
Ryan melepaskan tali yang mengikat pria paruh baya dengan sekali tebasan pedangnya yang membuat jantung pria itu dag-dig-dug tidak karuan. Pria paruh baya itu hanya bisa membuka mulutnya lebar-lebar melihat aksi penyelamatannya oleh seorang pemuda didepannya.
Ryan sendiri hanya tersenyum melihat ekspresi atau wajah aneh yang saat ini sedang dipasang oleh pria paruh baya yang ditolongnya itu. Ryan tahu bahwa pria itu pasti sedang berfikir tidak menyangka nyawanya akan selamat sampai saat ini.
Setelah itu, Ryan mengambil sarung pedang dan menyimpan kembali pedang katana kedalam brangkas penyimpanan Sistemnya sambil terus menodongkan moncong pistol kearah si Bos preman yang sedang berguling-guling kesakitan.
Hal itu tentu membuat pria paruh baya yang melihatnya semakin melebarkan mulutnya yang terbuka. Jika sebelumnya mulutnya bisa dimasuki dua jari saja, maka sekarang bahkan empat jari sekaligus bisa dimasukkan dan muat olehnya.
Sungguh, pemuda didepannya itu benar-benarkah seorang pendekar sekaligus pesulap yang mampu memenghilangkan benda sesuka hatinya? Pertanyaan demi pertanyaan menggelayut dibenak pria paruh baya.
Ryan mendekati si Bos preman dan menendang kakinya yang membuat orang itu tersadar dari rasa sakit yang lain dan berpindah memegangi kakinya. Dia menatap Ryan dengan mata penuh ketakutan.
"Katakan siapa kalian? Atau aku DOR kepala botakmu!" ucap Ryan bertanya sambil mengancam si Bos preman yang memang berkepala botak.
Si Bos preman itu benar-benar ketakutan dengan Ryan yang mengarahkan moncong pistolnya sendiri tepat diatas kepalanya. Dia ingin menjawab, namun lidahnya terasa begitu kelu untuk berucap karena begitu ketakutan.
"Oi.. Tenanglah! Tidak perlu begitu ketakutan seperti itu! Aku tidak akan menembaknya jika kamu menjawab pertanyaanku tadi!" ujar Ryan yang melihat si Bos preman sangat ketakutan. Dia juga melihat kearah pangkal paha si Bos preman yang sudah basah karena ompol.
"Cih! Jorok sekali! Sudah tua tapi masih mengompol! Cepat jawab! Aku akan menghitungnya sampai hitungan ketiga!" cibir Ryan lalu mengucapkan ancamannya lagi dengan mulai berhitung.
"B-baik Tuan! A-aku akan menjawab!" ucap si Bos preman dengan terbata-bata karena ketakutan dan menahan rasa sakit.
"Bagus! Cepat katakan siapa kalian dan mengapa kalian dengan terang-terangan hendak membunuh pak tua itu dipinggir jalan malam-malam begini?" tanya Ryan.
"B-baik! Namaku Paijo! Kami dari geng macan malam! Kami ditugaskan oleh seseorang untuk meminta suatu barang berupa disk kepada Pak Farid ini!" jawab si Bos preman yang bernama keren Paijo.
__ADS_1
"Siapa yang menugaskanmu?" tanya tiba-tiba pria paruh baya bernama Farid yang sudah mendekat dibelakang Ryan.
"Pak Farid! N-nyonya S-sufi yang memperkerkerjakan kami!" jawab Paijo dengan ketakutan.
"Apaa!" Farid sangat terkejut saat mengetahui orang yang mengutus para preman dari geng macan malam itu.
Orang yang mengutus mereka tidak lain adalah istrinya sendiri. Sungguh istri yang benar-benar sangat tidak terduga dan pengertian! Sampai saking pengertiannya dia ingin menjadi malaikat pencabut nyawa bagi suaminya sendiri!
Si Bos preman Paijo juga menceritakan bahwa Nyonya Sufi telah mengetahui isi dari disk yang dimiliki Farid. Maka dari itu Nyonya Sufi menugaskan mereka untuk merebut disk itu dari Farid dan menguasai seluruh harta dan data yang tersimpan dalam disk itu.
"Ayolah pak tua.. Bukankah istrimu sangatlah pengertian?" tanya Ryan mengejek.
"Sial!" gerutu Farid. Dia sangat tidak percaya dengan apa yang dilakukan istrinya itu.
"Oiya.. Kalian para anggota geng macan malam, datanglah ke markas geng Tengkorak Hitam dan tunduklah kepada mereka! Katakan bahwa aku Ryan yang menyuruh kalian! Jika esok hari aku menanyakan kepada paman Rio kalian belumlah datang dan tunduk, maka aku akan memerintahkan mereka untuk menghabisi kelompok kecil kalian!" lanjut Ryan sambil melihat kearah si Bos dan anggotanya.
Ryan melihat kearah satu orang yang terpotong tangannya lalu menghampirinya. Ryan menotok beberapa saraf nadinya untuk menghentikan pendarahan pria itu.
"Aku tidak bisa mengembalikan tanganmu yang terpotong! Tapi setidaknya kamu tidaklah mati!" ucap Ryan lalu beranjak pergi dari tempat itu.
Namun sebelum Ryan pergi, Farid dengan tergesa-gesa menghentikannya. Tentunya Farid ingin berterima kasih kepada pemuda yang telah menyelamatkannya itu.
"Tuan! Nama anda Ryan bukan? I-ini kartu nama saya! Jika Tuan Ryan membutuhkan sesuatu atau rekan berbisnis, maka hubungi saja nomor yang tertera disini! Aku akan siap membantu Tuan Ryan!" ucap Farid sambil menyodorkan kartu namanya kepada Ryan.
Ryan hanya menerima kartu itu lalu mengantonginya disaku celananya.
__ADS_1
"Baiklah pak tua Farid! Jika memang aku membutuhkan sesuatu nanti, aku tidak akan sungkan menghubungi anda!" ujar Ryan lalu beranjak pergi dari tempat itu.
Dia tidak ingin berlama-lama di tempat itu, mengingat sekarang sudah pukul 23.00. Yang mana jika dia pulang lebih malam lagi, maka ibunya pasti akan memberikan ceramah yang sangat panjang kali lebar ples luas kepadanya. Dan hal itu tentu tidak diinginkan Ryan karena menurutnya itu sangatlah membosankan.
Dia meninggalkan Farid dan orang-orang dari geng macan malam tanpa peduli apa yang akan mereka lakukan. Ryan juga menyimpan pistol milik Paijo kedalam brangkasnya untuk jaga-jaga bilamana dia suatu hari nanti terdesak oleh sesuatu dan menjadikannya sebagai senjata pamungkas.
Sementara itu untuk para geng macan malam mereka dibuat tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Ryan sebelumnya. Mereka merasa salah dengar dengan ucapan itu. Bagaimana tidak? Sebelumnya Ryan mengatakan bahwa mereka harus datang ke markas geng motor yang sangat mengerikan di kota ini dan harus menyatakan tunduk kepadanya.
Jika mereka tidak mau, maka pemuda yang sebelumnya menghajar mereka itu akan melaporkan kepada si Bos dari geng motor tengkorak hitam untuk menghancurkan kelompoknya.
Hal seperti itu tentulah menjadi pukulan berat bagi geng macan malam. Tunduk kepada orang lain atau kelompok lain merupakan hal yang sangat hina bagi sekelompok orang seperti mereka.
Namun jika mereka menolak maka hanya kehancuran atau kematian yang akan diterima oleh kelompok kecil seperti geng macan malam. Maka mau tidak mau mereka harus segera datang ke markas geng motor tengkorak hitam untuk menyatakan tunduk.
Paijo beserta keenam orangnya langsung pergi meninggalkan Farid ditempat itu dengan tanpa berbicara sepatah kata pun. Mereka pergi dengan terburu-buru karena takut Ryan akan melaporkan perihal sebelumnya kepada Rio atau si Bos geng tengkorak hitam sementara mereka belumlah datang untuk tunduk.
***
Sementara itu di tempat lain, Ryan sudah melajukan motor milik Suprapto dengan sangat kencang untuk kembali ke rumahnya. Dia tidak ingin terlalu malam untuk sampai ke rumah dan menerima omelan dari sang ibu. Dan akhirnya setelah 1 jam atau lebih tepatnya pada pukul 00:00 Rian telah tiba di rumahnya.
Saat baru saja dia turun dari motor, dia begitu terkejut karena melihat seorang wanita setengah baya yang sangat dia kenali yang tidak lain adalah ibunya sedang duduk di depan teras rumah sambil memandanginya dengan tatapan tajam.
Seketika tubuh Ryan menjadi merinding melihat tatapan dari ibunya itu.
"Dari mana saja? Kenapa baru pulang semalam ini? Apa lagi kamu hanya pamit dengan menelfon, apa seperti itu yang ibu ajarkan kepadamu? Apa kamu juga lupa bahwa besok juga masih harus kuliah?" rentetan pertanyaan langsung dilontarkan oleh Lastri kepada anak bandelnya itu dengan nada sangat kesal yang membuat Ryan tidak berdaya.
__ADS_1