Bersama Sistem

Bersama Sistem
Chapter 28


__ADS_3

Handphone Ryan kembali berbunyi dengan nada melodi dari lagu minang yang berjudulkan 'satu rasa cinta'. Itu memang lagu favorite Ryan akhir-akhir ini. Waktu itu, dia tidak sengaja mendengar lagu pada saat dirinya jalan-jalan dipasar dan melewati pedagang kaset yang sedang menyetel lagu minang itu. Alhasil, Ryan pun mendengarkannya dengan seksama dan sangat menyukai nada, syair dan melodinya yang sangat teratur dan santai.


Ryan mengangkat telfon itu yang ternyata dari orang yang dia hubungi mengenai Villa di Gunung Runju.


"Hallo!" ucap Ryan.


"Hallo Tuan! Saya adalah orang yang anda hubungi sebelumnya! Saya telah menanyakan kepada pemilik Villa dan mendapat persetujuan darinya tentang penawaran anda!" ucap orang itu yang tidak lain adalah asisten dari Dodi, ayah Brian.


"Baiklah Tuan! Kapan kiranya aku bisa mengurusnya?" tanya Ryan.


"Tuan bisa mendatangi Villa Gunung Runju sekarang juga ataupun besok!" jawab Asisten Dodi.


"Baik! Aku akan datang sekarang saja!" ujar Ryan yang memang tidak ingin berlama-lama mengemban tugas yang belum selesai dari Sistem.


"Baik Tuan! Saya akan menunggu Tuan dipintu gerbang Villa!" ucap Asisten Dodi.


"Okey.. Saya meluncur sekarang!" ujar Ryan lalu menutup telfonnya dan langsung menghidupkan mesin motor.


Bruummm...


Ryan menarik gas kuat-kuat agar segera sampai di Gunung Runju. Jaraknya dengan gunung itu cukuplah jauh. Ryan harus menempuh dua jam perjalanan meski melaju dengan kecepatan tinggi ini.


Sepertinya Ryan juga harus pulang lebih malam daripada yang dia pikirkan sebelumnya. Mengingat saat ini waktu sudahlah sangat sore dan hampir maghrib. Terlebih mungkin ibunya akan marah atau sedikit kesal dengannya karena pergi tanpa izin kepadanya terlebih dahulu.


Hal ini sangat wajar bagi seorang ibu kepada anaknya yang tentu mengkhawatirkan sang anak yang pergi tanpa pamit kepadanya dan pulang dengan terlambat.


Ryan terus melaju motornya dengan kecepatan tinggi hingga 2 jam telah berlalu tanpa terasa dan tibalah dia di depan pintu gerbang Villa Gunung Runju.


Ryan melihat ada seorang laki-laki paruh baya yang seperti sedang menunggu seseorang. Ryan berpikir bahwasanya lelaki paruh baya itu adalah orang yang menghubunginya sebelumnya dan sedang menunggunya datang.


Ryan menghampiri lelaki paruh baya itu dan menanyakan apakah benar orang itu yang dimaksud.

__ADS_1


"?Apakah Anda tuan Seno?" tanya Ryan.


"Oh.. Benar sekali! Apakah Tuan yang menghubungiku sebelumnya?" tanya balik Asisten Dodi yang bernama Seno.


"Tepat! Namaku Aji! Maaf telah membuat Tuan Seno menunggu sedikit lebih lama!" ujar Ryan yang menggunakan namanya yang lain.


"Tidak masalah! Mari kita masuk dulu dan membicarakan hal yang telah kita sepakati!" ujar Seno lalu mempersilahkan Ryan masuk.


Ryan memarkirkan motornya di tempat parkir yang ada di depan pintu gerbang Villa tersebut. Setelahnya dia mengikuti Seno masuk ke dalam villa.


Hal pertama yang dilihat oleh Ryan adalah dia tercengang dengan kemegahan Villa tersebut. Dia sungguh tidak menyangka bahwa bangunan atau arsitektur dari villa tersebut sangatlah unik dan mewah.


"Selamat datang di Villa Gunung Runju Tuan!" ucap Seno mempersilahkan Ryan untuk masuk.


"Terima kasih Tuan Seno!" ucap Ryan dengan tulus.


Seno lalu mengajak Rian masuk ke dalam ruang tamu Villa tersebut kemudian dia meminta para pelayan yang dipekerjakan di Villa untuk membuatkan minuman berupa teh atau kopi serta membawa camilan untuk Ryan.


"Silakan dinikmati Tuan-tuan!" ucap salah satu pelayan dengan ramah.


"Baik! Terima kasih! Kalian boleh pergi sekarang!" ucap Seno yang tidak ingin ada orang lain yang mengganggu bisnis yang akan dia lakukan bersama Ryan.


Para pelayan akhirnya pergi meninggalkan Shino dan Rian berdua di ruang tamu Villa Gnung Runju.


Setelah beberapa saat menikmati hidangan yang telah disajikan oleh para pelayan, Seno akhirnya mulai membuka suaranya dengan menjelaskan spesifik tentang Villa yang akan dijual oleh Tuannya.


"Jadi bagaimana Tuan Aji?" tanya Seno setelah selesai menjelaskan.


"Ya.. Aku setuju saja! Seperti yang sudah kita sepakati bahwa saya akan membayar langsung Villa ini sekarang juga 30 milyar!" jawab Ryan lalu mengeluarkan handphone barunya yang bermerk i-Phone 14 Pro Max itu dan membuka aplikasi banking yang sudah dia tautkan dengan rekeningnya.


Bersamaan dengan itu, Seno membukakan berkas-berkas atau surat-surat tanah dari Villa tersebut di atas meja dan memperlihatkannya kepada Ryan.

__ADS_1


"Baiklah.. Jadi di nomor rekening siapa aku harus mengirimkan uangnya sekarang?" tanya Ryan.


"Tentu di nomor rekening saya Tuan Aji! Dan ini nomornya!" jawab Seno lalu menunjuk nomor rekening yang tertuliskan diatas berkas.


Ryan lalu mencatat nomor rekening Itu pada nomor tujuan yang akan dia transfer uang. Selesai menuliskan sandi atau kode pin, Ryan memperlihatkan kepada Seno dan memintanya untuk mengeklik tanda OK pada hanphonenya.


Seno hanya menurut. Dia memencet tombol OK pada handphone Ryan dan seketika notifikasi tanda telah tertransfernya uang senilai 30 milyar telah sukses dikirimkan.


"Baik Tuan Aji! Silakan tanda tangani berkas-berkas ini sebagai tanda bahwa kepemilikan Villa Gunung Runju telah beralih kepada Tuan!" ucap Seno setelahnya.


"Baik!" jawab Ryan lalu menandatangani surat-surat diatas materai.


Selesai melakukan itu Seno mengajak Ryan untuk bersalaman sebagai tanda kesepakatan mereka telah Deal dan transaksi penjualan serta pembelian Villa telah selesai.


"Baiklah.. Sekarang Villa ini telah sepenuhnya berada di bawah kepemilikan anda Tuan Aji!" ucap Seno.


"Saya akan meminta manajer yang mengurus Vila ini beserta semua pelayan yang ada untuk berkumpul segera ke tempat ini!" ujarnya lagi lalu menelfon seseorang untuk beberapa saat lalu mematikannya kembali.


Hanya butuh waktu 5 menit sebelum semua orang yang bekerja di villa itu datang ke tempat Ryan dan Seno berada. Terlihat dari wajah mereka ada raut kebingungan dengan alasan mengapa mereka dikumpulkan di tempat ini.


Seno pun menjelaskan alasannya dan mereka semua tidak mempermasalahkan kepemilikan Villa yang telah berpindah itu, selagi mereka masih dapat bekerja di tempat ini dengan gaji yang sama.


"Baiklah Tuan Aji! Semuanya sudah selesai! Kalau begitu saya akan pamit undur diri!" ucap Seno sambil berdiri dari tempat duduknya.


"Baik! Silakan Tuan Seno! Senang berbisnis dengan anda!" balas Ryan lalu mengajak Seno bersalaman sekali lagi.


Seno pergi dengan diantar oleh satu pelayan, sementara Ryan langsung melihat ke para pelayan serta manajer Villa dan memberikan beberapa patah kata yang langsung disetujui oleh mereka dengan anggukan.


Setelah itu mereka semua pun pergi meninggalkan Ryan seorang diri di ruang tamu.


"Baiklah.. Sekarang waktunya untuk membeli mobil sport!" ucap Ryan sambil tersenyum melihat Hp i-Phone miliknya dan mulai mencari-cari mobil mewah yang menurutnya bagus untuk dia beli.

__ADS_1


__ADS_2