
Ryan sampai di kelasnya tepat pada saat sang dosen juga akan memasuki kelasnya.
"Ah! Maaf pak! Sedikit telat!" ucap Ryan sambil nyelonong masuk ke dalam kelas seperti seorang berandalan saja.
Sementara untuk sang dosen sendiri dia hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap dari orang yang belum lama ini menggemparkan kampus.
Pelajaran dimulai dengan tanpa halangan suatu apapun. Namun ada yang bermasalah dengan Ryan. Beberapa kali dirinya terlihat tersenyum-senyum sendiri seperti halnya orang gila.
'Ayu.. Dia memang se-ayu wajahnya!' batin Ryan sambil tersenyum.
Dia terus fokus dalam imajinasinya itu tanpa menghiraukan penjelasan yang disampaikan oleh sang dosen. Sang dosen sendiri yang telah selesai menjelaskan pelajaran mengalihkan pandangannya kepada Ryan.
Wajahnya mengerut karena merasa aneh dengan bocah itu yang selalu tersenyum dengan tatapan mata kosong itu.
"Ryan!" panggil dosen itu namun tidak digubris oleh Ryan.
Ryan terus senyum senyum sendiri dan larut dalam imajinasinya serta membayangkan kejadian tidak sengaja yang terjadi sebelum dia masuk kedalam kelas.
"Ryan!" panggil dosen itu lagi. Akan tetapi masih belum ditanggapi oleh Ryan.
Hal itu membuat mahasiswa lain yang berada dikelas itu menjadi heran dan menatap kearah Ryan dengan pandangan aneh.
'Apa bocah ini sudah gila?' batin semua orang yang ada dikelas itu.
Sang dosen mendekat kearah Ryan dan terus memanggilnya dengan pelan. Sesampainya dihadapan Ryan, dia sampai mengipaskan tangannya tepat didepan wajah Ryan yang padahal matanya terbuka itu akan tetapi tidak disadari oleh Ryan.
Wajah sang dosen menjadi suram saat anak didiknya itu masih saja tersenyum-senyum sendiri tanpa sedikit pun mengiraukannya.
__ADS_1
"WOY RYAAAAN!" tiba-tiba sang dosen berteriak sangat keras sambil menggebrak meja tempat Ryan yang langsung membuat Ryan terkejut dan meloncat keatas kursinya dan memasang kuda-kuda bertarung layaknya tukang silat yang hendak melakukan atraksi.
Entah bagaimana prosesnya sehingga Ryan berada dalam posisi seperti itu karena kejadian itu berlangsung dengan sangatlah cepat.
"Bocah kampret! Apa yang kau lakukan? Cepat turun!" seru sang dosen dengan kesal.
"Aah!"
Ryan yang tersadar langsung terkejut dengan posisi dirinya sendiri yang sedang berada diatas kursi dengan satu kakinya diatas meja. Keseimbangan Ryan tiba-tiba hilang saat dia terkejut dengan posisinya.
"Aaah.. Pak! Tolooong!" seru Ryan lalu dia pun terjatuh tepat mengenai sang dosen yang otomatis membuat sang dosen terjungkal kebelakang, terjatuh lalu tertimpa tubuh Ryan.
Sungguh sial nasib sang dosen itu! Sudah terjatuh, tertimpa tubuh Ryan pula! Seperti sebuah peribahasa yang pernah diajarkan waktu sekolah dasar saja!
Ryan yang terjatuh menimpa sang dosennya itu terdiam sejenak dan menghela nafas lega karena posisinya dalam keadaan aman sekarang. Dia tidak langsung sadar karena terlalu panik sebelumnya bahwa sekarang ini dia sedang menduduki perut sang dosen. Namun setelah fikirannya kembali, dia kembali terperanjat dan buru-buru berdiri.
"Sial! Tidak sengaja ya tidak sengaja! Tapi mengapa kau malah duduk agak lama diperutku sebelumnya?" teriak sang dosen dengan sangat kesal.
Dia ingin marah kepada Ryan, namun dia mengingat apa yang dikatakan oleh sang rektor kampus dalam rapat yang diadakan beberapa saat lalu saat istirahat bahwa pemuda yang bernama Ryan Aji Sena yang sebelumnya pernah membuat masalah dengan menembak burung si Leo adalah pemilik saham terbesar kampus mereka.
Kejadian waktu itu yang masih membuat semua orang bingung karena pihak Leo tidak melaporkan Ryan kepada pihak polisi karena dengan sengaja menggunakan senjata api untuk melakukan sesuatu hal buruk kepada orang lain. Ya, meskipun permasalahan awal memang Leo lah yang memulainya.
Setelah mengatakan itu, sang dosen lalu mengatakan bahwa pelajaran telah selesai kemudian pergi meninggalkan kelas begitu saja tanpa pamit dan berkata-kata apapun lagi.
Terpaksa prosesi belajar mengajar pun harus diselesaikan seketika itu juga karena alasan mood sang dosen yang hancur gara-gara Ryan. Sungguh alasan yang sangat aneh namun nyata! Mungkin hanya di kampus tempat Ryan kuliah sajalah kejadian konyol seperti ini terjadi.
Suasana hening untuk beberapa menit setelah kepergian dari sang dosen. Ryan yang menjadi dalang dibalik terhentinya prosesi belajar mengajar itu kini ditatap oleh semua penghuni kelasnya. Ryan sedikit kikuk dan tidak enak dengan tatapan semua orang itu.
__ADS_1
Dengan kepercayaan diri yang sudah dia mengambil tas miliknya dan berjalan menuju depan kelas, Ryan berdehem lalu berdiri dengan tegak sambil menatap semua teman kelasnya.
"Ehem.. Berhubung pak dosennya sedang tidak mood untuk mengajar, maka untuk para murid sekalian! Kalian boleh membubarkan diri untuk pulang ketempat asal kalian sekarang!" ujar Ryan dengan santainya.
Semua teman kelasnya hanya melongo melihat tingkah koplak dari Ryan itu. Mereka justru menganggap Ryan seperti orang yang sedang mengajak penghuni kelas untuk membolos secara terang-terangan.
Sementara untuk Ryan yang sudah dengan berusaha untuk percaya diri berkata dihadapan teman kelasnya langsung cemberut saat melihat ekspresi wajah teman kelasnya itu yang justru memandangnya dengan tatapan aneh.
'Dasar kampret kalian semua!' batin Ryan dengan hati yang sangat dongkol.
Ryan pun ingin keluar dari kelas itu.
"Yasudah! Kalau kalian tidak mau untuk pulang, maka aku yang akan pulang sendiri saja!" ujar Ryan.
Namun saat dirinya baru saja mengalihkan pandangannya ke arah pintu keluar, Ryan kaget dengan keberadaan seorang pria paruh baya yang sedang berdiri sambil menatapnya dengan lekat.
"Ah! Pak rektor!" Ryan terperanjat.
"Ini.. Aku bisa menjelaskan semuanya pak! Aku tidak bermaksud untuk mengajak mereka untuk bolos!" ucap Ryan dengan tergagap.
Sementara semua teman kelasnya melihat Ryan dengan tatapan kasihan. Pak rektor Sukamto terkenal dengan sikap dinginnya dan sangat galak.
Pak rektor Sukamto terus menatap Ryan dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Setelah beberapa saat hening, bapak rektor Sukamto akhirnya membuka suaranya yang membuat semua orang yang ada di kelas itu terkejut dan tidak percaya.
"Berhubung tuan Ryan yang terhormat ini mengatakan bahwa kalian boleh pulang maka sekarang kalian benar-benar boleh pulang!" ujar pak rektor Sukamto dengan wajah datar lalu pergi meninggalkan tempat itu begitu saja.
Keheningan kembali terjadi di kelas Ryan. Mereka semua masih belum bisa percaya dengan apa yang mereka dengar. Rektor mengatakan bahwa sekarang sudah boleh pulang gara-gara Ryan? Apakah ini mimpi? fikir semua orang dalam kelas itu.
__ADS_1
Melihat sang rektor kampus pergi meninggalkan kelas milik Ryan, tanpa menunggu lama lagi, Ryan pun langsung bergegas meninggalkan kelas yang kemudian diikuti oleh satu persatu dari teman kelasnya.