Bersama Sistem

Bersama Sistem
Chapter 37


__ADS_3

Ketiga orang itu sangat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Ryan. Mereka terkejut bukan karena hal lain atau apa. Tapi mereka sangat tidak menyangka bahwasanya akan ada bocah ingusan yang berbicara seenak jidatnya ingin membeli saham milik Tuan Narto dan Tuan Kim. Padahal harga saham itu tidaklah murah.


"Nak, kamu jangan bercanda dengan kami! Kami bukanlah anak ingusan yang dengan mudahnya kamu ajak untuk bermain-main!" ucap Direktur Sukamto dengan nada tidak suka.


"Pak rektor sekaligus direktur Sukamto! Saya Ryan Aji Sena tidak pernah bermain-main dalam ucapan saya sebelumnya! Saya akan membeli saham kampus milik Tuan Narto dan Tuan Kim berapapun harganya!" balas Ryan dengan tegas. Dia sangat tidak suka dengan apa yang diperlihatkan oleh ekspresi dari direktur Sukamto yang melihat seseorang dari luarnya saja atau dari umurnya yang masih belia.


Melihat ketegasan dan kesedihan dari cara bicara Ryan membuat Tuan Narto dan TuanKim sedikit mempercayai pemuda didepannya itu.


"Nak! Apakah kau yakin akan membelinya? Harganya tidak murah loh!" ucap Tuan Kim sambil melihat wajah Ryan.


"Tentu saja! Silakan Tuan Kim dan tuan siapa tadi.. Maaf saya lupa.. Oh ya Tuan Narto, sebutkan saja harga saham kalian yang ada di kampus ini! Saya akan membelinya!" ujar Ryan dengan serius.


"Dan tolong jangan berlama-lama ya untuk mengurus-urus berkasnya, karena saya harus kembali masuk kedalam kelas untuk belajar!" lanjut Ryan.


"Baik! Maafkan ketidaknyamanan anda sebelumnya Tuan Ryan Aji Sena! Saya Kim Suhendra mempunyai saham di kampus ini dengan totalnya 25 milyar!" ucap Tuan Kim.


"Sementara untuk saham saya.. Saya memiliki saham di kampus Ini totalnya adalah 40 milyar! Jadi jika dikalkulasi keseluruhannya adalah 65 milyar!" ucap Tuan Narto.


"Baik!" angguk Ryan dengan tenang.


Ryan kemudian mengeluarkan handphone iPhone 14 Pro Max miliknya dari saku celananya, kemudian dia membuka aplikasi banking miliknya untuk login dan bersiap untuk mentransfer uang dengan jumlah yang disebutkan sebelumnya.


Sementara untuk direktur Sukamto itu sendiri hanya terbengong dengan mulut terbuka. Dia tidak menyangka bahwa salah satu murid atau mahasiswa dari kampusnya ini akan memiliki uang yang sangat banyak dan kaya raya.


"Jadi, dinomor mana aku harus mengirimnya?" tanya Ryan layaknya seorang yang profesional.


"Ini! Dua nomor rekening ini!" jawab Tuan Kim sambil menunjuk sebuah nomor rekening yang tertera didalam berkas.

__ADS_1


"Baik!" ucap Ryan.


Dia lalu mencatat nomor itu dan langsung mengirimkan uang dengan nomimal yang sebelumnya disebutkan. Hanya butuh satu menit saja baginya menyelesaikan transaksi besar itu.


Ryan lalu memperlihatkan tanda transaksi kepada Tuan Kim dan Tuan Narto. Keduanya mengangguk tanda puas dan setuju dengan transaksi bersama Ryan.


Setelah itu ketiganya menandatangani beberapa berkas yang ada untuk mengesahkan kepindahan dari kepemilikan saham. Direktur Sukamto juga menandatanganni sesuatu yang harus dia tanda tangani.


"Baiklah Tuan Ryan! Semuanya sudah selesai! Sekarang saham kami telah sepenuhnya menjadi milik anda!" ucap Tuan Narto sambil tersenyum puas dan mengajak bersalaman.


Ryan pun menyalami Tuan Narto dan Tuan Kim setelahnya.


"Senang berbisnis dengan anda Tuan Ryan!" ucap Tuan Kim lalu berdiri dari tempat duduknya yang diikuti Tuan Narto untuk pergi meninggalkan ruangan Direktur.


"Ya! Begitu pula denganku Tuan Narto dan Tuan Kim!" balas Ryan yang juga ikut berdiri.


Kedua mantan pemilik saham itu pun keluar dari ruangan Direktur Sukamto dengan senyum penuh kepuasan. Sementara Ryan yang masih berdiri lalu duduk kembali berhadapan dengan Rektornya.


Direktur Sukamto atau terkenal dengan Rektor Sukamto tidak langsung menjawab ucapan Ryan. Dia menatap pemuda di depannya itu dengan mata yang tidak percaya.


Bagaimana mungkin dia mempercayainya ya jika sebelumnya kampus yang dia miliki akan segera bangkrut. Namun karena keberadaan pemuda di depannya itu langsung mengubah arusnya hingga terselamatkan.


"Ayolah Pak rektor! Jawab iya saja! Aku hendak kembali ke kelas! Aku tidak ingin terlalu lama di sini dan akhirnya ketinggalan pelajaran!" ujar Ryan mengeluh.


"B-baik nak! Hanya titip saja bukan? Ya-ya.. Kembalilah! Dan belajarlah dengan baik!" ucap Direktur Sukamto dengan sedikit gugup.


"Nah begitu kan enak! Kalau begitu aku pergi dulu pak rektor Sukamto!" ujar Ryan sambil tersenyum.

__ADS_1


Ryan pun bangkit dari tempat duduknya lalu pergi meninggalkan ruangan Rektor Sukamto. Namun sesampainya dia didepan pintu ruangan itu, Ryan menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah belakang melihat Rektor Sukamto.


"Oh iya pak rektor! Tolong jaga rahasia ini! Jangan sampai ada orang yang mengetahuinya selain bapak! Oke?" ucap Ryan lalu pergi meninggalkan Rektor Sukamto tanpa menoleh kebelakang lagi. Didalam perjalanannya, suara pemberitahuan dari Sistem pun terdengar dalam fikirannya.


Ding! Selamat! Tuan telah menyelesaikan tugas sistem yaitu membeli saham kampus yang akan bangkrut! Tuan mendapatkan 300 poin sistem, 10 poin pesona, 10 poin kekuatan, 2 Kotak Hadiah Kecil dan uang tunai 195 milyar!]


Ryan pun tersenyum mendengarnya. Tugas yang sangat mudah namun memiliki hadiah yang sangat luar biasa. Ryan sangat ingin mendapatkan Kartu Gacha lagi setelah ini.


Dia terus melangkahkan kakinya kembali ke dalam kelasnya. Tidak ada satu orang pun yang curiga akan sesuatu yang dilakukan oleh yang sebelumnya. Yang mereka tahu adalah Ryan hanyalah pergi meninggalkan kelas untuk buang air besar.


Pelajaran pun berlangsung dengan lancar dan tanpa halangan suatu apapun hingga pada akhirnya pelajaran itu selesai dan jam istirahat telah tiba. Semua murid dalam kelas itu pun pergi termasuk Ryan.


Disaat Ryan berjalan menuju kekantin untuk mengisi perutnya yang mulai sedikit keroncongan, Ryan dicegat oleh Leo, Topan dan ketiga temannya.


"Berhenti kau bocah sialan!" ujar Topan.


"Ada apa?" tanya Ryan dengan tenang.


Jika dia adalah Ryan yang dulu maka sudah pasti dia sudah sangat ketakutan. Namun Ryan sekarang telah berubah! Ryan sekarang telah membuang semua hal buruk yang ada pada dirinya termasuk rasa takut yang tidak perlu.


"Kau masih bertanya ada apa? Bangs*t! Ayo hajar dia!" ujar Leo dengan marah. Mereka semua mengeluarkan pisau dari balik bajunya dan mengepung Ryan.


Sementara Ryan hanya menggelengkan kepalanya. Kelima berandalan ini benar-benar sangat liar. Mereka bahkan sudah tidak menghiraukan peraturan kampus yang melarang untuk melakukan tindakan kriminal. Mereka ini justru dengan terang-terangan ingin membunuh Ryan ditempat.


Ryan lalu menyelipkan tangannya dibalik baju lalu moncong pistol terlihat oleh Leo yang membuat dia langsung ketakutan.


"Rya-.."

__ADS_1


DORR!


Belum selesai Leo mengucapkan katanya, Ryan sudah menarik pelatuk pistol itu dan menembakkannya kearah Leo.


__ADS_2