Bersama Sistem

Bersama Sistem
Chapter 70


__ADS_3

"Kamu mau kemana nak?" teriak Lastri saat melihat anak semata wayangnya berlari-lari seperti orang yang sedang terburu-buru.


Ryan pun menghentikan langkah kakinya saat mendengar teriakan dari Lastri. Dia menoleh ke arah sumber suara dengan senyuman yang terukir di wajahnya.


"Aku ada urusan mendesak yang sangat penting ibu! Mungkin dalam 3 hari Ryan baru bisa pulang! Ryan minta izin sama ibu!" ucapnya dengan lembut dan penuh kasih.


Lastri menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah yang diperlihatkan oleh putranya. Dia kemudian menjawab,


"Pergilah nak! Lakukan apa yang harus kamu lakukan! Tapi tetaplah berhati-hati dalam segala urusanmu!"


Tubuh Ryan sedikit bergetar mendengar ucapan dari sang ibu. Dia kemudian berjalan menghampiri Lastri lalu mencium tangannya untuk memperlihatkan kepada sang ibu bahwa dia adalah anak yang berbakti.


"Terima kasih bu! Ryan akan selalu mengingat nasehat ibu!" ucap Ryan sambil tersenyum lalu memeluk ibunya.


"Anak ibu memanglah yang terbaik! Baiklah! Sekarang berangkatlah!" ucap Lastri setelah Ryan melepaskan pelukannya.


"Baik bu!" kata Ryan kemudian kembali berlari seperti sebelumnya.


Ryan menggunakan mobil Mercedes Benz Maybach untuk keberangkatannya agar segera sampai karena kecepatan yang dimiliki mobil itu adalah yang paling tinggi.


Bruummm...


Pedal gas langsung Ryan tekan dengan kuat sehingga langsung melesat dengan kecepatan tinggi. Meninggalkan Villa Gunung Emas. Dengan skill pengendara tingkat tinggi miliknya, Ryan tidak terlalu mengkhawatirkan harus beberapa kali hampir menabrak mobil lainnya.


Dia terus menyalip kendaraan yang melintas di depannya tanpa ragu dan terus mempertahankan kecepatan lajunya yang sudah diatas 180 km/jam. Sungguh berkendara sekaligus seperti orang yang menantang maut saja!


Banyak orang yang mencibir dengan apa yang dilakukan oleh Ryan. Namun pemuda tampan yang sedang mengemban misi penyelamatan presiden itu sama sekali tidak menghiraukan mereka semua. Yang ada di dalam pikirannya adalah segera sampai di istana negara kemudian meringkus ******* yang hendak membunuh presiden.


***


Sehari telah berlalu. Ryan masih saja melesat dengan mobil Mercedes Benz Maybach miliknya dengan kecepatan yang mungkin dapat membuat nyawa seseorang akan tertinggal di belakang karena begitu cepatnya.

__ADS_1


Jarak antara istana negara dan dirinya saat ini masihlah 100 km lagi. Namun dengan kecepatan laju mobil yang dikendarainya itu, Ryan dapat sampai di istana negara tidak lebih dari setengah jam saja.


Sesampainya di depan istana negara yang berwarna hampir keseluruhannya adalah putih, dia melihat keramaian yang membeludak didepan istana itu. Dia tidak tahu apakah ada acara yang akan diselenggarakan di istana negara itu.


'Sepertinya ini akan sedikit lebih sulit!' batin Ryan menerka-nerka.


Dia kemudian memarkir mobilnya dipinggiran jalan dan mengamati keadaan serta memikirkan tentang bagaimana caranya nanti agar dia dapat masuk ke dalam istana negara dengan tanpa dicurigai.


Sangat wajar jika orang asing tiba-tiba masuk ke dalam istana negara kemudian dicurigai sebagai penyusup atau orang yang akan melakukan hal yang buruk terhadap presiden ataupun para menteri negara.


Setelah berpikir beberapa saat, Ryan kemudian keluar dari pintu mobil dan berjalan mendekati pintu gerbang istana negara. Dia mendekati salah satu wartawan dan membisikkan sesuatu kepadanya.


Beberapa saat kemudian, wartawan itu lalu menganggukkan kepala tanda menyetujui apa yang Ryan bisikkan. Keduanya lalu pergi meninggalkan pintu gerbang istana negara menuju ke suatu tempat.


"Apakah benar apa yang tuan katakan?" tanya wartawan itu dengan mata yang berbinar-binar.


"Tentu saja! Jika kamu menyerahkan tugasmu kepadaku maka aku akan dengan senang hati memberikanmu sejumlah uang minimal 1 miliar sekarang juga!" jawab Ryan sambil tersenyum penuh arti.


Ryan sudah merencanakan beberapa hal mengenai misinya itu. Dengan berpura-pura menjadi seorang wartawan maka dia pasti akan diberikan kelonggaran untuk dapat masuk ke dalam istana negara untuk dapat ikut serta dalam pertemuan presiden dan para menteri dan mendokumentasikannya.


"B-benarkah itu tuan?" tanya wartawan itu memastikan.


"Aku tidak pernah bercanda dalam setiap ucapanku! Baiklah.. Sekarang sebutkan saja nomor rekeningmu! Aku akan mengirimkannya sekarang juga!" ujar Rian sambil mengeluarkan HP iPhone 14 pro max miliknya.


"S-siap tuan!" ucap wartawan itu dengan terburu-buru.


Ryan kemudian langsung mengirimkan uang satu miliar kepada wartawan itu setelah dia memberikan nomor rekening kepadanya. Dengan kebahagiaan yang membuncah, wartawan itu hendak bersujud kepada Ryan namun dengan cepat langsung Ryan cegah karena hal itu sangatlah berlebihan.


"Tidak perlu seperti itu! Mungkin itu adalah rezeki dari hasil perjuanganmu selama ini!" ucap Ryan sambil tersenyum dengan lebar.


"B-baik! Terima kasih banyak tuan! Semoga tuan selalu diberikan kemudahan di setiap urusan tuan!" kata wartawan itu dengan hati yang penuh haru dan mata yang hampir saja mengalirkan bulir-bulir sucinya.

__ADS_1


"Iya-iya.. Jadi kapan acara pertemuan itu akan diadakan?" tanya Ryan penasaran.


"Sekitar setengah jam lagi tuan! Namun bagi para wartawan akan dipersilahkan masuk 15 menit lagi! Tuan harap segera bersiap-siap karena waktu 15 menit tidaklah lama!" jawab wartawan itu dengan senyuman lembut.


"Baiklah.. Terima kasih atas informasinya! Kalau begitu aku siap-siap dulu!" ujar Ryan sambil berniat untuk pergi meninggalkan wartawan itu.


"Tuan!" panggil wartawan itu.


"Ada apa lagi?" tanya Ryan.


"Pakailah ini! Tuan akan dicurigai sebagai penyusup jika tuan tidak memakai tanda pengenal ini!" jawab wartawan itu sambil menyerahkan sebuah tanda pengenal dari sebuah perusahaan informasi tempat wartawan itu bekerja.


"Oh.. Aku sampai lupa! Baiklah.. Aku berangkat sekarang!" ucap Ryan sambil menggelengkan kepalanya kemudian dia berlalu setelah menerima tanda pengenal milik wartawan itu.


***


Setelah menunggu sampai hampir saja dia dibuat jamuran, tiba-tiba dua orang pria yang memiliki tubuh yang sangat besar dengan pakaian serba hitam keluar dari dalam istana dan mendatangi pintu gerbang.


"Untuk para wartawan dipersilakan untuk masuk! Diharapkan kalian semua tidak akan mengganggu ketertiban dengan bersikap yang tidak profesional!" ucap salah satu pria bertubuh besar.


Para wartawan termasuk wartawan abal-abal alias Ryan langsung memasuki istana negara atau lebih tepatnya masuk ke dalam ruangan pertemuan presiden dan para menterinya.


'Dengan seperti ini, setidaknya aku bisa mengawasi dengan tenang bapak presiden agar dapat terhindar dari marabahaya atau bahkan kematian!' batin Ryan sambil tersenyum.


Dia sengaja menempatkan dirinya di bagian paling belakang agar dapat menjangkau seluruh area dan memindai orang-orang yang berada di dalam ruangan pertemuan.


Tidak lama kemudian, seorang pria paruh baya yang memakai jas hitam muncul dari pintu yang berada di sisi lain ruangan tersebut bersama dengan puluhan orang yang mengiringinya dari belakang.


Pria paruh baya itu tidak lain adalah presiden dari negara yang Ryan tempati. Wajah Ryan langsung berubah menjadi sangat serius saat rombongan presiden dan para menteri itu tiba di dalam ruangan pertemuan. Dia tidak ingin kecolongan sehingga dapat membuat bapak presiden tewas dan juga misi yang diberikan oleh sistemnya akan dinyatakan gagal.


Srett!

__ADS_1


Sebuah gerakan mencurigakan dari salah satu menteri yang berada di sisi kiri bapak presiden tiba-tiba terdeteksi oleh penglihatan Ryan. Mata Ryan langsung membulat sempurna karena terkejut dengan apa yang akan dilakukan oleh menteri itu.


"Sial!" umpat Ryan.


__ADS_2