
Pelajaran pun segera dimulai setelah Ryan dan ibu dosen itu memasuki kelas. Semuanya berjalan dengan lancar jaya tanpa halangan suatu apapun. Hanya saja beberapa kali ibu dosen itu memberikan tatapan buas kepada Ryan layaknya ingin memakannya hidup-hidup.
'Sial! Sebenarnya ada masalah apa dia denganku? Mengapa dia terlihat begitu tidak menyukaiku?' batin Ryan yang kebingungan dengan sikap yang diperlihatkan oleh ibu dosen itu.
'Cih! Daripada memperhatikan dosen mengerikan itu, lebih baik aku membuka Kotak Misterius saja!' batinnya lagi lalu dia memanggi Sistem untuk memperlihatkan layar hologram didepannya.
Ryan melihat isi dalam brankas sistemnya masih ada 1 Kotak Misterius, 1 Kotak Hadiah Besar dan 2 Kotak Hadiah Kecil.
"Baiklah Tem! Buka Kotak Misterius!" ucap Ryan.
[Baik Tuan!] patuh Sistem.
[Membuka Kotak Misterius..]
[Ding! Selamat! Tuan mendapatkan 1 tiket kecerdasan belajar!]
"Eh? Tiket kecerdasan belajar? Tiket macam apa lagi itu?" tanya Ryan kebingungan.
[Seperti namanya, tiket itu dapat menjadikan Tuan menguasai satu jenis pelajaran tanpa belajar lagi!] jawab Sistem dengan santainya dan berharap Ryan akan senang.
"Owh.." ucap Ryan biasa-biasa saja tanpa merubah ekspresinya sama sekali yang membuat Sistem merasa aneh.
[Tuan tidak senang telah mendapatkan tiket itu? Bukannya itu sangat membantu Tuan dan Tuan tidak perlu belajar-belajar tapi sudah mampu menguasai?] tanya Sistem.
"Tem! Jika bisa sesuatu tanpa adanya belajar itu memang sangatlah menyenangkan! Dan mungkin menurut orang lain sangatlah keren sekali! Tapi tidak bagiku!" jawab Ryan ya masih dengan tanpa ekspresi.
__ADS_1
[Alasannya?] tanya Sistem lagi.
"Bagi semua orang mungkin sukses adalah tujuan dari kehidupan mereka, tapi tidak buatku! Menurutku sukses hanyalah sebuah hadiah yang diberikan oleh Tuhan untuk orang yang telah bekerja dengan keras!.."
"Sukses terlihat begitu wah bagi semua orang! Begitu juga dengan menguasai sebuah pelajaran! Tapi menurutku proses menjadi sukses atau menguasai sebuah pelajaran merupakan suatu kenikmatan tersendiri atau bisa dikatakan belajar itu adalah hal yang sangat nikmat! Jadi mendapatkan suatu ilmu tanpa adanya belajar, menurutku itu cukuplah merugikan karena tidak melewati sebuah kenikmatan yang berupa belajar!" ucap Ryan menjelaskan.
Sistem langsung berdiam seribu bahasa saat mendengar penjelasan dari Tuannya. Memang benar apa yang dikatakan olehnya itu. Dan orang yang dapat menikmati sebuah perjalanan menuju kesuksesan itulah yang biasanya yang menjadi sukses itu sendiri. Dalam kata lain bahwa orang yang dapat menikmati kenikmatan dari belajar adalah orang yang akan dapat menguasai pelajaran itu dengan sempurna nantinya.
Namun keberadaan orang yang seperti Ryan ini sangatlah minim di muka bumi ini. Mungkin hanya ada satu sosok saja dari setiap satu juta orang yang hidup. Sistem pun sangat bersyukur karena telah dipertemukan dengan Tuan yang seperti ini.
[Tapi berhubung tiket ini sudah terlanjur Tuan dapatkan, lebih baik Tuan segera pakai daja sekarang! Karena Sistem melihat sepertinya Al dosen wanita itu sangat tidak menyukai Tuan! Mungkin nanti Tuan akan mendapatkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak mungkin dapat Tuan jawab!] ucap Sistem membujuk Tuannya untuk memakai kartu atau tiket itu.
"Hahh.. Baiklah.. Aku juga merasakan suatu hal atau firasat yang buruk akan terjadi nanti dengan keberadaan dosen wanita itu! Aku sungguh tidak tahu mengapa bisa sampai demikian, ada dendam apa dia denganku?" kata Ryan yang juga merasakan hal yang sama dengan apa yang dikatakan oleh Sistem.
[Benar sekali Tuan! Jadi, apakah Tuan akan menggunakannya sekarang?] tanya Sistem.
[Baik! Menggunakan 1 tiket kecerdasan belajar!]
[Proses dimulai..]
[10%..]
[30%..]
[50%..]
__ADS_1
[70%..]
[100%]
[Ding! Selesai! Kecerdasan belajar untuk satu mata pelajaran telah aktif!]
Ryan kemudian merasakan kepalanya seperti sedang diputar-putar sehingga rasa pusing menyelimuti dirinya. Wajah Ryan terlihat sedikit pucat karena menahan hal tersebut. Namun setelah 5 menit berlalu, perlahan rasa pusing itu menghilang dan digantikan dengan sebuah ingatan-ingatan baru yang muncul di kepalanya yang berhubungan dengan pelajaran yang sedang saat ini dijalankan di kelasnya.
Dosen wanita itu terus menjelaskan mengenai hal-hal yang berhubungan dengan mata pelajarannya secara detail sekali. Sesekali dia menatap ke arah Ryan berada dan mengerutkan keningnya saat melihat wajah dari pemuda itu sedikit memucat. Akan tetapi dia tidak terlalu memikirkannya karena ada hal lain yang sedang dipikirkannya mengenai pemuda tampan itu.
Saat penjelasan dari dosen wanita itu selesai, dosen itu langsung menunjuk Ryan untuk menjawab sebuah pertanyaan lisan darinya. Ryan yang awalnya sedang melamunkan sesuatu yang baru saja dia dapatkan dari hasil menggunakan satu tiket kecerdasan belajar sangat terkejut saat mendapati dirinya ditunjuk oleh si dosen wanita untuk menjawab pertanyaan.
"Ah! Iya bu! Ada apa?" tanya Ryan yang terkejut.
"Kamu ini terlalu sombong! Ibu capek-capek menjelaskan di depan kelas tapi kamu malah dengan asyiknya melamun dan ketiga diberi pertanyaan kamu bahkan tidak mendengarkannya! Bagus! Sangat bagus sekali! Baik! Ibu akan memberikan beberapa pertanyaan kepadamu dan jika kamu tidak berhasil menjawabnya dengan benar maka kamu akan ibu laporkan pada bapak Sukamto untuk memberimu hukuman!" ucap si dosen wanita itu dengan terus terang.
Ryan mengerutkan keningnya saat mendapati dirinya akan mendapat hukuman dari bapak rektor jika tidak dapat menjawab pertanyaan dari dosen. Bukankah ini terlalu berlebihan? Hanya karena tidak mampu menjawab sebuah pertanyaan kemudian dihukum? Bukankah ini terlalu aneh?
Para murid yang lainnya juga merasakan hal yang sama dengan Ryan. Menurut mereka apa yang dilakukan oleh dosen wanita itu sungguh sangat berlebihan. Namun mereka juga tidak dapat untuk berkomentar karena mereka juga takut jika mendapatkan pertanyaan yang tidak dapat mereka jawab dan berakhir mendapatkan hukuman.
Akhirnya Ryan hanya bisa tersenyum menanggapi ucapan dari si dosen wanita itu. Dia memikirkan sesuatu hal yang akan dilakukan nanti untuk si dosen wanita itu setelah pelajarannya selesai dilakukan.
Bagaimanapun Ryan adalah pemilik saham tertinggi dari universitas atau kampus tempat dosen wanita itu bekerja. Hanya memecat satu dosen saja bukan hal yang sulit baginya. Mungkin bisa saja Ryan sengaja tidak menjawab pertanyaan yang akan diberikan oleh si dosen wanita itu atau menjawabnya dengan jawaban yang salah supaya dia dibawa oleh si dosen wanita untuk bertemu dengan bapak rektor Sukamto.
Dan setelah bertemu nanti, dia akan langsung mengatakan alasannya mengapa dia dapat ada di ruangan rektor serta menyuruh rektor itu untuk membuat surat pemecatan untuk dosen wanita. Sungguh sebenarnya itu adalah rencana yang sangat brilian!
__ADS_1
Namun karena mata pelajaran ini sudah dia kuasai sepenuhnya, bahkan mungkin lebih hebat daripada dosen sekelas universitas internasional sekalipun, dia berencana untuk tetap menjawabnya dan mengikuti kemauan dari si dosen wanita itu terlebih dahulu.