Bersama Sistem

Bersama Sistem
Chapter 74


__ADS_3

Ryan terus berjalan menuju ke kantin tanpa memperdulikan kedongkolan hati dari Brian dan seluruh anggota gengnya. Ryan pun akhirnya telah sampai di kantin kampus dan mendapati seorang gadis muda yang sangat dia kenali dan pernah akrab dengannya juga.


Gadis itu tidak lain adalah Lintang Aprilia. Gadis yang dulu pernah manja sekali dengannya itu hanya melihat kedatangan durian dengan mata sayu dan pandangan kosong saja. Ada sebuah rasa yang tidak bisa diungkapkan melalui kata-katanya.


Ryan berjalan mendekati ke arah meja di mana Lintang Aprilia duduk. Gadis itu sedikit terkejut saat Ryan malah berjalan mendekatinya. Ryan berdiri tepat di sebelah Lintang yang tidak berani mengangkat wajahnya alias menundukkan kepala.


Tiba-tiba saja Lintang terperanja saat mendapati kepalanya dielus dengan lembut oleh tangan Ryan. Lintang mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah dari Ryan. Matanya langsung berkaca-kaca ketika melihat pemuda yang sudah cukup lama dia sangat rindukan.


"Bagaimana kabarmu Lintang? Maaf karena selama ini aku jarang menyapamu lagi!" ucap Ryan dengan lembut dan penuh dengan kasih sayang.


"A-aku.. Aku.."


Hanya kata-kata itu saja yang dapat keluar dari mulut Lintang yang tubuhnya sudah bergetar dengan hebat. air mata kerinduannya yang tertahan selama ini kepada pemuda yang sedang berdiri tepat di dekatnya itu akhirnya tidak tertahan lagi dan tumpah dengan sederas-derasnya.


Tubuh Lintang dengan refleknya langsung bergerak memeluk Ryan dengan sangat erat seolah dia tidak ingin kembali dipisahkan oleh keadaan. Lintang menangis tersedu-sedu di dalam pelukan Ryan tanpa memperdulikan reaksi dari orang-orang yang mulai berdatangan di kantin kampus.


Sementara untuk Ryan, dia hanya pasrah menerima pelukan dari Lintang. Dia terus mengelus ujung kepala Lintang serta bahunya dengan lembut tanpa berkata-kata apapun. Dia sebenarnya sudah menyadari bahwa gadis yang sedang memeluknya ini sudah lama memiliki perasaan kepadanya. Terlebih saat Sistem mengatakan hal yang sama akan perasaan gadis ini.


Setelah beberapa saat kemudian, Lintang pun akhirnya melepaskan pelukannya kepada Ryan. Dia menatap dalam pemuda itu dengan tatapan yang tidak mungkin bisa diartikan menggunakan sebuah kata untuk pengungkapan. Ryan hanya tersenyum melihatnya kemudian dia duduk tempat di samping Lintang. Ryan memanggil pelayan kantin untuk memesankan menu makanan untuknya dan untuk Lintang.

__ADS_1


Lintang tidak menolaknya. Dia hanya terdiam seribu bahasa sembari terus menatap wajah Ryan. Setelah beberapa saat kemudian pesanan pun datang dan Rian langsung menyodorkan makanan di depan Lintang serta menyuruhnya untuk memakannya.


"Makanlah yang banyak! Kamu tampak sedikit lebih kurus dari sebelum-sebelumnya saat kita sedang bersama-sama! Ayo! Mulai sekarang makanlah yang banyak! Oke?" ucap Ryan sambil tersenyum lembut kepada Lintang.


Lintang merasa sedikit malu dengan Ryan. Sebenarnya semenjak Ryan menjaga jarak dengannya, Lintang menjadi pribadi yang sangat pendiam dan tidak pernah berselera untuk makan. Maka dari itu tubuhnya kini menjadi sedikit kurus karena hal tersebut.


Dan sekarang orangnya yang dirindukannya telah berada di depan mata dan meminta kepadanya untuk makan yang banyak, Lintang langsung melahapnya satu persatu makanan yang ada di depannya dengan cukup cepat.


Sembari melahap makanannya, Lintang terus saja melirik ke arah Ryan untuk mencuri-curi pandang. Alhasil, makanan yang berada di depannya itu kini telah habis hanya dalam waktu tiga menit saja. Sungguh kecepatan makan yang luar biasa bagi seorang perempuan yang mana biasanya membutuhkan waktu hampir 15 sampai 20 menit untuk menghabiskan sepiring makanan.


Ryan hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah dari gadis polos yang sedang jatuh cinta itu. Dia tidak mempermasalahkan sama sekali dengan cara makan Lintang. Dia justru sangat senang karena telah membuat gadis itu kembali bersinar seperti saat sebelum-sebelumnya.


"Nah.. Jika kamu makannya banyak seperti ini kan jadinya kamu terlihat cantik!" ucap Ryan menggoda Lintang sembari mengambil tisu yang berada di depannya lalu mengelap bibir luar Lintang yang sedikit belepotan.


"T-terima kasih.." ucap Lintang dengan suara pelan.


"Tidak perlu berterima kasih seperti itu! Mulai sekarang panggil aku kakak! Katakan semua keluh kesahmu kepada kakakmu ini! Jika kakak mampu, maka pasti kakak akan membantumu! Dan jika ada orang yang berani membuatmu bersedih maka segera laporkan kepada kakak, biar kakak akan menghajar orang tersebut!" ucap Ryan sambil tersenyum lembut kepada Lintang.


"Itu.. K-kakak?" kata Lintang dengan terbata-bata dan memandangi wajah Ryan dengan tatapan yang sulit diartikan.

__ADS_1


"Benar sekali!" jawab Ryan dengan disertai anggukkan kepalanya.


Ryan sebenarnya sangat mengetahui maksud dari tatapan yang diberikan oleh Lintang. Akan tetapi dia mencoba untuk tidak bertindak berlebihan terlebih dahulu karena dia masih memiliki banyak sekali musuh yang mungkin saja dapat membahayakan Lintang jika dia melebihi dekatkan lagi dengannya.


Akhirnya mau tidak mau Lintang pun menerima Ryan sebagai kakaknya saja untuk saat ini. Yang terpenting baginya adalah dia bisa kembali dekat dengan pemuda yang berhasil menggetarkan hatinya sekaligus sosok penolong kehormatannya.


Setelah selesai berbincang-bincang di kantin, Ryan dan Lintang pun berpisah untuk memasuki kelas masing-masing karena sebentar lagi jam pelajaran akan segera dimulai.


"Ingat pesanku Lintang! Jangan pernah menganggapku seperti orang lain! Okey?" kata Ryan kepada Lintang sebelum benar-benar berpisah.


"Baik kak!" angguk Lintang yang menurut.


Tidak lama setelah selesai berkata itu, bel kampus menandakan disuruh masuknya seluruh murid terdengar di telinga Ryan. Dia segera berlari-larian kecil supaya bisa lebih cepat untuk sampai di kelasnya.


Dia tidak ingin terlambat memasuki kelas di saat dosen sudah masuk. Karena pada biasanya dosen akan masuk ke kelas tidak lama setelah bel kampus dibunyikan. Sementara untuk tiga hari kemarin dia sudah tidak memasuki kelas karena memiliki misi penyelamatan terhadap presiden. Ryan tidak mau jika dia kembali tertinggal dalam pelajaran karena sebab terlambatnya dia masuk kelas.


"Ah! Bu! Saya hadir bu!" seru Ryan saat melihat dosen wanita yang sudah berjalan memasuki kelasnya.


Dosen wanita itu segera menghentikan langkahnya dan melihat ke arah sumber suara itu datang. Saat dia melihat ternyata orang yang sedikit terlambat beberapa detik itu adalah Ryan Aji Sena, dosen wanita itu segera mempersilahkan masuk untuknya.

__ADS_1


"Masuk saja! Meski kamu telah terlambat beberapa detik, akan tetapi karena suasana hati ibu sedang sedikit lebih baik maka ibu akan memberikanmu toleransi untuk saat ini!" ucap dosen wanita itu dengan wajah datarnya.


Ryan sedikit merinding tubuhnya saat melihat wajah datar dari ibu dosen yang akan menjadi pengajarnya itu. Namun dia segera menepisnya dan berlari memasuki kelas lalu duduk di bangku kosong yang tersedia.


__ADS_2