
Selesai berbincang-bincang di ruangan keluarga, Ryan pun pamit kepada ibunya untuk beristirahat di dalam kamar. Lastri hanya menyetujuinya kemudian dia melanjutkan perbincangannya bersama dengan Parman dan Suprapto yang kini keduanya sudah dianggap sebagai keluarga.
Ya, hal itu sangat wajar karena selama ini Lastri dan Ryan tidak pernah menganggap dan memperlakukan keduanya sebagai bawahan melainkan sebagai saudara ataupun keluarga. Sementara untuk keduanya, mereka sangat tidak menyesal sekaligus bersyukur karena kalau itu merekalah yang dipilih oleh bos Rio sebagai pengawal dari Lastri saat anggota geng mereka dapat dikalahkan dengan mudah oleh Ryan.
.
.
Ryan berjalan dengan langkah gontai menuju ke kamarnya. Hari ini dia cukup pelan karena sebelum dia pulang dia terlebih dahulu menjalankan misi sistem tingkat rendah namun sangatlah melelahkan. Misi itu adalah menangkap pasien rumah sakit jiwa yang kabur.
Jika pasien itu hanya kabur tanpa membawa apapun Ryan tentu saja dapat menangkapnya dengan mudah. Akan tetapi pasien rumah sakit jiwa itu kabur dengan membawa parang di tangannya sehingga membuat teror bagi lingkungan yang dilewati olehnya.
Bahkan sudah ada dua korban dan seorang bocah yang pasien itu sabet menggunakan parang sehingga mereka terluka dengan parah dan harus dilarikan ke rumah sakit. Selain menakutkan, pasien rumah sakit jiwa itu juga sangat cepat larinya sehingga pihak rumah sakit sekaligus pihak kepolisian setempat kewalahan untuk mengejarnya. Mungkin dulunya sebelum dia dinyatakan gila oleh rumah sakit, dia adalah juara lomba lari cepat dengan jarak yang jauh.
Setelah Ryan sampai di kamarnya, dia segera menjatuhkan dirinya di atas kasur untuk beristirahat melepaskan lelahnya.
[Apa misi hari ini sangatlah melelahkan Tuan?] tiba-tiba suara Sistem terdengar dipikirannya yang menanyakan keadaan Ryan.
"Ayolah Sistem! Kamu adalah yang paling tahu tentang keadaanku! Jadi janganlah bertanya seperti itu!" ucap Ryan dengan nada tidak berdaya.
[Hehehe.. Tuan! Ini kan sebagai bentuk kepedulian serta perhatian dariku! Jadi janganlah kesal seperti itu dan tersenyumlah! Karena dengan tersenyum mungkin rasa lelah kita akan menghilang!] ucap Sistem yang memberikan kata-kata mutiara.
"Cih! Malah ceramah!" kesal Ryan.
Yang dia butuhkan saat ini bukanlah ceramah dari Sistem melainkan istirahat dengan tenang kemudian tidur dengan lelapnya.
[Hahaha.. Jangan merengut gitulah Tuanku! Ketampanan Tuan akan sedikit demi sedikit luntur jika terus seperti itu!] ucap Sistem sambil tertawa terkekeh-kekeh.
__ADS_1
"Sialan kau Tem! Sudah! Diamlah! Aku ingin tidur!" ucap Ryan dengan wajah yang sudah tertekuk-tekuk.
Sistem pun akhirnya diam dan tidak menggoda Tuannya kembali. Tidak lama kemudian Ryan akhirnya terlelap dalam tidurnya dan mulai untuk merajut mimpi indahnya.
Swush...
Sebuah cahaya putih terang keluar dari tubuh Ryan dan lama-kelamaan membentuk sebuah tubuh wanita anggun yang cantiknya mungkin melebihi bidadari. Wanita itu menggunakan pakaian yang sangat mewah layaknya seperti ratu dari sebuah kerajaan kuno yang sangat berkuasa.
Kemudian wanita itu pun berjalan mendekati Ryan dan duduk di tepi perbaringan tempat Ryan tidur. Wanita itu kemudian tersenyum dengan lembut memandangi Tuannya lalu mengelus kepala Rian dengan penuh kasih dan sayang.
Andai saja ada orang yang melihat senyuman indah dari wanita bercahaya itu, sudah dipastikan bahwa akan terjadi perang dunia bagi para laki-laki dengan tujuan hanya ingin melihat sebuah senyuman dari sang wanita bercahaya.
"Tuan! Tuan tidaklah pernah berubah dari dulu sampai sekarang! Meski sekarang Tuan hanyalah reinkarnasi yang memiliki tubuh yang sangat lemah, namun aku pastikan Tuan akan dapat kembali berjaya seperti waktu itu!" kata wanita percaya itu sambil berlinangan air mata.
Tangan seputih salju milik wanita itu juga terus mengusap kepala Ryan dengan lembut. Sebuah ingatan tiba-tiba saja muncul dibenak sang wanita bercahaya. Ingatan itu tidak lain adalah tentang kehidupannya dahulu bersama dengan Ryan. Tentang sebuah cinta dan kasih sayang dari seorang tuan kepada bawahannya sekaligus orang yang paling diperhatikan olehnya.
Wanita cantik bercahaya itu hanya tersenyum melihat Ryan yang demikian. Tentu saja dirinya tahu bahwa Tuannya ini sedang memimpikan pertemuan dengannya.
"Tuan! Aku tidak akan pernah meninggalkan Tuan! Aku pasti akan selalu bersama Tuan!" ucap wanita bercahaya itu lalu tidak lama kemudian tubuhnya mulai memecah menjadi butiran-butiran cahaya yang kembali memasuki tubuh Ryan.
"Jangan pergiiiii!" teriak Ryan dalam tidurnya sehingga dia sampai terbangun.
Deg! Deg! Deg!
Jantung Ryan berdetup dengan sangat kencang dan keras serta merasakan sakit yang luar biasa karena kerinduannya dengan sosok yang ada dalam mimpinya sebelumnya.
"Hanya mimpi.." ucap Ryan dengan lirih dan air matanya yang kembali menetes.
__ADS_1
Kreek!
Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dengan Lastri yang muncul dan langsung mendatangi Ryan dengan wajah khawatirnya. Dibelakang Lastri juga ada Parman dan Suprapto yang mengikutinya.
"Nak! Ada apa denganmu? Mengapa kamu berteriak-teriak sebelumnya?" tanya Lastri dengan khawatir sambil melihat wajah putra semata wayangnya.
Wajah Lastri langsung mengerut karena melihat butiran-butiran air mata keluar dari pelupuk mata putranya.
"Mengapa kamu menangis putraku? Apa yang terjadi?" tanya Lastri lagi dengan wajah khawatir sekaligus penasaran.
Ryan tersenyum melihat ibunya yang begitu mengkhawatirkan dirinya. Dia kemudian menghapus seluruh air mata yang berderai dengan tangan kanannya lalu memberikan jawaban atas pertanyaan sang ibu.
"Ryan hanya mimpi saja kok bu! Tidak apa-apa!"
"Mimpi? Hanya karena mimpi kamu sampai seperti ini? Apakah kamu bermimpi buruk putraku? Atau kamu bertemu dengan ayahmu?" tanya Lastri.
"Bukan ibu! Ryan bukan memimpikan ayah! Ayah pasti sudah tenang di alam sana! Jadi tidak perlu masuk-masuk ke dalam mimpiku!" kata Ryan sambil tersenyum lembut menatap wajah ibunya yang khawatir.
"Baiklah jika kamu tidak mau menceritakannya!" ucap Lastri pada akhirnya. Dia tidak ingin memaksa Ryan untuk bercerita meskipun dia sangat mengkhawatirkan putranya itu karena dia sampai menangis sebab mimpinya.
"Baiklah.. Ryan akan kembali tidur lagi! Ibu juga istirahatlah!" ucap Ryan sambil mencium tangan kanan Lastri.
Lastri hanya bisa mengangguk kemudian dia berdiri dari tempat tidur Ryan dan mengusap lembut ujung kepala putranya kemudian pergi meninggalkan kamar itu bersama dengan Parman dan Suprapto yang membuntutinya dari belakang.
Setelah kepergian dari sang ibu dan kedua pengawalnya, Ryan lalu beranjak dari tempat perbaringan dan membuka jendela kamarnya. Dia melihat bintang-bintang malam ini sangatlah banyak sekali. Tatapannya tiba-tiba menerawang jauh ke salah satu bintang yang warnanya terlihat berbeda sendiri.
"Kamu kembali muncul di dalam mimpiku! Siapakah kamu sebenarnya?" ucap Ryan dengan lirih dan penuh kerinduan disetiap kata-katanya.
__ADS_1