Bersama Sistem

Bersama Sistem
Chapter 76


__ADS_3

Satu bersatu pertanyaan-pertanyaan sulit mulai dilontarkan oleh si dosen wanita. Dengan santai Ryan pun menjawabnya seolah pertanyaan itu adalah pertanyaan anak TK yang begitu mudahnya dia jawab.


Si dosen wanita itu menggerakkan giginya karena warna amarah dalam hatinya yang bergejolak. Dia sungguh sangat tidak menyangka bahwa pemuda itu dapat menjawab semua pertanyaannya seolah dengan tanpa berpikir sedikitpun.


Semua murid yang berada di kelas itu pun merasa keheranan mengapa dosen wanita itu terus bertanya kepada Ryan tentang permasalahan-permasalahan yang sulit pada konteks pelajaran mereka saat ini.


Salah satu diantara para murid itu ada yang memprotesnya dengan menunjukkan tangan namun murid itu justru mendapatkan kata-kata mutiara yang panjang kali lebar dari si dosen wanita. Sungguh benar-benar suatu hal yang sangat menjengkelkan bagi semua murid di kelas itu.


"Baiklah! Meskipun kamu telah berhasil menjawab semua pertanyaan dari ibu, namun karena ulahmu yang tidak menghormati ibu dengan malah tiduran atau melamun saat ibu menjelaskan, kamu akan tetap mendapatkan hukuman dan harus menghadap bapak rektor!" ucap si dosen wanita itu memberikan alasan yang tidak masuk akal.


Para murid di kelas itu ingin protes akan ketidakadilan yang dilakukan oleh si dosen wanita, namun orang yang menjadi korbannya malah justru mengangkat tangannya untuk menghentikan aksi protes mereka. Seperti yang Ryan rencanakan sebelumnya, dia hanya ingin mengikuti alur yang dibuat oleh situasi wanita itu.


Tidak lama kemudian, sesi belajar mengajar pun telah selesai dilakukan dan Rian dibawa oleh si dosen wanita menuju ke kantor rektor di mana bapak Sukamto itu berada. Ryan hanya tersenyum menyeringai mengikuti si dosen wanita dari belakangnya.


Dia ingin melihat bagaimana reaksinya beserta rektor kampus yang tidak lain adalah bapak Sukamto yang pasti akan lebih mendukungnya daripada si dosen wanita yang bertindak sesuka hati itu.


Tok! Tok! Tok!


Si dosen wanita itu mengetuk pintu kantor rektor dan suara pertanyaan dari arah dalam kantor pun terdengar yang menanyakan siapa gerangan yang datang dan dengan tujuan apa mereka ingin menghadap rektor.


"Saya Afifah pak Sukamto! Saya ingin melaporkan sebuah pelanggaran yang telah dilakukan oleh salah satu murid!" ucap si dosen wanita yang ternyata bernama Afifah.


Ryan mengerutkan keningnya saat mengetahui nama dari si dosen wanita itu adalah Afifah yang artinya orang yang sangat gampangan atau orang yang tidak ingin mempersulit suatu hal namun malah berbanding balik dengan saat ini yang dia lakukan kepada Ryan.


'Haaiihh.. Ada-ada saja!' batin Ryan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Masuk!" ucap suara pak rektor dari dalam kantornya.


Dosen Afifah pun membuka pintu itu kemudian menatap ke arah Ryan dengan tatapan beringas dan senyuman menyeringai terpancar dari sudut bibirnya untuk mengajaknya masuk. Dia berpikir bahwa sebentar lagi akan tamatlah riwayat dari si bocah yang membuatnya dongkol itu.


Ryan hanya mengangguk dan mengikuti saja dosen Afifah, dia pun berjalan mengikutinya memasuki kantor milik bapak rektor Sukamto. Dan sesampainya di dalam, dosen Afifah dan Ryan melihat rektor Sukamto sedang duduk di kursinya sambil memelototkan matanya karena tidak percaya dengan murid yang dibawa oleh dosen Afifah.


"R-ryan!" ucap rektor Sukamto sambil menunjuk ke arah Ryan.


"Selamat siang pak rektor Sukamto!" ucap Ryan sambil tersenyum lebar dan menyiratkan sebuah arti kepada rektor Sukamto.


"Ee.. S-sialan-.. Eh.. Maksudku silakan duduk!" ucap rektor Sukamto dengan gugup kepada Ryan dan juga dosen Afifah.


"Terima kasih pak rektor!" ujar dosen Afifah sambil duduk di kursi yang tersedia di hadapan rektor Sukamto.


"Jadi, pelanggaran apa yang telah dilakukan oleh murid ini Bu Afifah?" tanya rektor Sukamto.


"Ehem! Jadi begini pak rektor.." kata si dosen Afifah kemudian menjelaskan mengenai kejadian yang ada di kelasnya saat dia mengajar.


Tidak lupa dia juga memberikan sedikit bumbu-bumbu dalam kata-katanya agar terdengar lebih meyakinkan untuk rektor Sukamto pahami. Dia lalu meminta kepada rektor untuk memberikan hukuman berupa skors kepada Ryan atas pelanggaran ini.


Sementara untuk Ryan, dia hanya tersenyum-senyum mendengarkan penuturan yang dilontarkan oleh mulut si dosen Afifah. Dia juga menggelengkan kepalanya ketika mendengarkan ucapan dosen wanita itu yang menurutnya terlalu berlebihan.


Pak Sukamto hanya mendengarkan penjelasan itu dengan santai. Namun dalam hatinya dia tidak sesantai luarnya. Dia mengira bahwa dosen wanita bodoh ini dapat membodohinya. Padahal dia sendiri jelas mengetahui bagaimana sifat dan sikap dari pemuda yang dikatakan arogan dan melanggar peraturan itu.


"Jadi bagaimana pak rektor? Apakah bapak menyetujui hukuman untuk anak sialan ini?" tanya si dosen Afifah sambil menatap ke arah Rian dengan senyuman sinisnya.

__ADS_1


Wajah rektor Sukamto menjadi sangat tidak enak untuk dipandang. Dia terlihat sangat marah saat mendengarkan ucapan si dosen Afifah yang tidak bermoral itu yang mengatakan bahwa Ryan adalah anak sialan.


Namun pengartian lain justru yang diambil oleh pikiran si dosen Afifah. Dia berpikir bahwa bapak rektor Sukamto itu sangatlah marah kepada Ryan yang menurutnya sangat-sangat arogan dan tidak punya sopan santun. Dia yakin bahwa bapak rektor akan menjatuhkan hukuman yang lebih berat daripada hukuman yang dia inginkan kepada Ryan.


Brakk!


Rektor Sukamto langsung menggebrak mejanya hingga mengejutkan Ryan dan juga dosen Afifah.


"Sabar pak rektor! Sabar! Saya tahu bahwa bapak sedang marah atas perlakuan murid tidak tahu diri itu! Lebih baik bapak segera jatuhkan saja hukuman seberat-beratnya untuk murid itu!" kata si dosen Afifah sambil tersenyum sinis melihat Ryan.


Bapak rektor Sukamto menatap ke arah dosen Afifah dengan tatapan marah besar. Dia lalu menunjuki wajah dari dosen Afifah dengan amarah yang sudah tidak bisa ditahannya lagi.


"Kau! Katakan siapa yang menyuruhmu untuk berlaku seenaknya sendiri di universitasku ini?" tanya rektor Sukamto dengan berteriak keras.


Dosen Afifah sangat terkejut saat mendapati bahwa bapak rektor universitas melajustru marah kepadanya, bukan kepada Ryan. Dia ingin menjawabnya dengan segera namun lidahnya terasa begitu kelu sehingga tidak bisa untuk berkata-kata.


Dosen Afifah sangat takut dengan kemarahan dari bapak rektor Sukamto. Jika sampai masalah ini berlanjut maka mungkin bisa saja dia akan dipecat dari universitas ini dan tidak akan lagi memiliki pekerjaan. Dia kemudian melirik sedikit ke arah Ryan dan mendapati pemuda itu justru sedang tersenyum menyeringai menatapnya.


"Kemana kamu melihat wanita j*lang? Aku sedang bertanya kepadamu!" teriak rektor Sukamto sambil menuding kembali wajah dosen Afifah.


Dosen Afifah menjadi sangat kelimpungan dan tidak tahu harus menjawab apa dari pertanyaan yang diajukan oleh rektor Sukamto. Dia saat ini dalam posisi yang serba salah. Dia juga tidak tahu bagaimana seperti ini bisa terjadi dan tidak seperti yang dia pikirkan sebelumnya.


Melihat itu, Ryan lalu berdiri dari tempat duduknya dan mengetuk meja di hadapannya dengan satu jarinya memberikan kode kepada rektor Sukamto untuk melihatnya.


"Bapak urus saja dosen ini! Aku tidak ingin direpotkan hanya gara-gara masalah seperti ini! Kalau begitu aku pergi!" ucapnya lalu pergi meninggalkan kantor rektor tanpa menunggu jawaban dari rektor Sukamto.

__ADS_1


__ADS_2