck box yang disewa oleh Parman sebelumnya.
"Ya.. Hanya itu yang kita miliki nak!" ujar Lastri.
"Baiklah.. Suprapto! Kamu bawa truck itu! Lalu kamu Parman! Bonceng Lintang dengan motormu! Aku dengan ibu akan naik mobil!" ujar Ryan memberikan rencananya.
"Apaa! Aku dibonceng Parman? Tidak! Aku tidak mau!" ucap Lintang yang protes tidak mau menurut.
Dia tentu sangat keberatan dengan rencana Ryan ini. Apalagi disuruh dibonceng motor oleh Parman yang mana dia adalah seorang preman yang berwajah agak sangar. Bagaimana mungkin dia mau?
__ADS_1
"Ayolah Lintang! Ini hanya sebentar saja! Paling-paling cuma dua jam! Setelah itu kamu akan aku antarkan pulang lagi dengan mobilku!" ujar Ryan tidak berdaya.
"Kalo aku bilang tidak mau, ya tidak mau!" ucap Lintang yang kekeh tidak menurut.