Bersama Sistem

Bersama Sistem
Chapter 38


__ADS_3

Tubuh Leo membeku saat ternyata Ryan tidak mendengarkan apa yang akan diucapkannya. Ryan justru menembakkan pistol yang sebelumnya dia lihat ke arahnya. Leo melihat kearah celana bagian pangkal pahanya yang kini terlihat berlubang dan ada bercak darah disana. Sial! Ryan ternyata menembak burung Leo dan tepat mengenai kepalanya! Jika diikutkan dalam perlombaan menembak, mungkin dia akan juara 1 karena begitu hebatnya dia membidik sasaran.


"Aaaakkhhh.."


Leo pun berteriak dengan sangat keras saat perlahan rasa sakit yang teramat di bagian burung perkututnya menjalar keseluruh tubuhnya. Sial! Entah bagaimana yang saat ini dirasakan oleh Leo ketika burung perkututnya mati ditembak Ryan.


Sementara untuk Topan dan ketiga teman lainnya hanya bisa terdiam membeku dengan tubuh menggigil ketakutan. Mereka sungguh tidak menyangka bahwa Ryan akan sekejap ini. Itulah yang ada difikiran mereka saat ini.


Mereka tidak sadar bahwasanya mereka juga termasuk orang-orang yang sangat kejam dan tidak tahu tempat, berpikir kejam terhadap Ryan yang baru pertama kali melakukan hal seperti itu kepada mereka.


Ryan hanya tersenyum melihat Leo berteriak seperti itu. Dia sekarang seperti iblis berdarah dingin yang sangat gemar membunuh dan menyiksa orang. Hal itu tentu membuat Topan dan ketiga teman yang lainnya semakin ketakutan.


Ryan menyimpan kembali pistolnya didalam brangkas sistem. Dia melakukan ini bukan berarti dia kejam, tapi karena dia sudah jenuh dengan apa yang selalu dilakukan oleh Leo beserta kawan-kawannya.


Kampus milik Ryan menjadi gaduh dan tidak terkendali. Bukan hanya dari kalangan mahasiswa saja, akan tetapi dari para dosen dan bahkan direktur sekaligus rektor Sukamto juga ikut terbawa dalam suasana kegaduhan itu.


Apa yang terjadi? Mengapa ada suara tembakan di kampus?" tanya direktur atau rektor Sukamto setelah keluar dari ruangannya.


"Kami juga tidak tahu pak Rektor! Akan tetapi kami mendengar suara tembakan itu dari arah dekat kantin kita" jawab salah satu dosen yang ditanya oleh Sukamto.


"Sial! Apakah kampus ini benar-benar telah menjadi sarang masalah? Kemarin ada geng motor tengkorak hitam datang memporak-porandakan kampus, lalu sekarang ada suara tembakan? Sial!" ujar direktur Sukamto mengeluh.


Para dosen itu tidak lagi menanggapi ucapan dari bapak Rektor mereka setelah melihat betapa marahnya dia. Mereka semua berbondong-bondong menuju ke arah sumber tembakan sebelumnya yang diikuti oleh pak rektor.

__ADS_1


Suara tembakan yang terdengar dari pistol Ryan itu membuat seantero kampus menjadi gempar. Para mahasiswa khususnya dari kalangan para gadis merasa ketakutan dengan tembakan tersebut sekaligus bertanya-tanya siapakah yang menembakkan pistol itu. Semua orang pun langsung bergegas menuju ke arah sumber tembakan itu terdengar. Mereka ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi.


Sementara ditempat Ryan dan kelima berandalan yang sebelumnya ingin membunuhnya, tanpak Ryan begitu santai berdiri dihadapan kelima orang itu. Tidak ada rasa takut ataupun rasa bersalah Setelah dia menembak kepala burung perkutut dari si Leo.


"Bagaimana? Apakah kalian masih ingin membunuhku?" tanya Ryan sambil mendekat kearah keempat orang yang tersisa.


"T-tidak! Jangan mendekat! Jangan mendekat" ucap Topan ketakutan. Dia sampai membasahi dirinya sendiri dengan keringat serta ompol yang tidak bisa tertahan lagi.


"Huhu.. Seperti inikah tingkah geng yang terkenal pemberani di kampus ini?" tanya Ryan dengan mengejek. Ryan terus mendekat kearah si Topan dan ketiga orang lainnya.


"Tidak! Jangan mendekat! Kubilang jangan mendekat!" ujar Topan yang ketakutan setengah hidup.


Brugg!


Topan terjengkang kebelakang karena dia terus mundur setiap kali Ryan mendekat.


Ryan Tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi ketiganya yang sangat ketakutan. Dia benar-benar ingin memberikan pelajaran yang setimpal untuk anak-anak nakal ini agar tidak lagi berani membully yang lebih lemah atau yang lebih miskin.


Ketika Ryan sedang tertawa terbahak-bahak melihat betapa lucunya ekspresi dari Topan dan ketiga orang lainnya, tiba-tiba dari segala penjuru kampus datang orang-orang yang penasaran dengan suara tembakan.


Ryah segera menghentikan tawanya dan tersenyum dengan santai.


"Ryan! Apa yang terjadi?" tanya direktur Sukamto.

__ADS_1


"Tidak ada apa-apa, hanya sedikit bermain saja!" jawab Ryan dengan bercanda.


"Kamu jangan bercanda untuk masalah seperti ini nak!" ujar salah satu dosen yang tidak senang dengan jawaban Ryan yang bercanda.


"Apa bapak dosen yang terhormat tidak melihat mereka? Mereka masing-masing memegang pisau ditangannya dan sebelumnya berniat untuk membunuh saya. Dan akhirnya dengan terpaksa saya memberikan sedikit pelajaran untuk mereka!" ujar Ryan menjelaskan.


Semua orang langsung melihat kearah Topan dan ketiga orang lainnya, mereka memang menemukan adanya pisau yang masih terpegang ditangan mereka dengan erat. Bahkan untuk Leo sendiri yang sedang berguling-guling karena rasa sakit, pisaunya tergeletak didekat dirinya.


Alhasil, semua orang percaya dengan apa yang dikatakan oleh Ryan. Sementara untuk dosen yang sebelumnya berkata dengan tidak senang kepada Ryan merasa dirinya telah dipermalukan. Dia menatap tajam ke arah Ryan lalu berkata,


"Bukankah ini terlalu kejam untuk seseorang yang hanya ingin memberikan sebuah pelajaran?" tanya dosen itu dengan nada tidak senang.


"Ohoo.. Kejam? Bapak bahkan masih mengatakan saya kejam? Bah! Coba tanyakan kepada semua murid yang ada di kampus ini! Bagaimana sifat mereka? Bagaimana kekejaman mereka dan bagaimana mereka membully orang-orang yang lebih lemah daripada mereka?" seru Ryan dengan penuh amarah.


Setelah mengatakan hal itu, Ryan kemudian berlari menuju ke arah Topan dan kawan-kawan lalu menendangi perut mereka dengan sangat keras.


"Hai kalian semua yang pernah dibully oleh orang-orang ini! Lihatlah! Aku Ryan telah membalaskan rasa sakit pada hati kalian!" teriak Ryan setelah membuat Topan dan ketiga orang lainnya pingsan.


Hal itu sontak membuat semua murid yang merasa pernah dibully oleh geng Leo dan Topan langsung bersorak dan bertepuk tangan. Bahkan diantara mereka ada langsung yang mendekati si Leo yang sudah terkapar lalu menghajarnya hingga bernasib sama dengan Topan dan ketiga temannya alias pingsan.


Direktur Sukamto dan para dosen hanya bisa melihat reaksi orang-orang yang ternyata pernah dibully oleh Leo Topan dan anggota gengnya yang sangat anarkis itu.


"Baiklah.. Mulai sekarang kampus ini tidak boleh ada lagi geng-geng atau apapun itu! Jika diantara kalian nanti yang berani membuat hal yang sama seperti orang-orang brengs*k ini, maka aku sendiri yang akan menghajar kalian atau bahkan aku akan membunuh kalian!.."

__ADS_1


"Tidak ada lagi kata diskriminasi! Tidak ada lagi bully mem-bully antara satu sama lain antara mahasiswa! Ingat! Yang kuat bisa dikatakan kuat karena ada yang lemah! Yang kaya bisa dikatakan kaya karena ada yang miskin! Semua itu hanya pemberian sementara! Jadi manfaatkan semua itu dengan baik dan benar! Itu saja pesanku!" ujar Ryan memberikan pidato.


Setelah mengatakan hal itu, Ryan pun pergi dari tempat itu begitu saja tanpa memperdulikan lagi bagaimana kondisi dari Leo dan teman-temannya serta melongonya mulut semua orang.


__ADS_2