
Sebuah tamparan yang sangat keras dari Ryan mendarat dipipi kiri pria berpakaian hitam itu dan langsung membuatnya oleng dan terhubung-huyung karena rasa sakit dan pusing.
"Aw.. Lumayan panas juga telapak tanganku!" ujar Ryan sambil mengipas-ngibaskan tangannya yang terasa panas.
Sementara untuk pria berpakaian hitam itu yang merasakan rasa sakit dan pusing luar biasa di kepalanya akhirnya tidak dapat mempertahankan keseimbangannya. Dia pun terjatuh di atas lantai serta pisau lipat yang dia pegang sebelumnya pun terlepas dari genggamannya.
Terlihat dari sudut bibir pria berpakaian hitam atau yang Ryan kenal sebagai Martin mengeluarkan darah yang cukup banyak. Hal itu tentu karena bagian dalam dari pipi Martin yang pecah serta beberapa giginya yang bergeser sebab kuatnya tamparan tangan Ryan.
"Aakkhhh.." teriak Martin yang kesakitan sambil memegangi pipi kirinya yang memerah dan bengkak.
"Bagaiamana kawan? Jurus tamparan mautku cukup lumayan bukan? Hehehe.." tanya Ryan sambil mengambil pisau lipat milik Martin dan menghilangkannya kedalam brangkas sistem.
Ryan juga melakukannya kepada senjata laras panjang milik Martin itu yang membuat kebingungan si pemilik. Martin menatap Ryan dengan tatapan penuh kebencian. Bagaimana tidak? Dia merasa telah benar-benar dipermainkan oleh bocah sialan itu. Padahal dalam kelompok mafia Serigala Bayangan dia termasuk orang yang sangat dihormati karena prestasi dan kehebatannya menembak dimalam hari.
Martin kemudian kembali bangkit untuk berdiri. Tatapannya tidak pernah lepas dari Ryan yang sangat dia benci itu. Kaki Martin mulai kembali memasang kuda-kuda bertarungnya.
Tangannya menggenggam dengan sangat erat membuat sebuah tinju yang akan dia gunakan untuk memukul serta menghantam wajah Ryan sebagai balas dendam.
"Majulah!" ujar Ryan sambil memberikan kode berupa gerakan jari kepada Martin untuk mendekatinya.
"Keparat!" teriak Martin dengan marah.
Dia lalu bergerak dengan sangat cepat untuk menyerang Ryan. Dengan kecepatan serangnya itu jika memang Ryan hanyalah orang memiliki kekuatan orang biasa-biasa saja, maka sudah dipastikan dia akan terluka oleh Martin.
Ryan berkelit kesana-kemari, kekanan dan kekiri dengan lincah untuk menghindari setiap serangan yang dilontarkan oleh tinju atau tendangan milik Martin. Alhasil, setiap serangan yang dikirim oleh anggota mafia serigala bayangan itu hanya mengenai udara kosong yang mengecewakan.
"Sial! Apa kau hanya mampu menghindar lalu meloncat kesana-kemari seperti kodok hah?" teriak Martin dengan frustasi. Tenaganya ini telah terkuras cukup banyak karena membuat serangan yang berturut-turut dan tidak ada jeda.
__ADS_1
"Jadi maksudmu aku harus dengan pasrah menerima pukulan dan tendanganmu itu? Apa kau ini benar-benar sudah gila?" ujar Ryan menanggapi teriakan Martin dengan pertanyaan mengejek.
"Aaakkhh.. Bangs*t kau bocah sialan! Aku akan menghajarmu!" teriak marah Martin.
"Cih! Dari tadi kamu hanya berteriak-teriak saja ingin menghajarku, namun satu serangan pun tidak ada yang bisa menyentuhku sama sekali! Apa kau tahu jika telingaku sangat sakit mendengar teriakan burukmu itu!" ujar Ryan dengan kesal juga.
Setelah mengatakan hal itu, Ryan langsung bergerak dengan sangat cepat menggunakan teknik-teknik kungfu yang telah dia kuasai untuk menghajar Martin, terlebih dibagian mulutnya yang sangat berisik itu. Beberapa kali Ryan menampol mulut Martin itu hingga kedua bibirnya pun pecah dan berdarah.
Bak! Buk! Bak! Buk!
Plak! Plak! Buk! Buk!
Ryan terus mengeksekusi jurus-jurus kungfunya yang dia gabungkan dengan seni pijat supernya itu kepada sekujur tubuh Martin sehingga membuat lawannya itu tidak bisa berkutik sedikitpun, apalagi untuk membalaskan serangan.
Bagaimana mungkin seni bela diri dapat digabungkan dengan seni pijat super oleh Ryan? Jawabannya tentu saja mungkin! Karena Ryan berfokus kepada serangan kuat dan fatal dengan jurus-jurus kungfunya lalu serangan yang menyerang urat dan syaraf untuk melumpuhkan lawan dengan teknik atau seni pijat supernya.
Bukkk!
"Uhuk!"
Martin sampai dibuat terbatuk darah karena pukulan Ryan yang sangat kuat itu. Setelah itu, Ryan melepaskan pegangan tangan kirinya pada kerah baju Martin yang seketika membuat Martin terjatuh dan terkapar diatas lantai.
Ryan lalu mengeluarkan handphone iPhone miliknya dari saku celana dan mencari nomor Rio atau si Bos geng motor tengkorak hitam. Tanpa menunggu waktu lama, Rio pun langsung mengangkat telepon dari tuannya yang tidak lain adalah Ryan itu sendiri.
"Hallo Guru Besar! Bagaimana kabar anda?" tanya suara Rio dari telfon.
"Aku baik-baik saja! Oiya, aku menelepon karena aku ingin bertanya sesuatu hal!" jawab Ryan tidak basa-basi.
__ADS_1
"Syukurlah jika Guru Besar baik-baik saja! Sesuatu apa jika boleh aku tahu?" ujar Rio bertanya.
"Mafia Serigala Bayangan! Apakah kau mengenal mereka?" tanya Ryan dengan nada serius.
"Serigala Bayangan? Tentu saja aku mengenal mereka Guru Besar! Mereka adalah kelompok mafia yang lumayan berkelas dari kota sebelah!" jawab Rio.
"Bagus jika kamu mengetahui! Segera selidiki tentang kelompok itu! Aku baru saja mendapatkan masalah dengan salah satu anggota mereka yang bernama Martian!" kata Ryan.
"Apaa! Martin si setan hitam dari serigala bayangan? Apakah dia membidik Guru Besar dengan keahlian menembaknya?" tanya Rio sangat terkejut.
"Benar sekali! Tapi aku berhasil selamat dari tembakannya itu dan sekarang aku juga telah mengajarnya hingga babak-belur!" kata Ryan.
"Baik Guru Besar! Aku kan setelah menyelidiki kelompok serigala bayangan itu dan mencari tahu tentang orang yang mengirimkan si hitam untuk membunuh Guru Besar!" ucap Rio setelahnya.
"Baik! Aku akan menunggu kabar darimu secepatnya!" ujar Ryan lalu menutup telfonnya tanpa menunggu jawaban dari Rio.
Setelah selesai menelfon, Ryan melihat Martin yang sedang terkapar akibat tinjuan kerasnya itu sambil terus memegangi perutnya yang sakit.
"Oi.. Bangun!" ujar Ryan sambil menjewer telinga Martin. Kini janjinya yang dia ucap sebelum keluar dari mobil itu akhirnya terpenuhi.
Janji konyol yang akan membuat orang yang hampir membunuhnya dan membuat kaca mobil barunya pecah babak-belur dan menjewer telinganya dengan parah sampai kapok.
"Akhh.. Sakit! Lepaskan.. Tolong lepaskan! Ampuni aku! Ampun!" teriak Martin yang kesakitan saat kupingnya dijewer sampai terasa seperti akan robek.
"Huh! Sekarang sudah babak-belur dan kalah bertarung baru minta ampun! Kemana keberanian dan kesombonganmu tadi hah?" tanya Ryan dengan kesal.
"Tidak-tidak! Aku tidak berani! Aw! Aw! Ampuni aku.. Telingaku! Sakiiit!" ujar Martin dengan buru-buru.
__ADS_1
Ryan tidak terlalu menggubris teriakan kesakitan dari Martin. Dia terus menjewer telinganya tanpa ingin tahu seberapa perihnya rasa sakit yang dirasakan oleh Martin.