Bersama Sistem

Bersama Sistem
Chapter 39


__ADS_3

Seorang gadis cantik terlihat berlari dengan terburu-buru menyusul kearah dimana Ryan pergi. Gadis itu tentu saja adalah Lintang. Dia ingin tahu permasalahannya apa tentang Leo dan Ryan sehingga Ryan melakukan hal yang sangat mengerikan itu.


"Ryan tunggu!' seru Lintang yang mengejutkan Ryan.


Ryan menghentikan langkahnya. Dia menoleh kebelakang dan melihat Lintang sedang berlarian kearahnya.


"Lintang? Ada apa?" tanya Ryan dengan ekspresi keheranan.


"Ayo kekantin dulu!" ujar Lintang lalu menarik tangan Ryan begitu saja tanpa adanya aba-aba.


Ryan hanya menurut saja karena memang tujuannya sedari awal adalah kekantin untuk mengisi perutnya yang sudah sedikit keroncongan. Tidak butuh waktu lama mareka berdua akhirnya telah sampai di kantin. Lintang memesan beberapa makanan beserta minumannya tanpa persetujuan Ryan.


Ryan menggelengkan kepala melihat tingkah gadis cantik itu. Dia tidak pernah berharap bahwa gadis yang dia tolong waktu itu akan seaktif ini. Ryan pun duduk ditempat yang dipilihkan Lintang untuknya sambil terus memandangi gadis itu yang sedang sibuk dengan pesanan makanan.


Selesai memesan makanan dan minuman kepada pelayan kantin, Lintang langsung menatap Ryan dengan tatapan tajam. Sementara untuk Ryan, dia langsung memalingkan wajah melihat kearah lain sambil bersiul-siul seperti orang bodoh.


"Ryan!" panggil Lintang dengan wajah yang dibuat cemberut.


Ryan melihat kearah Lintang, dia begitu gemas dengan gadis didepannya itu yang sedang mengerucutkan bibirnya. Dia ingin sekali mengucirnya dengan karet bibir milik Lintang itu. Sial! Pemikiran yang sangat aneh.


"Sekarang katakan padaku, mengapa kamu sangat kejam dengan Leo dan rombongannya? Kamu tahu bukan, jika aku adalah teman dari mereka?" tanya Lintang yang merasa tidak puas dengan perlakuan Ryan dengan Leo dan kawan-kawan.


"Oh.. Kamu tidak sukakah?" tanya Ryan sambil tersenyum.


"Tentu saja tidak! Kamu sangat kejam! Bahkan menembak anunya dia!" ujar Lintang dengan ekspresi geram.


"Hahaha.." Ryan tiba-tiba tertawa terbahak-bahak yang membuat Lintang bertambah tidak senang.

__ADS_1


"Mengapa kamu malah tertawa?" tanya Lintang.


"Kamu masih bertanya mengapa? Haha.. Lintang Aprilia.. Bukankah kamu juga melihat bagaimana reaksi dari orang-orang sebelumnya? Kamu juga mendengar apa yang aku ucapkan sebelumnya bukan?" ujar Ryan yang balik bertanya.


Lintang terdiam seketika. Dia tentu melihat reaksi dari para mahasiswa yang bahkan dengan sadisnya menghajar Leo yang sudah tidak berdaya sampai pingsan. Dia juga mendengar pidato singkat dari pemuda didepannya itu dan membenarkan semuanya.


"Aku tidak kejam! Aku hanya ingin memperingati mereka saja bahwa orang lemah bukan berarti tidak bisa membalas perlakuan buruk dari orang seperti Leo dan kawan-kawannya!" ujar Ryan sambil menatap tajam kearah Lintang.


Lintang menjadi kikuk dan serba salah saat ditatap oleh Ryan seperti itu. Dia yang belum tahu permasalahan intinya tentu menjadi tidak enak hati kepada Ryan. Dia ingin memberikan tanggapan, akan tetapi pelayan kantin sudah datang dan menghantarkan makanan serta minuman untuk keduanya.


"Silakan.. Selamat menikmati!" ujar si pelayan setelah meletakkan semua hidangan diatas meja.


"Terima kasih!" ujar Ryan sambil tersenyum. Dia sudsh mengubah raut wajah seriusnya menjadi tersenyum ramah.


Setelah itu, suasana menjadi sangatlah canggung antara Ryan dan Lintang. Keduanya hanya diam tanpa saling berkata sepatah pun. Keduanya hanya memakan makanan yang tersedia diatas meja.


"Baiklah.. Terima kasih untuk hidangannya! Kalau begitu aku pergi kekelas dulu!" ujar Ryan lalu pergi begitu saja meninggalkan Lintang yang masih bengong menatapnya.


Setelah kepergian dari Ryan, Lintang barulah tersadar dari lamunannya. Dia sebelumnya melamunkan tentang kata-kata Ryan dan pernyataannya dihadapan semua orang. Jika memang Leo seburuk dan separah itu, maka dia juga harus menjauh darinya agar tidak terkena efek samping keburukan yang mendatanginya.


Lintang pun pergi meninggalkan kantin setelah membayar makanannya dan makanan Ryan. Setelah itu dia pun kembali kekelasnya untuk ikut prosesi belajar mengajar jam kedua.


***


Pelajaran kedua masih dibawakan oleh dosen yang sama dengan pelajaran pertama. Dosen itu beberapa kali melirik kearah Ryan karena masih sedikit terngiang kejadian sewaktu istirahat sebelumnya yang menurutnya sangat mengerikan.


Bagaimana tidak mengerikan? Ryan dengan kejamnya menembak burung perkutut Leo tepat pada kepalanya hingga hancur. Dia yang sebagai seorang wanita ikut meringis membayangkan burung Leo sekarang yang entah bagaimana bentuknya. Sungguh dosen yang aneh!

__ADS_1


Ryan menyimaknya dengan teliti penjelasan sang dosen. Dia memang sudah mengetahui dan faham dengan apa yang diajarkan oleh sang dosen, akan tetapi dia tetap memperhatikannya dengan serius dan setidaknya untuk menghormati sang dosen yang bagaimanapun dia adalah gurunya.


***


Waktu terus berlalu. Prosesi belajar mengajar pun kini telah usai. Ryan yang keluar dari kelas langsung menuju ruangan rektor untuk mengambil data-data atau berkas yang memang harus dia bawa.


Tanpa basa-basi Ryan langsung memintanya setelah dia sampai diruangan rektor atau direktur Sukamto. Selesai ditempat itu Ryan langsung menuju mobil Ferrari California T miliknya untuk kembali ke Villa.


Ryan sampai ditempat parkir dan melihat mobilnya sedang dikerumuni oleh banyak wanita atau gadis cantik. Salah satunya yang dia kenal adalah Lintang yang bahkan sudah nemplok di pintu mobilnya.


"Lintang? Ada apa lagi?" tanya Ryan dengan keheranan.


Bagaimana tidak heran? Gadis cantik dan imut ini selalu saja mengikutinya dan memaksa akan hal ini juga hal itu. Ryan sungguh dibuat tidak berdaya oleh Lintang ini.


"Aku ingin ikut bersamamu! Aku juga ingin merasakan mobil mewah ini juga dong!" jawab Lintang dengan entengnya.


"Apa! Kamu.." terkejut Ryan.


"Aku tidak ingin ada penolakan!" ucap Lintang memotong ucapan Ryan dan tetap memaksa ikut.


Ryan benar-benar dibuat tidak berdaya dengan sikap Lintang. Gadis didepannya ini benar-benar tidak bisa diajak kompromi. Jika dia disuruh memilih, Ryan lebih memilih bertarung menghadapi puluhan orang ahli seni beladiri sendirian daripada harus meladeni satu gadis cantik seperti Lintang.


Para gadis yang berada didekat Ryan dan Lintang itu saling berbisik-bisik tentang ketidak tahu malunya Lintang dalam bersikap. Mereka mencibir Lintang dengan kata-kata yang jelas tidak enak didengar oleh Lintang.


Namun orang yang dituju sangatlah tebal telinga. Lintang sama sekali tidak menghiraukan cibiran dari para gadis. Yang dia inginkan adalah masuk kedalam mobil bersama dengan Ryan.


Dengan keterpaksaan, Ryan akhirnya mempersilahkan Lintang untuk memasuki mobilnya yang membuat para gadis yang juga ikut berkerumun ditempat itu menjadi sangat iri.

__ADS_1


"Sial! Dasar wanita tidak tahu diri!" seru salah satu gadis yang sudah tidak tahan lagi dengan sikap Lintang dan keberuntungannya.


__ADS_2