
Ryan memasuki kelasnya. Tidak berapa lama bel pun berbunyi tanda sebentar lagi dosen akan segera masuk untuk memulai pelajaran. Prosesi belajar mengajar itu berlangsung dengan tenang. Namun tiba-tiba Ryan mengangkat tangannya memberi tanda kepada dosen.
"Ada apa Yan?" tanya sang dosen wanita baya itu.
"Itu bu.. Aku mau izin ketoilet sebentar boleh?" tanya Ryan.
"Tidak seperti biasanya kamu Yan, yang izin keluar saat ada pelajaran!" ujar bu dosen yang merasakan perbedaan.
"Iya bu.. Maaf! Tapi ini sudah benar-benar diujung tanduk dan akan berujung kefatalan!" ucap Ryan yang membuat semua murid kelas tertawa.
Dia memasang ekspresi wajah lucu layaknya orang yang benar-benar dalam kondisi gawat darurat dan bisa fatal jika dibiarkan lebih lama lagi. Padahal alasan asli dari Ryan adalah karena Sisteah yang menyuruhnya keluar dari kelas.
"Baiklah.. Cepat keluar! Jangan sampai lepas disini!" ujar Bu dosen sambil melambaikan tangannya layaknya orang yang mengusir.
Dengan berteriak ringan Ryan berlari meninggalkan kelas dengan terburu-buru seolah dia benar-benar sudah tidak tahan. Para murid kelasnya tertawa lepas sementara sang dosen hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
Ryan benar berlari menuju kearah dimana toilet berada agar tidak menimbulkan kecurigaan. Sesampainya di toilet, dia langsung menanyakan perihal apa dirinya disuruh keluar dari kelas kepada Sistem.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa kamu menyuruhku untuk keluar kelas? Padahal pelajaran itu sangat penting dan aku harus mengetahuinya!" ujar Ryan yang protes kepada Sistem.
Sistem tidak langsung menjawab. Dia diam terlebih dahulu yang membuat Ryan sedikit kesal. Dia sangat tidak ingin ketinggalan pelajaran.
[Ding! Selamat! Tuan telah menyelesaikan tugas dari Sistem yaitu menghabiskan seluruh uang hasil judi maksimal dalam tiga hari! Tuan mendapatkan hadiah uang tunai dua kali lipat dengan jumlah 93 milyar!] ucap suara pemberitahuan Sistem.
Ryan tidak terlalu bereaksi atas pendapatannya yang luar biasa banyak banyak itu. Dia masih belum mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang dia ajukan kepada Sistem tentang alasan dirinya diminta keluar.
[Ding! Selamat! Tuan mendapatkan 1 Kotak Hadiah Misterius!]
[Apakah Tuan ingin membukanya sekarang?] tanya Sistem.
"Buka saja!" jawab Ryan datar.
[Baik! Membuka 1 Kotak Hadiah Misterius..]
__ADS_1
[Ding! Selamat! Tuan mendapatkan 200 milyar uang tunai dan 1 Kartu Gacha!]
[Apakah Tuan ingin menggunakan Kartu Gacha sekarang?] tanya Sistem.
"Tunggu! Apa itu Kartu Gacha dan apa alasanmu memintaku keluar dari kelas?" tanya Ryan yang mengulangi pertanyaannya yang sebelumnya.
[Tuan! Untuk alasan aku meminta Tuan untuk keluar dari kelas nanti akan Tuan ketahui! Sementara Kartu Gacha adalah semacam kartu undian! Jika Tuan mengunakannya, maka kartu itu bisa berisikan hadiah yang luar biasa, namun bisa juga berisikan tugas sistem. Akan tetapi hadiahnya juga sangat luar biasa!] jelas Sistem.
"Baiklah.. Sekarang langsung gunakan saja kartu itu!" ujar Ryan yang tidak sabaran lagi.
[Baik! Menggunakan Kartu Gacha..]
[Ding! Tuan mendapatkan tugas sistem! Tuan harus membeli saham kampus yang akan bangkrut ini! Jika Tuan menyelesaikan tugas sistem, Tuan akan mendapatkan 300 poin sistem, 10 poin pesona, 10 poin kekuatan, 2 Kotak Hadiah Kecil dan uang tunai 3 kali lipat dari harga saham yang dibeli!]
[Tidak ada hukuman untuk tugas yang didapat dari Kartu Gacha!] ujar Sistem.
Ryan terdiam untuk sejenak. Dia memikirkan sesuatu yang yang bersinambungan dengan pertanyaannya sebelumnya.
[Benar sekali Tuan! Dan sekarang direktur kampus ini sedang berada diruangannya dengan dua orang pemegang saham lainnya yang meminta secara paksa kembali saham mereka yang mengakibatkan perkuliahan Tuan akan hancur!]
[Jadi lebih baik Tuan datangi mereka dan beli saham sesuai tugas daripada hanya mementingkan satu kali pelajaran tapi setelahnya Tuan tidak bisa kuliah lagi!] ujar Sistem menjelaskan.
"Haiih.." Ryan menghela nafas panjangnya. Dengan langkahnya yang gontai, dia mendatangi kantor direktur kampus yang sekaligus rektor ditempat perkuliahan itu.
***
Sementara itu diruangan direktur kampus. Terlihat tiga orang pria sedang berdiskusi alot mengenai saham kampus. Jika kedua pemegang saham itu menarik saham milik mereka, maka sudah dipastikan kampus akan bangkrut dan harus ditutup setelahnya.
"Tuan Narto! Tuan Kim! Apakah ini tidak bisa dibicarakan lagi! Saham kalian cukup menguntungkan bagi kalian di kampus ini! Mengapa pula kalian harus mencabutnya?" tanya sang direktur sekaligus rektor kampus dengan wajah memelas. Dia bernama Sukamto.
Pagi ini dia dibuat pusing tujuh keliling dengan kedatangan dua pemilik saham kampus yang dipegangnya dan meminta dengan paksa mencabut saham mereka tanpa tahu alasannya.
"Maaf Tuan Sukamto! Kami tidak bisa menjelaskan alasannya mengapa kami ingin menarik saham kami! Tapi yang jelas, kami ingin Tuan Sukamto sesegera mungkin menandatangani surat pencabutan hak kami ini!" jawab salah satu dari keduanya yang dipanggil Tuan Kin.
__ADS_1
"Tapi Tuan Kim.." ucap Direktur Sukamto keberatan.
"Tidak ada tapi-tapian! Jika Tuan Sukamto masih memikirkan jalannya kampus ini, maka silakan Tuan beli saja saham kami itu dan berikan kami uangnya!" ujar orang yang dipanggil Tuan Narto.
Direktur Sukamto terdiam mendengar ujaran yang dilontarkan oleh Tuan Narto. Memang benar dia masih memikirkan nasib dari jalannya perkuliahan dan anak-anak didiknya. Akan tetapi dia tidak punya uang sebanyak itu untuk membeli semua saham dari kedua orang didepannya ini.
Tok! Tok! Tok!
Saat Direktur Sukamto sedang kalut dalam fikirannya, terdengar suara ketukan pintu yang mengejutkan dirinya.
"Siapa?" tanya Direktur Sukamto.
"Saya pak!" jawab suara seorang pemuda tak dikenal yang membuat Direktur Sukamto mengerutkan kening.
"Saya siapa?" tanya Direktur Sukamto lagi.
"Ryan!" jawab suara itu yang membuat ketiga orang itu bingung. Siapakah bocah ini? Mengapa dia berani-beraninya mendatangi kantor Direktur sekaligus Rektor kampus?
"Masuk saja!" ujar Direktur Sukamto.
"Baik!" ujar suara itu lalu perlahan pintu itu terbuka dan memperlihatkan seorang pemuda tampan yang tersenyum kepada ketiganya.
"Silakan duduk!" ujar Direktur Sukamto mempersilahkan Ryan untuk duduk.
"Terima kasih pak!" ucap Ryan lalu duduk diantara mereka bertiga.
"Jadi, atas alasan apa kamu datang kekantorku? Bukankan ini masih jam pelajaran?" tanya Direktur Sukamto tanpa berbasa-basi kepada Ryan.
"Ehehehe.. Santailah sedikit pak Rektor! Aku tadi hanya jenuh didalam kelas! Lalu aku meminta izin kepada bu dosen untuk keluar sebentar! Dan saat aku berjalan-jalan, aku tidak sengaja mendengarkan bahwa kampus kita ini akan bangkrut jika kedua Tuan ini menarik paksa saham mereka dan pak Rektor tidak bisa membelinya!" jawab Ryan dengan tersenyum cengengesan dan terkesan sangat santai. Padahal didepannya ini adalah rektor kampus, yang biasanya mahasiswa biasa akan sangat hormat dan tidak berani bertingkah asal-asalan didepannya.
"Maksudmu dengan jalan-jalan? Apa kampus ini milikmu sehingga kamu bisa dengan santainya keluar kelas dengan alasan jenuh?" tanya Direktur atau Rektor Sukamto tidak senang. Dia masih pusing dengan permasalahannya yang sebelumnya, namun masalah lain berupa murid bandel sudah mendatanginya lagi.
"Anda jangan salah faham pak Rektor! Seperti yang aku katakan sebelumnya, kampus ini akan bangkrut dan ditutup jika bapak Rektor tidak bisa membeli saham milik kedua Tuan yang terhormat ini! Lalu bagaimana jika aku yang membeli saham sebelumnya itu?" ujar Ryan sambil tersenyum dengan lebar.
__ADS_1