Bersama Sistem

Bersama Sistem
Chapter 61


__ADS_3

Hati Ryan sedikit tergerak dan mulutnya terkunci karena perkataan Sistem itu. Dia kini sadar akan suatu hal.


"Apakah dia mencintaiku?" tanya Ryan.


[Itu sudah jelas! Tuan saja yang tidak peka! Cih! Dasar! Semua lelaki memanglah sama!] ucap Sistem merajuk.


Ryan mengerutkan keningnya dengan ucapan dari Sistem. Sejak kapan Sistemnya ini menjadi sangatlah sensi sekali kepadanya? Apakah dia sedang datang bulan? Itulah yang dipikirkan oleh Ryan saat ini.


Sistem tidak berbicara lagi setelah itu. Dia benar-benar seperti wanita yang sedang merajuk. Ryan pun hanya diam saja mengikuti jejak dari Sistem sampai tidak berapa lama kemudian dosen yang pernah merajuk juga saat itu masuk kekelas.


Dia langsung menatap tajam kearah Ryan sehingga Ryan langsung mengerutkan kening.


'Pak dosen sepertinya belum melupakan kejadian waktu itu!' batin Ryan sambil tersenyum masam.


Pelajaran pun dimulai dan berjalan dengan lancar dan tidak ada halangan suatu apapun. Sementara Ryan hanya terus diam ketika dosen bertanya kepada para murid. Tidak seperti biasanya yang mana dirinya termasuk orang yang aktif dan cerdas dalam pelajaran serta selalu mengangkat tangan untuk menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan oleh dosen.


Hal itu dia lakukan karena tidak ingin membuat mood si dosen hancur seperti sebelumnya dan keluar kelas menyudahi prosesi belajar mengajarnya begitu saja.


Pada akhirnya bel tanda pulang berbunyi dan dosen menyudahi penjelasannya dan mengatakan akan melanjutkannya pada sesi pertemuan esok lagi.


Para murid termasuk Ryan keluar dari kelas dengan teratur. Ryan berjalan dengan langkah gontai karena dia beberapa kali menghubungi Sistem tapi masih saja tidak ada jawaban. Sial! Sistem benar-benar merajuk!


Ryan akhirnya sampai juga di parkiran kampus dan mendapati Ayu sudah menunggunya di dekat mobil Mercedes Benz Maybach miliknya. Dia tersenyum manis kepada Ryan dan Ryan pun membalasnya dengan senyum seadanya.


Ryan mengajak Ayu untuk memasuki mobil dan mereka pun pergi meninggalkan kampus dengan santai dan tidak terburu-buru. Ryan hanya diam sepanjang jalan tanpa berkata sepatah pun sehingga membuat Ayu mengerutkan kening.


"Ada apa denganmu Yan? Apakah kamu sedang sakit?" tanya Ayu dengan lembut. Raut wajahnya terpancarkan sedikit kekhawatiran dengan Ryan yang biasanya ceria namun kini tampak murung.

__ADS_1


"Tidak ada apa-apa Yu.. Aku hanya ingin cepat-cepat pulang saja dan bertemu dengan ibu! Aku tiba-tiba sedikit merindukannya!" jawab Ryan serampangan membuat alasan.


Kerutan pada dahi Ayu semakin menebal saja setelah mendengar alasan yang terdengar tidak masuk akal dari Ryan. Akan tetapi dirinya tidak menanyakan lebih lanjut karena mungkin hal itu adalah privasi bagi Ryan.


"Oh.. Begitu.." Ayu hanya mengangguk saja.


Ayu hanya berbicara sepatah dua patah kata untuk menunjukkan jalan yang mengarah ke rumah di mana dirinya serta kedua orang tuanya tinggal.


[Ding! Tugas sistem tingkat menengah telah terpacu! Selamatkan kedua orang tua Ayu dari pembunuhan yang dilakukan oleh rentenir dan tebus hutang mereka! Tuan akan mendapatkan 10 poin sistem, 1 poin kekuatan dan 5 miliar uang tunai! Jika Tuan gagal maka Tuan akan kehilangan 100 miliar saldo dari tabungan bank Tuan!]


Tiba-tiba suara Sistem bergema di dalam kepalanya yang memberitahukan mengenai tugas sistem yang telah terpacu dan itu berhubungan dengan gadis cantik yang ada di sebelahnya.


Ryan langsung tersenyum seketika itu juga meskipun misi yang terpacu adalah misi yang sangat genting, akan tetapi dirinya sangat senang karena dengan adanya tugas dari Sistem maka pundi-pundi keuangannya akan sedikit demi sedikit kembali bertambah.


"Berpeganganlah yang erat Ayu! Aku ingin kita segera sampai di rumahmu!" ucap Ryan tanpa memberitahukan situasi yang sangat penting saat ini sedang melanda kedua orang tuanya.


"B-baik Yan! Tapi aku takut jika kamu kebut-kebutan!" kata Ayu sambil terbata-bata.


Bruuummmm...


Ryan menginjak gas dan mobil pun melaju dengan sangat cepat sampai gadis di sebelahnya berteriak karena ketakutan setengah mati. Ryan mengendarai mobil seperti sedang mengajak mati saja! Itulah yang saat ini dipikirkan oleh Ayu. Dia merasa benar-benar kapok dan tidak akan lagi mau diajak pulang bersama dengan Ryan meskipun menggunakan mobil mewah seperti ini sekalipun.


"Aaaahhhhh.. Ryaaan! Pelan-pelan saja! Tidak perlu ngebut-ngebut seperti ini!" teriak histeris Ayu sambil berpegangan erat pada bagian samping tempat duduknya.


Dia tidak mengetahui bahwa kedua orang tuanya saat ini sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja dan Ryan melakukan hal ini karena ingin menyelamatkan serta mengeluarkan keduanya dari situasi tersebut.


Andai Ayu tahu apa yang saat ini sedang dilakukan oleh Ryan maka sudah dipastikan bahwa hatinya akan langsung luluh dan tidak berprasangka buruk seperti yang saat ini dirinya lakukan.

__ADS_1


Ryan hanya diam saja dan tetap fokus dalam mengendarai mobil serta tidak mengurangi kecepatannya sama sekali hingga pada akhirnya Ryan dan Ayu sampailah di tempat tujuan.


"Aku duluan!" ujar Ryan langsung keluar dari mobil setelah mematikan mesinnya dan berlari dengan kencang menuju rumah dari kedua orang tua Ayu.


Sementara untuk Ayu, dia hanya bisa mengangguk pasrah dan menstabilkan jantungnya yang hampir saja copot karena baru kali ini dia menunggangi mobil dengan kecepatan yang tidak pernah dirasakannya.


Akan tetapi dirinya mengerutkan kening saat sadar bahwa Ryan ternyata mengatakan ingin mendahului dirinya untuk menuju ke rumahnya. Ayu pun ikut keluar dari mobil dan berjalan dengan langkah sempoyongan karena hampir saja dirinya dibuat mabuk perjalanan oleh Ryan.


***


Didepan sebuah rumah kediaman yang cukup sederhana namun tidak buruk seperti gubuk derita Ryan, terlihat tiga orang yang memiliki perawakan kekar dan sangat-sangar sedang berdiri di depan sosok pria dan wanita baya yang dalam kondisi berlutut.


"Tuan-tuan! Beri kami waktu satu minggu lagi! Kami berjanji akan segera membayar hutang-hutang kami!" ucap sosok pria paruh baya dengan nada memohon dan di wajahnya terlihat ada bekas seperti sebuah tamparan atau pukulan.


"Cuih! Kamu selalu mengatakan itu terus-terusan sampai aku bosan mendengarnya, namun kamu tidak pernah menepati kata-katamu!" ucap salah satu pria yang memiliki badan kekar setelah meludah tepat di wajah sosok pria paruh baya yang sedang berlutut.


"Sudahlah bos! Kita bunuh saja kedua orang yang tidak tahu diri ini mereka hanya mengulur-ulur waktu saja dan tidak pernah akan bisa membayar hutang-hutang mereka!" ujar pria kekar lainnya sambil mengeluarkan sebilah pisau dari balik pinggangnya.


"Benar katamu! Kedua orang tua bodoh ini memang sudah sepantasnya untuk mati! Sementara anak gadisnya itu harus kita jual di rumah bordil untuk menjadi budak pemuas hasrat saja!" ucap pria kekar yang ada ditengah ketiganya menyetujui usulan dari rekannya.


Pria kekar itu kemudian meminta pisau dari rekannya dan bersiap untuk menghabisi pria dan wanita bayar di depan mereka.


"Ampun tuan! Tolong jangan bunuh kami!" ucap si wanita baru bayar dengan ketakutan yang teramat sangat.


"Berisik!" ujar pria kekar yang ada di tengah ketiganya dan bersiap untuk mengayunkan pisaunya.


Buak!

__ADS_1


Akan tetapi tiba-tiba sebuah batu kerikil berukuran sedang melesat dengan kecepatan tinggi menghantam mata kiri dari pria kekar tersebut dan langsung membuatnya berhenti melakukan niatnya serta menjerit kesakitan.


"Aaakkhh..!


__ADS_2