
Malam itu pun Ryan tidak bisa memejamkan matanya lagi karena kerinduan yang melanda hatinya. Wajah wanita cantik bercahaya yang sedang tersenyum kepadanya itu tidak pernah sedetikpun hilang dari bayang-bayang Ryan.
Akhirnya untuk mengisi kebosanannya, Ryan keluar dari kamar dan berkeliling di villa gunung emas miliknya. Dia ingin melihat bagian villa yang lainnya yang mana tempat itu adalah tempat rekreasi untuk kalangan umum.
Sesampainya di sana, Ryan mendapati tempat itu masihlah cukup ramai karena pengunjung yang terus berdatangan. Ryan tersenyum kemudian melangkahkan kakinya menuju ke villa itu dan berniat untuk melihat terdapat hiburan apa saja sehingga sampai pada waktu malam hari pun masih ramai dikunjungi orang-orang.
Salah satu pelayan yang melihat kedatangan Ryan langsung saja menyambutnya dengan sangat ramah, namun hanya seperti penyambutannya kepada tamu-tamu biasa. Tampaknya pelayan wanita tersebut masihlah baru dan belum pernah melihat bos utama dari villa gunung emas.
Akan tetapi hal itu cukup membuat Ryan puas karena konsistensi para pelayan yang menyambut kedatangan para pengunjung meskipun pengunjung itu hanyalah berjalan kaki sepertinya.
"Selamat datang di villa gunung emas tuan!" ucap pelayan wanita itu dengan hormat.
"Terima kasih nona!" jawab Ryan sambil menganggukkan kepalanya dan melangkahkan kakinya menuju ke area dalam.
"Oiya, siapa namamu nona?" ucap Ryan yang sengaja menghentikan langkah kakinya lalu bertanya kepada pelayan wanita itu padahal dia sudah mengetahuinya melalui fitur pemindaian sistemnya.
"Nama saya Indri tuan! Ada apa tuan bertanya mengenai nama saya tuan?" tanya balik Indri yang kebingungan.
"Ah! Tidak ada apa-apa! Oiya, besok pagi kamu datanglah ke villa utama gunung emas ya! Katakan saja kepada satpam atau yang berjaga di sana bahwa kamu dipanggil secara pribadi oleh Ryan! Okey?" ucap Ryan sambil kembali membalik badannya memasuki bagian dalam tempat hiburan villa gunung emas.
"Baik tuan!" angguk Indri yang mengiyakan saja.
Indri sebenarnya sangat kebingungan dengan identitas sebenarnya dari pemuda tampan yang baru saja memasuki bagian dalam tempat hiburan villa gunung emas itu. Akan tetapi dia merasa bahwa nama Ryan itu sangatlah familiar sekali di sini namun dia lupa siapa pemilik dari nama itu.
__ADS_1
Akhirnya, setelah Indri menghelakan nafasnya, dia pun kembali bertugas untuk menyambut setiap tamu yang datang memasuki tempat hiburan villa gunung emas.
***
'Aku tidak menyangka akan menemukan seorang gadis yang memiliki keahlian kungfu tingkat menengah di tempat seperti ini' batin Ryan sambil berjalan melihat-lihat tempat hiburan.
Ryan mendapati bahwa lantai bawah yang saat ini sedang dia tempati adalah sebuah restoran yang sangat mewah dengan hidangan-hidangan yang memanjakan perut. Ryan kemudian duduk di salah satu tempat yang kosong yang berada di sudut ruangan itu.
Dia lalu memanggil salah satu pelayan untuk mendatanginya dengan mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Dengan segera salah satu pelayan yang memiliki rupa cukup cantik menghampiri tempat duduk Ryan.
"Ada yang bisa saya bantu tuan?" tanya pelayanan tersebut dengan tersenyum lembut dan sangat ramah.
"Tolong bawakan aku makanan yang paling enak sekaligus minuman paling nikmat yang kalian miliki di tempat ini!" jawab Ryan sambil membalas senyum pelayan tersebut.
Ryan lalu mengambil sebuah kertas yang sudah di pres menggunakan plastik yang tergeletak di atas mejanya. Ryan mulai membacanya satu persatu dan mengetahui bahwa isi kertas tersebut adalah mengenai hiburan apa saja yang berada di villa gunung emas sekaligus menu-menu makanan yang ada di restoran ini.
Ryan mendapati bahwa villa gunung emas miliknya itu menyediakan berbagai macam fasilitas seperti tempat kemah yang berupa tenda-tenda untuk mereka yang ingin menikmati keindahan kota dari atas gunung, kolam renang air hangat dan dingin, tempat motor track, restoran, bar dan lain-lain.
"Sebuah bar di lantai dua?" ucap Ryan sambil mengerutkan keningnya.
Dia cukup terkejut dengan keberadaan bar yang juga termasuk miliknya itu. Untung saja Lastri ibunya tidak pernah berniat untuk mendatangi bagian lain villa untuk melihat-lihat. Jika saja dia sampai tahu, mungkin Ryan pasti akan mendapatkan sebuah ceramah yang berisikan kata-kata mutiara dari ibunya selama berjam-jam.
Tidak berapa lama kemudian, pelayan yang sebelumnya mendatanginya pun kembali datang dengan membawakan sepiring makanan dan segelas minuman yang terlihat sangatlah enak sekali. Dengan telaten si gadis pelayan meletakkan makanan dan minuman itu di atas meja tempat di depan Ryan.
__ADS_1
"Silakan dinikmati tuan!" ucap gadis pelayan itu lalu berjalan mundur untuk pergi lagi meninggalkan Ryan.
"Terima kasih!" ucap Ryan sambil menganggukkan kepalanya dan tersenyum ramah.
Sebelum memulai acara makannya, Ryan terlebih dahulu melihat kertas sebelumnya mengenai nama makanan dan minuman yang dia pesan ini sekaligus melihat harganya.
"Wow! Cukup mahal juga! Makanan yang hanya secuil ini memiliki harga 1,5 juta, sementara minumannya adalah 250.000! Aku harap rasanya tidak mengecewakan!" ucap Ryan dengan pelan dan hanya dirinya saja yang dapat mendengarnya.
Kemudian dirinya pun mulai mengambil satu iris makanan dan melahapnya. Ryan memelototkan matanya saat merasakan betapa nikmat dan enaknya makanan itu. Dia sungguh tidak menyangka bahwa akan makan makanan yang sangat lezat layaknya hidangan surgawi saja. Sangat layak bahwa makanan ini memiliki harga yang cukup fantastis.
'Hehehe.. Aku harus memiliku resep sekaligus meminta para koki yang bekerja di sini untuk mengajariku membuatnya!' batin Ryan sambil sudut bibirnya memancarkan senyuman tipis.
Tidak butuh waktu lama dirinya pun sudah menyelesaikan acara makan dan minumnya yang terasa sangat memuaskan itu. Dia lalu mendatangi meja kasir untuk melakukan pembayarannya. Ryan mengeluarkan black card miliknya yang membuat kasir itu sedikit terkejut untuk beberapa waktu.
Black card adalah sebuah kartu kredit yang hanya dimiliki oleh para konglomerat dan minimal isi di dalam black card adalah satu triliun uang. Dengan cepat kasir itu menggesek black card Ryan lalu mengembalikannya lagi.
"Terima kasih karena telah berkunjung di restoran villa gunung emas tuan! Semoga tuan puas dengan pelayanan kami dan hidangan yang kami sajikan!" ucap kasir tersebut dengan tersenyum sambil menangkupkan kedua tangannya untuk menunjukkan rasa hormat.
"Sama-sama!" jawab Ryan kemudian pergi meninggalkan restoran untuk kembali melihat-lihat bagian atau fasilitas lain yang dimiliki oleh villa gunung emas.
Malam itu Ryan benar-benar seperti seorang bos yang sedang melakukan pemantauan rahasia mengenai kinerja dari para pekerjanya karena kehadirannya sama sekali tidak dikenali oleh banyaknya pelayan baru ditempat itu.
Ryan tidak mendapati satu kekecewaan pun dari pelayanan yang diberikan oleh para pekerjanya. Ryan sangat puas dengan mereka semua dan dia berniat untuk memanggil manajer untuk memberikan bonus kepadanya. Itu karena semua ini tidak akan pernah bisa tercapai tanpa kerja keras dari sang manajer.
__ADS_1