
Setelah mengatakan itu, John langsung beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan Rio dan beberapa petinggi dari perguruan seni beladiri tengkorak hitam untuk menjalankan misi yang akan segera dia lakukan.
Wajah semua orang yang di tempat itu kini menjadi sedikit lebih tenang setelah John mau menunjuk dirinya untuk menjalankan misi. Sebab mereka tahu bagaimana ketangkasan dan kehebatan dari John.
"Aku harap kelompok mafia serigala bayangan tidak terlalu mengecewakan John!" ucap Rio dengan seringai dingin seperti iblis.
Dia mengatakan hal seperti itu karena dia lah orang yang paling mengetahui serta mengenal bagaimana John bersikap dan bertindak kepada musuh-musuhnya.
Pertemuan pun dibubarkan oleh Rio setelah semua masalah yang harus dibicarakan telah selesai dengan John yang menjadi perwakilan mereka untuk menjalankan misi yang sebenarnya adalah dari Ryan.
***
Disisi lain, Ryan yang telah menunggu selama setengah jam akhirnya diberitahukan bahwa mobilnya telah siap. Dengan tanpa berbasa-basi setelah Ryan membayar administrasinya yang menghabiskan uang 70 juta, dia langsung memasuki mobil dan menancap gas untuk kembali ke villa miliknya.
Ryan sampai di Villa Gunung Emas tepat pukul 23.00 atau jam 11 malam. Tidak seperti pada saat dia belum pindah rumah, kali ini Ryan tidak mendapati ibunya berdiri di depan pintu atau sedang menunggunya untuk pulang.
'Haiiss.. Syukurlah jika ibu tidak ada!' ucapnya didalam hati.
Setelah itu Ryan langsung masuk ke dalam villa untuk membersihkan diri sebelum pada akhirnya dia beristirahat.
***
Waktu terus berlalu begitu saja tanpa disadari bahwa pagi pun telah tiba. Seperti biasa, Ryan masih saja tidur di dalam kamarnya. Dia yang pulang agak kemalaman itu masih saja matanya merekat seperti ada lem dan belum ingin dibukanya. Padahal dia sudah terbangun sejak ibunya mengetuk kamar seperti yang dilakukan biasanya saat berada di rumah atau gubuk reot miliknya.
Hampir setengah jam bagi Ryan untuk mengumpulkan segenap nyawanya yang kabur saat dia tertidur. Dia mengecek handphone miliknya dan mendapati ada pesan dari Rio yang mengatakan bahwa John sudah berangkat untuk menyelidiki kelompok mafia serigala bayangan yang ada di luar kota.
Ryan hanya membalasnya dengan ucapan terima kasih lalu menutup kembali handphonenya itu dan menggeliat seperti cacing terkena panas.
"Aaahhhh.. Sesuai dengan kata orang bahwa hal yang paling nikmat adalah menggeliat setelah bangun tidur!" ucap Ryan.
Setelah itu, dia bangun dari kamarnya dengan langkah gontai menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap untuk berangkat kuliah.
__ADS_1
.
.
Ryan keluar kamarnya setelah jam telah menunjukkan pukul 07.00. Dia berjalan dengan santai menuju ke dapur atau ruang makan untuk bersiap menyantap sarapan yang sudah disiapkan oleh para pelayan yang dibantu oleh ibunya.
Ryan mengenakan pakaian favoritnya yaitu setelan kaos yang terlihat sederhana namun juga tidak terlalu terlihat murahan.
"Kamu sudah siap nak?" tanya Lastri sang ibu yang sudah duduk di kursi tempat meja makan itu berada.
"Tentu!" jawab Ryan singkat sambil tersenyum kepada ibunya itu.
Disisi kanan dan kiri Lastri juga ada Parman dan Suprapto yang dengan setia menjaganya seperti bodyguard bayaran milik seorang presiden atau konglomerat.
Ryan yang ditemani oleh ibunya serta kedua pengawal sarapan dengan tenang. Tidak ada seorangpun diantara mereka bertiga yang membuka suara ketika sedang makan. Hal itu karena ajaran yang diberikan oleh Lastri kepada Ryan tentang tata krama makan yang tidak baik jika diselingi dengan pembicaraan.
Ryan pun pergi meninggalkan villa miliknya itu setelah selesai sarapan dan berpamitan kepada sang ibu. Dia memakai mobil Ferrari untuk berangkat kuliah.
Ryan hanya tersenyum melihat orang-orang yang mengendarai mobil itu dan berkata di dalam hatinya bahwa ternyata uang atau harta bisa membuat orang lebih dihargai di zaman ini.
Dia sampai di kampus sebelum pukul 08:30. Yang artinya Ryan belumlah terlambat untuk masuk di kelas. Dan pada hari itu Ryan mengikuti semua aktivitas kampus dengan lancar tanpa halangan suatu apapun.
Dia juga tidak menghiraukan pertemuannya dengan Lintang yang membuat gadis itu merasa agak dijauhi oleh Ryan.
'Ada apa dengan Ryan? Mengapa dia seolah menjau dariku?' batin Lintang dengan perasaan yang tidak menentu.
Lintang ingin menyapa Ryan namun dia juga tidak berani karena malam sebelumnya dirinya telah memikirkan apa yang dilakukan atau sikapnya terhadap Ryan yang ternyata sangat telah menjengkelkan bagi seorang pria.
Sungguh gadis yang sangat jarang keberadaannya yang mana mau mengakui kesalahan yang dilakukan! Karena pada umumnya gadis yang masih berumur seperti lintang pikirannya sangat labil dan selalu ingin menang sendiri.
Namun karena dirinya sudah terlanjur malu dan merasa tidak enak terhadap Ryan, dia pun tidak jadi mendekati dan memendam semua perasaan yang ingin dia katakan.
__ADS_1
Sementara untuk Ryan sendiri dia justru merasa seperti ada beban yang lepas dari dirinya dan terasa sangat ringan untuk dirasakan. Hal itu sangat wajar baginya yang masih ingin merasakan kebebasan tanpa adanya suatu hal yang mengekang.
Pada harian baru kembali dari kantin, dia berjalan dengan terburu-buru untuk masuk ke dalam kelas agar tidak terlambat mengingat waktu sudah sangatlah mepet untuk pelajaran yang akan segera dilakukan.
Namun karena terburu-buruannya itu dia tanpa sengaja menabrak seorang gadis yang membuat buku-buku serta beberapa berkas yang sedang dipegang oleh gadis itu berhamburan.
"Ah!" seru gadis itu karena terkejut ditabrak oleh Ryan.
"Ah! Maaf non! Saya tidak sengaja!" ucap Ryan sambil membantu gadis itu memunguti buku serta beberapa berkas yang berhamburan di lantai.
"Tidak apa-ap-.."
Ucapan gadis itu terhenti saat tangannya tidak sengaja dipegang oleh Ryan saat ingin mengambil satu berkas. Begitu hanya dengan Ryan, iya yang awalnya ingin mengambil berkas itu dan menatanya tanpa sengaja malah memegang tangan gadis itu yang ternyata juga ingin mengambil berkas yang sama.
Adegan slow mo seperti pada film-film langsung terjadi di saat kedua muda-mudi itu saling pandang untuk beberapa waktu.
'Tampan sekali!' batin gadis itu saat melihat wajah orang yang menabraknya.
'Sangat cantik!' ucap Ryan dengan ketidaksadarannya didalam hati.
Mereka berdua tak sadar di saat tiba-tiba bel tanda masuk kelas itu berbunyi. Dengan cepat Ryan juga melepaskan pegangan tangannya pada sang gadis. Keduanya langsung sama-sama salah tingkah dan kikuk untuk beberapa saat sebelum akhirnya Ryan meminta maaf atas apa yang telah dilakukan olehnya yang tanpa sengaja itu.
Gadis itu hanya menggelengkan kepalanya tanda Ryan tidak perlu meminta maaf karena dia pun sadar bahwa Ryan tidak sengaja melakukan hal itu.
Setelah memberikan buku-buku serta berkas kepada sang gadis, Ryan akhirnya kembali melanjutkan perjalanannya menuju ke kelas. Namun tiba-tiba tanpa disangka olehnya gadis itu berseru menanyakan nama Ryan.
"Ryan! Namaku Ryan! Lalu siapa namamu?" tanya Ryan yang menghentikan langkah kakinya dan menoleh kebelakang sambil tersenyum.
"Ayu!" jawab gadis itu sambil tersenyum kemudian berlalu dari tempat itu dengan berlarian kecil.
Ryan juga tidak bisa untuk tidak tersenyum melihat tingkah dari gadis yang baru dikenalnya itu. Dia kembali pada arah dimana kelasnya itu berada juga sambil tersenyum.
__ADS_1