Bersama Sistem

Bersama Sistem
Chapter 65


__ADS_3

Sean tidak bisa berbuat apa-apa ketika melihat dua orang yang paling berharga di dalam hidupnya itu marah dan kecewa kepadanya. Dia juga sadar bahwa dia yang terlalu memegang tradisi sangatlah egois. Dia bahkan tidak memikirkan bahwa orang yang menginginkan kursi rotan miliknya adalah orang yang telah menyelamatkan hidupnya. Ini seolah-olah mengatakan bahwa kursi rotan itu lebih utama atau berharga daripada nyawanya sendiri.


Ryan yang melihat Sean begitu tertekan dengan apa yang dilakukan oleh istri sekaligus anak perempuannya hanya diam saja. Dia tidak tahu jika permasalahannya akan menjadi serumit ini. Disamping itu juga Sistem mengatakan bahwa lebih baik dia terus saja diam seperti itu agar kesempatan mendapatkan kursi rotan yang sedang didudukinya itu semakin lebar kesempatannya.


Ini memang terlihat sangatlah kejam, akan tetapi seperti yang dikatakan oleh Sistem, jadinya pasti akan sangat membutuhkan sebuah senjata berupa tongkat yang terbuat dari rotan bekas kursi yang didudukinya ini.


Berulang kali Sean menghelan nafasnya panjang-panjang sebelum beranjak dari tempat itu tanpa mengatakan sepatah kata pun kepada Ryan. Dia pasti akan berbicara kepada istri serta anaknya yang sedang merajuk gara-gara dirinya.


Sementara untuk Ryan, agar keheningan itu tidak menjadi-jadi dia mulai untuk melahap satu persatu kue yang dibawakan oleh Ayu sambil sesekali menyeruput teh hangat yang terasa manis.


Setelah sekitar 15 menit berlalu, Sean, Sinta dan Ayu kembali menghampiri Ryan di ruang tamu kediaman mereka.


"Maaf sebelumnya nak Ryan karena sebelumnya terjadi kesalahpahaman antara kami bertiga yang mungkin membuat hati nak Ryan kurang berkenan!" ucap Sean dengan perasaan tidak menentu.


"Paman Sean tidak perlu memikirkannya! Aku sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu! Karena wajar saja Paman Sean mempertahankan kursi rotan ini sebab ada wasiat turun temurun dari nenek moyang Paman Sean! Ya.. Walau terdengar sedikit aneh menurutku! Hehehe.." ucap Ryan sambil dengar-cengir seolah dia ingin menolak atau membatalkan akan permintaannya yang sebelumnya ingin membeli kursi rotan yang sedang didudukinya.


Sean hanya bisa tersenyum masam karena sebelumnya dia telah berjanji kepada istri serta putrinya akan memberikan kursi rotan yang menarik perhatian Ryan secara cuma-cuma sebagai tanda terima kasih telah menyelamatkan nyawanya serta nyawa istrinya.


"Jika memang benar nak Ryan menginginkan kursi rotan itu maka aku akan memberikannya secara cuma-cuma saja! Nak Ryan karena kami tidak tahu bagaimana harus bersikap untuk membalas rasa terima kasih kami karena nak Ryan telah menyelamatkan nyawa kami!" ucap Sean pada akhirnya.


Ryan bersorak sorai di dalam hatinya bersama dengan Sistem yang tertawa terkekeh karena Ryan berhasil mendapatkan kursi rotan yang akan dia sulap setelah ini menjadi senjata andalan tanpa harus mengeluarkan uang sepeserpun.

__ADS_1


"Itu.. Bukankah kursi ini sangat berharga menurut paman? Aku sungguh tidak enak hati jika harus menerimanya tanpa memberikan apapun sebagai gantinya!" ucap Ryan masih berbasa-basi seolah dirinya merasa tidak enak untuk menerimanya secara gratis.


"Sudahlah nak Ryan! Nak Ryan terima saja dan bawa kursi rotan jadul dan buluk itu!" ucap istri dari Sean atau Sinta yang membuat Sean mengutuk hingga di dalam hati. Sementara Ayu hanya tersenyum-senyum mendengar ucapan dari ibunya yang ceplas-ceplos itu.


"Baik bibi! Nanti aku akan membawanya pulang ke rumah! Terima kasih atas pemberian yang luar biasa ini!" ucap Ryan sambil tersenyum lebar.


Ryan akhirnya mengajak mereka mengobrol tentang beberapa hal yang tidak terlalu penting untuk mencairkan suasana yang sebelumnya sangatlah tegang dan canggung.


"Kalau boleh tahu, kuliahmu ambil jurusan apa Yu?" tanya Ryan kepada Ayu.


"Manajemen," jawab Ayu singkat. Dia masih canggung jika harus berbicara banyak dengan Ryan saat ada orang tuanya.


"Itu.." Ayu ragu-ragu untuk menjawabnya. Dia menoleh ke arah ayah dan ibunya yang juga ikut terdiam karena mereka pun bingung untuk mengambil sikap.


"Tidak perlu full time kerja! Cukup sepulang kuliah dan cek-cek data saja! Jika Ayu mau, nanti aku akan menyiapkan mobil yang akan diantarkan oleh anak buahku untuk bolak-balikmu atau bisa dikatakan sebagai pentaris! Karena rencananya aku akan membuka kantor itu tiga hari lagi!" kata Ryan lagi membuat penawaran menggiurkan karena sebenarnya dalam hati kecilnya dia tidak bisa untuk mengambil kursi rotan yang sangat kekeh dipegangi oleh Sean secara gratis.


Ayu dan kedua orang tuanya sangat terkejut mendengar apa yang ditawarkan oleh Ryan. Menurut mereka anak muda didepannya ini terlalu baik hati kepada keluarga mereka. Mereka bertiga tentu sangat tergiur dengan apa yang ditawarkan oleh Ryan.


Namun di sisi lain mereka juga takut jika mengingat Ryan hanyalah seorang kenalan yang baru saja mereka kenal. Bisa saja pemuda didepan mereka ini ingin melakukan suatu hal yang tidak baik dibelakang mereka atau yang biasa dikatakan pepatah 'Ada udang dibalik bakwan'.


Melihat wajar ragu dari ketiganya, Ryan lalu mengeluarkan sebuah kartu nama dari saku celananya dan meletakkannya diatas meja ruang tamu.

__ADS_1


"Tidak perlu untuk terburu-buru mengambil keputusan! Jika memang harus dimusyawarahkan maka musyawarahkanlah terlebih dahulu! Hubungi saja nomor yang tertera di sini jika memang Ayu ingin bekerja bersama dengan perusahaanku. Tapi ingat! Jangan sampai melampaui batas sehari sebelum acara pembukaan kantor! Karena jika seperti itu maka aku pasti sudah memilih orang lain yang akan menjadi manajernya!" kata Ryan sambil tersenyum ramah.


Ayu mengambil kartu nama yang tergeletak di atas meja itu dan menatapnya beberapa saat.


"Aku pasti akan menghubungi kamu dalam sehari dan akan mengatakan keputusannya nanti! Apakah aku akan bergabung atau tidak dengan perusahaanmu" ucap Ayu sambil membalas senyuman Ryan sehingga membuat jantung Ryan dag-dig-dug tidak karuan.


"Baiklah.. Aku akan menantikan kabar baiknya!" ucap Ryan.


"Kalau begitu, aku mohon undur diri sekarang! Sebab aku tidak ingin pulang terlambat supaya tidak mendapatkan ceramah dan kata-kata mutiara dari ibuku! Hehehe.." ucap Ryan lagi sambil tertawa terkekeh-kekeh.


Ketiganya langsung mempersilahkan kepada orang yang sangat baik kepada keluarganya itu. Tidak lupa Rian juga menenteng kursi rotan yang sebelumnya diberikan oleh Sean meskipun dengan hati yang sedikit terpaksa.


Sekonyong-konyongnya, Ryan meletakkan kursi rotan itu diatas mobil Mercedes Benz Maybach dan menalinya tambang kecil yang dia minta dari Sean. Selesai dengan kegiatan konyolnya itu, Ryan langsung pergi meninggalkan kediaman sederhana keluarga Ayu dengan kecepatan sedang.


Ryan langsung menjadi pusat perhatian karena mobil super mewah seperti Mercedes Benz Maybach malah ditindih dengan kursi rotan butut yang terlihat sangat kuno dan tidak layak dipandang.


Ryan mendapati banyak sekali umpatan dari orang-orang yang melihat aksinya itu. Karena menurut mereka sesuatu yang dilakukan oleh Ryan sungguh sangat melukai hati mereka. Ya.. Meskipun mobil mewah itu juga bukanlah milik mereka.


"Ku menangis! Andai aku jadi mobil itu, aku pasti akan mengutuk pemilikku untuk kecelakaan saja!" ucap salah satu orang yang terdengar di telinga Ryan sehingga Ryan mengerutkan kening.


"Cih! Mobil, mobilku! Mengapa kalian yang protes!" keluh Ryan.

__ADS_1


__ADS_2