Bersama Sistem

Bersama Sistem
Chapter 85


__ADS_3

Ryan seperti orang yang sedang kesetanan saat melajukan motornya. Kecepatan paling rendahnya saja adalah 150 km per jam. Dan hanya butuh waktu sekitar 45 menit baginya untuk sampai di kota P. Tempat di mana ibunya saat ini sedang disekap.


Beberapa pengguna motor ataupun mobil yang dilintasi oleh Ryan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala dan menganggap Ryan sudah gila karena melajukan motornya dengan kecepatan yang terlalu tinggi. Mereka tidak tahu jika Ryan saat ini sedang mengejar waktu karena ingin cepat-cepat menyelamatkan sang ibu.


Ryan langsung mendatangi kompleks perumahan yang ada di jalan kamboja dan ternyata perumahan itu sudahlah ditutup alias menjadi perumahan kosong yang sangat sepi akan orang-orang yang lalu lalang. Pantas saja orang-orang yang menyekap ibunya memilih tempat ini untuk pertemuannya dengan Ryan.


Dengan gagah berani dan tanpa ketakutan sama sekali Ryan mendatangi jalan kamboja dan mendapati puluhan mobil mewah sudah terparkir di pinggir pinggiran jalan kamboja. Disana juga sudah terdapat sekitar 170 orang dengan badan yang memiliki ciri khas para preman ataupun mafia yang terlihat sangatlah sangar dan mengerikan dengan beberapa luka dan tato diwajah atau bagian tubuh lainnya. Ditambah di tangan mereka semua kini sudah terkepal sebuah tongkat bisbol yang mungkin tongkat bisbol itulah yang menandakan identitas mereka semua.


Ryan segera turun dari motor Kawasaki ninja h2 carbon miliknya dan berjalan dengan santai menuju ke arah kerumunan orang itu. Tatapan-tatapan tajam yang dipenuhi dengan niat membunuh segera terarahkan kepadanya. Namun Ryan sama sekali tidak memperdulikan tatapan seperti itu. Dia hanya sedang mencari Dan menelisik dimanakah keberadaan ibunya saat ini.


Prok! Prok! Prok!


Tepukan tangan dari sosok pria paruh baya terdengar dari arah paling belakang kerumunan orang-orang itu. Sementara Ryan dengan segera memindai orang itu dan ternyata dia adalah Dodi atau ayah dari Brian.


"Sangat tangguh dan sangat pemberani sekali!" ucap Dodi sembari terus bertepuk tangan.


Dia berjalan bersama dengan tiga orang lainnya yang mana salah satunya adalah seorang wanita namun memiliki tato yang khusus dimiliki oleh mereka yang tergabung dalam anggota Geng Kapak Maut. Mereka mendekat ke arah Ryan berdiri dan berhenti ketika jarak mereka tinggallah 50 meter.


"Katakan dimana ibuku?" ucap Ryan bertanya dengan dingin.


"Ohoo.. Wanita baya itu? Tenanglah saja! Dia masih baik-baik saja!" jawab Dodi dengan tersenyum mengejek.


"Cepat bawalah ke sini dan aku akan menyerahkan perusahaan e-Shan kepadamu!" ucap Ryan yang sudah mulai kehabisan kesabarannya.


Dodi tidak menanggapi ucapan dari Ryan. Dia justru berbicara dengan ketiga orang yang ada di sisinya.


"Jadi pemuda ini adalah orang yang sudah membunuh Alexander?" tanya si wanita yang berasal dari Geng Kapak Maut.


"Benar sekali! Aku berani menjaminnya karena mobil yang sering dia pakai untuk datang ke kampus adalah mobil yang sama dengan mobil yang biasa digunakan oleh tuan Alexander yaitu mobil Mercedes Benz Maybach!" jawab Dodi sambil tersenyum.

__ADS_1


"Aku yakin dialah juga orang yang telah membuat kita bertengkar karena kesalahpahaman akan trading pasaran perusahaan milikku yang tiba-tiba naik dan milikmu yang tiba-tiba turun dengan drastis!" ucap salah satu pria kepada pria yang lainnya.


"Benar sekali! Karena bersamaan dengan naik dan anjloknya trading pasaran perusahaan kita, perusahaan e-Shan milik bocah itu yang sebelumnya anjlok juga ikut naik!" kata pria yang lainnya.


"Baiklah-baiklah! Apa kalian ingin melihat pembuat onar itu mati di hadapan kita?" kata Dodi menyela perbincangan mereka.


"Hah! Tentu saja!" ucap salah satu pria di antara mereka.


Dodi dan yang lainnya pun kembali menatap Ryan dengan intens. Mereka tersenyum menyeringai karena sebentar lagi pemuda yang membuat onar akan perusahaan serta mereka akan segera mati dibunuh.


"Jadi apakah kalian semua sudah selesai berbincang-bincang yang tidak berguna itu? Sekarang katakan dimana ibuku? Aku tidak punya banyak waktu untuk kalian!" ucap Ryan bertanya dengan berteriak lantang.


"Wow-wow-wow! Kamu sungguh tidak sabaran sekali bocah! Baiklah.. Sekarang berikan terlebih dahulu dokumen kepemilikan perusahaan e-Shan kepadaku, maka aku akan memperlihatkan ibumu kepadamu!" ucap Dodi dengan senyuman liciknya.


"Tidak bisa! Perlihatkan terlebih dahulu ibuku barulah aku akan memberikan dokumen!" seru Ryan yang tidak menyetujui usulan licik itu.


"Eh? Emm.. Baiklah! Kalian bawa si jal*ng itu kemari!" kata Dodi sambil memerintahkan salah satu diantara 170 preman itu untuk membawa Lastri menghadapnya.


"Baik!" jawab salah satu preman itu.


Setelah beberapa saat, preman itu pun segera muncul bersama dengan sesosok wanita paruh baya yang wajahnya penuh dengan lebam karena habis dipukuli dan dia didorong dengan menggunakan sebuah kursi roda dengan kaki dan tangan yang terikat serta mulut yang disumpal dengan kain.


Seketika itu juga seluruh tubuh Ryan menjadi bergetar hebat. Air mata berwarna kemerahan karena telah tercampur dengan darah keluar dari kelopak matanya. Dia sangat tidak kuasa sekaligus sedih sedalam-dalamnya saat melihat kondisi dari ibunya yang sangat memprihatinkan.


Dia ingin segera berlari menuju ke arah ibunya namun dengan cepat Dodi memberi isyarat untuk berhenti atau ibunya akan dia bunuh.


"Jika kau menginginkan wanita ini selamat, maka datanglah kepadaku dan jangan pernah melawan jika mereka semua memukulimu!" ucap Dodi sembari tersenyum dengan penuh kelicikan.


Ryan menggertakkan giginya karena marah dengan apa yang dilakukan oleh Dodi kepadanya. Dia sungguh sangat tidak menyangka bahwa di bumi ini ada seorang yang begitu licik seperti Dodi. Ryan pun melanjutkan berjalan dengan santai menghampiri sang ibu namun tiba-tiba sebuah tongkat bisbol dari salah satu dari 170 preman itu mendarat di dadanya.

__ADS_1


Bukkk!


"Uhuk!" Ryan langsung dibuat terjungkang dan ter batuk-batuk dan terlihat ada sedikit noda darah di sudut bibirnya.


Bukkk!


Hantaman tongkat bisbol lainnya mendarat lagi dan kini tepat mengenai perutnya.


"Ugh!" Ryan tidak berteriak. Dia sebisa mungkin menahannya kemudian dia pun bangkit lagi untuk berjalan agar segera sampai di dekat ibunya. Sementara untuk Sistem, kali ini dia benar-benar tidak bisa membantu sang tuan.


Bukkk!


"Ugh!"


Salah satu dari preman itu menghantam bagian punggung kanan Ryan yang membuat Ryan merasakan ngilu yang luar biasa karena tulangnya mungkin terjadi sebuah keretakan. Ryan hanya bisa menggertakkan giginya menahan rasa sakit itu kemudian dia pun berjalan kembali.


Bukkk!


"Agh!"


Kini paha kirinya yang menjadi sasaran dari para preman itu. Ryan langsung terjatuh sembari meringis kesakitan dan menatap orang yang telah memukulnya itu dengan tatapan beringas.


"Hah! Apa? Apa kau ingin aku mencolok matamu?" ucap preman itu dengan tersenyum menyeringai karena pastilah pemuda itu tidak akan berani menjawabnya.


Disisi lain, Lastri yang melihat anaknya sedang dipukuli dan tidak bisa membalasnya karena keberadaan dirinya, dia hanya bisa menangis sesegukan tanpa dapat mengeluarkan suaranya karena mulutnya sedang tersumpal oleh kain.


'Putraku.. Maafkan ibu..' batin Lastri dengan lemah.


"Hahaha.. Terus pukul bocah itu!" tawa Dodi dengan lantangnya yang diikuti oleh ketiga orang lainnya dan juga para preman yang memukuli Ryan.

__ADS_1


__ADS_2