Bersama Sistem

Bersama Sistem
Chapter 87


__ADS_3

Ryan yang berada ditengah-tengah para preman yang menyerangnya bagaikan setumpuk gula yang dikerumuni oleh para semut yang memperebutkannya. Dan di sini pada preman itu memang sedang memperebutkan Ryan, akan tetapi yang diperebutkan adalah nyawa dari pemuda itu.


Trank! Trank!


Ryan sama sekali tidaklah gentar meskipun lawannya adalah 168 preman yang memiliki kekuatan dan skill bertarung di atas rata-rata. Bagi Ryan mereka tetaplah masih pemula dan harus belajar lebih giat lagi puluhan tahun agar dapat mengalahkannya.


Sret! Sret!


"Akhh.." Aakkh.."


Perlahan jeritan demi jeritan yang memilukan hati mulai terdengar dari mulut para preman itu. Ya, tentu saja mereka menjerit kesakitan karena terkena tebasan pedang katana milik Ryan.


Mereka yang tertebas sudah dipastikan tidak akan pernah bisa mempertahankan kehidupannya lebih lama lagi karena Ryan dengan sengaja mengayunkan pedangnya titik-titik vital para preman itu sebab kemarahannya yang begitu besar.


Salah satu preman yang merasa sangat frustasi dengan kehebatan yang dimiliki oleh pemuda itu, dia bergerak mundur dan mencoba untuk menjadikan Lastri sebagai sandra untuk yang kedua kalinya.


Slap!


Namun sebelum niatnya terpenuhi, tiba-tiba sebuah pisau yang sangat runcing dan tajam menusuk tepat di bagian belakang lehernya hingga tembus ke depan. Dan tentu saja hal itu dilakukan oleh Ryan yang melihat salah satu di antara para preman akan mendekati ibunya. Seketika preman itu pun langsung ambruk dan meregang nyawa dengan mata yang melotot tidak percaya.


Meski jika pun preman itu berani atau memukul ibunya saat ini tidak akan pernah terjadi suatu apapun karena ibunya telah Ryan pakaikan sebuah artefak yang dia beli dari toko sistem untuk melindungi sang ibu. Akan tetapi tentu saja Ryan tidak ingin membuat ibunya ketakutan karena didekati oleh preman itu.


"Ingin mendekati ibuku? Mati!" ucap Ryan dengan lirih dan tersenyum menyeringai.

__ADS_1


Saat ini tubuh dan pakaian Ryan sudah berlumuran dengan daerah dari para preman yang dia bantai. Dodi dan dua orang yang lainnya kecuali wanita cantik yang berasal dari Geng Kapak Maut mulai khawatir akan nasib mereka yang kemungkinan juga sama dengan nasib para preman itu.


Ketiga pria paruh baya itu memundurkan badan mereka untuk menjaga jarak supaya jika nanti seluruh preman dan juga wanita cantik yang berasal dari Geng Kapak Maut dikalahkan mereka dapat berlari untuk kabur.


Ryan terus aja mengayunkan pedang katana yang ada di tangannya. Setiap kali tangannya bergerak maka satu nyawa dari para preman bersenjata kan tongkat bisbol melayang menuju ke neraka. Ya, tentu saja ke neraka karena apa yang mereka lakukan adalah suatu kejahatan dan mereka mati di dalam kejahatan mereka.


Salah satu dari preman-preman itu yang memiliki kekuatan paling kuat di antara para preman yang lainnya sangat geram karena saudara-saudaranya dengan mudah dibantai habis oleh pemuda bersenjata akan pedang katana itu.


Preman itu mengayunkan tongkat bisbolnya dengan sekuat tenaga untuk memukul bagian kepala belakang Ryan. Namun karena intuisi yang sangat tajam yang dimiliki oleh Ryan sekaligus peringatan bahaya yang diberikan oleh Sistem kepadanya, Ryan langsung memutar badannya dan memblokir serangan tersebut.


Trankkkk!


Alhasil pedang katana di tangan Ryan dan juga tongkat bisbol di tangan preman itu berbenturan dan menimbulkan suara yang cukup keras. Ryan dan preman itu sama-sama mundur beberapa langkah kemudian saling menatap dengan tatapan beringas.


"Lumayan!" ucap Ryan dengan senyuman mengejek lalu dia kembali membalik badannya untuk memblokir serangan dari preman yang lain yang datang menghampirinya.


Trank! Trank!


'Pemuda ini sangatlah berbahaya dan kuat!' batin preman itu yang merasakan adanya sedikit jejak ketakutan dalam hatinya.


Namun dengan cepat dia langsung menepis rasa ketakutan itu lalu menggenggam erat tongkat bisbol di tangannya. Dia membuat kuda-kuda beladiri dan bersiap untuk memberikan serangan kejutan untuk yang kedua kalinya kepada pemuda bernama Ryan itu.


Setelah timing-nya dia anggap tepat, preman itulah langsung bergerak dengan kecepatan tinggi lalu memukulkan tongkat bisbol di tangannya dengan sekuat tenaganya. Akan tetapi Ryan ternyata juga sudah siap dan sigap akan datangnya serangan dari si preman itu.

__ADS_1


Dia kemudian melakukan gerakan yang sama seperti sebelumnya yaitu memutar badan dan memblokir serangan tongkat bisbol. Akan tetapi kali ini setelah dia berhasil memblokir serangan kuat tersebut, Ryan menjejakkan kakinya dengan sangat kuat mengarah ke dada preman itu.


Bugg!


"Ugh!"


Ryan berhasil menyarangkan tendangan itu dengan telak pada dada preman itu yang langsung membuat si preman terpental mundur sekitar 7 meter jauhnya serta membuatnya berteriak kesakitan sembari memegangi dadanya yang terasa sangat sesak seperti paru-parunya hendak hancur saja.


"Sangat indah.." ucap Ryan sambil tersenyum lebar menatap preman itu yang terkapar.


Dia kemudian menambah ritme kecepatannya untuk segera mengakhiri pertarungan yang menurutnya sangat membosankan ini. Dengan jurus-jurus kungfu yang dia dapatkan dari Sistem, Ryan menebas seluruh preman yang tersisa hingga hanya satu lagi yang masih hidup yang tidak lain adalah preman yang terkena tendangan telak sebelumnya.


"Hoy! Pria otot! Sampai kapan kamu akan pura-pura terbaring seperti itu? Cepat bangun dan hadapi aku!" seru Ryan sembari tersenyum menatap satu-satunya preman yang tersisa.


Si preman yang mendapat seruan dari Ryan sangatlah geram, dia ingin sekali mencabik-cabik pemuda itu namun dadanya masih terasa sedikit sesak. Dia berdiam sembari terlihat seperti orang terkapar karena sedang menstabilkan kembali pernafasannya, bukan karena pura-pura seperti apa yang dikatakan oleh Ryan.


Tidak lama kemudian, si preman itu pun akhirnya bangkit dan menatap tajam ke arah Ryan.


"Aku akui kau memang sangat hebat bocah! Akan tetapi untuk mengalahkanku kamu masihlah harus berusaha lebih giat lagi!" ucap si preman itu dengan suaranya yang sedikit tertekan karena nafasnya masihlah belum sepenuhnya stabil.


"Hohoo.. Begitukah? Tapi mengapa bisa aku menempelkan telapak kakiku di dadamu sebelumnya?" tanya Ryan dengan senyuman mengejek.


"Huh! Sebelumnya itu hanyalah kebetulan saja dan aku sedikit tidak fokus sehingga terjadi kecelakaan seperti itu. Tapi sekarang aku akan membalasnya berkali-kali lipat dan menginjak-injak dada serta wajahmu!" ucap supreman itu dengan berteriak.

__ADS_1


"Hehehe.. Aku ingin melihatnya. Apakah kau memang benar-benar mampu atau malah justru akan mengikuti jejak mereka!" ucap Ryan sambil menunjuk ke arah para preman yang sudah mati terbaring di sekitarnya kemudian mengibaskan pedang katana miliknya untuk menghapuskan jejak darah yang menempel.


Ryan dan preman itu pun mulai berjalan saling mendekat. Setelah jarak keduanya hanya berkisar 3 meter saja, Ryan dan si preman itu pun langsung membuat kuda-kuda beladiri untuk memulai kembali ronde kedua pertarungan mereka.


__ADS_2