
"Emang bener itu adalah mobilmu kampret! Tapi kau telah melukai hati kami dengan cara meletakan sesuatu yang tidak layak di atas mobilmu itu!" tiba-tiba suara teriakan terdengar di telinga Ryan menjawab apa yang dikeluhkannya sebelumnya. Teriakan itu keluar dari mulut seorang bocah kecil berumur sekitar 15 tahunan yang sedang berdiri jauh dari tempat Ryan menyetir mobilnya.
"Eh! Sialan! Dia bisa mendengar keluhanku dengan cara sejauh ini!" ucap Ryan lalu dirinya langsung menghentikan laju mobilnya.
Dia keluar dari mobil Mercedes Benz Maybach miliknya lalu menghampiri bocah laki-laki berumur 15 tahunan itu.
"Eh.. Dek! Ini buat jajan kamu ya!" kata Ryan sambil memberikan uang 50 ribu.
"Cih! Mobilnya saja yang keren dan mahal! Ternyata orangnya sangat pelit dan miskin!" ucap bocah itu mencibir Ryan namun tetap mengambil uang 50 ribu pemberian Ryan.
"Eh! Bocah somplak! Bukan begitu! Kakak sedang tidak bawa uang banyak! Dan juga buat apa uang banyak-banyak hah?" tanya Ryan kepada bocah itu.
"Itu rahasia!" jawab bocah itu sok misterius.
"O!" kata Ryan dengan satu huruf saja lalu pergi meninggalkan bocah itu tanpa pamit dan berkata apa-apa lagi.
Ryan memasuki mobilnya dan langsung menghidupkan mesin lalu melaju dengan kecepatan tinggi tanpa menghiraukan orang-orang yang berdecak kesal karena dirinya.
Sebelumnya Ryan yang tiba-tiba melunak dengan mendatangi bocah kecil yang umurnya 15 tahunan itu bukan karena apa-apa. Akan tetapi karena dirinya merasa sedikit aneh saja dengan bocah itu karena dapat mendengarkan keluhannya yang padahal jaraknya sangatlah jauh sekali.
Ryan mengira mungkin itu adalah malaikat kecil yang menyamar menjadi manusia dan ingin mengujinya. Tapi saat bocah itu malah meminta lebih dari uang yang diberikannya, makalah tentu saja Ryan langsung pergi meninggalkan dirinya karena sedikit kesal. Sudah diberi tapi masih saja menawar! Mungkin bocah itu adalah malaikat yang sedang gabut yang sedang menyamar untuk mengerjai dirinya.
Setelah beberapa saat, Ryan akhirnya sampai di Villa Gunung Emas miliknya dan memberikan salam 100 ribu untuk pak satpam yang berjaga di tempat itu. Ryan tentu tidak akan pelit dengan para pegawainya yang dengan setia melayani dirinya.
__ADS_1
Ryan sangat populer saat ini di kalangan para pegawai dan pelayan Villa Gunung Emas karena sikap loyalitasnya. Jika itu adalah pemilik villa yang dahulu, maka mereka justru mendapatkan sedikit penekanan karena peraturan-peraturan yang nyeleneh yang dibuat oleh anak dari pemilik villa.
Bahkan beberapa kali pelayan wanita villa didesak untuk menemani tidur anak pemilik villa terdahulu yang tidak lain adalah Brian bin Dodi. Tentu setelah kejadian itu banyak sekali pelayan wanita yang terus bergonta-ganti karena merasa terancam dengan anak dari pemilik villa.
Dan saat ini, tidak ada di antara para pelayan yang mengeluhkan perihal suatu apapun tatkala kepemilikan villa telah berganti. Mereka menjadi sangat betah dan bersyukur karena telah diperkerjakan di tempat orang yang sangat baik hati dan loyal.
Ryan mendapatkan lirikan yang sedikit aneh dari pak satpam karena meletakkan kursi rotan di atas mobil mewah Mercedes Benz Maybach miliknya. Akan tetapi setelah mendapatkan stempel 100 ribu dari si bos, wajah pak satpam langsung menjadi sangat sumringah.
Setelah memarkirkan mobilnya, Ryan pun menurunkan kursi rotan yang dia dapat dari Sean atau ayah si Ayu.
"Hallo bos! Apa ada yang bisa saya bantu?" ucap Parman yang tiba-tiba muncul setelah Ryan mencoba membuka tali yang mengikat kursi rotan di atas mobilnya.
"Ah! Kebetulan sekali kamu datang Parman! Tolong lepaskan tali yang ada di sisi sebelah sana ya!" ucap Ryan memberikan perintah kepada Parman.
"Siap bos!" ucap Parman dengan segera melakukan tugas yang diperintahkan oleh Ryan.
"Haha! Tidak apa-apa bos! Ini hanya kesepakatan dari bos Rio saja yang mengatakan mulai sekarang bos Ryan adalah bos besarnya perguruan beladiri tengkorak hitam kami!" jawab Parman dengan jujur.
"Oh.. Jadi begitu.. Terserah kalian sajalah! Yang penting kalian itu nyaman dan senang!" kata Ryan tidak menolak.
"Siap bos Ryan!" tutur Parman.
"Oiya Parman! Apakah kamu sudah dihubungi oleh Rio mengenai mafia serigala bayangan?" tanya Ryan.
__ADS_1
"Astaga! Maaf sekali bos Ryan! Aku lupa!" kata Parman dengan raut wajah menyesal.
"Ada apa?" tanya Ryan sambil mengerutkan keningnya.
"Sebenarnya sudah tiga hari yang lalu bos Rio memberitahukan kepada kami untuk menyampaikannya kepada bos Ryan bahwa John telah ditugaskan untuk memata-matai kelompok mafia serigala bayangan itu!.."
"Akan tetapi karena sangat susah untuk mendapatkan informasi dari geng atau mafia serigala bayangan akhirnya John memutuskan untuk menghabisi saja semua anggota mereka seorang diri dan meminta kepada bos dari mafia tersebut untuk menjawab pertanyaan mengenai siapakah dalang yang mengirimkan penembak jitu si setan hitam untuk membunuh bos Ryan!" kata Parman menjelaskan.
"Terus?" Ryan penasaran.
"Seterusnya tentu saja John melakukan apa yang menjadi keputusannya yaitu dengan membantai seluruh anggota mafia serigala bayangan seorang diri dan bertanya pada semua orang mengenai siapakah dalangnya.."
"Si bos dari kelompok mafia serigala bayangan itu berhasil dilumpuhkan oleh John akan tetapi dia meminta John berjanji untuk tidak membunuhnya ketika dia mengatakan siapa dalang dibalik insiden penembakan yang dilakukan oleh si setan hitam..."
"John langsung mengiyakan begitu saja karena menurutnya membunuh bos dari kelompok mafia serigala bayangan sama sekali tidaklah ada efek apapun setelahnya atau manfaat..."
"Bos mafia serigala bayangan mengatakan bahwa orang yang meminta si setan hitam untuk membunuh Riana adalah seorang pria paruh baya yang bernama Dodi! Dan setelah jaringan geng motor kita menyelidiki orang yang bernama Dodi ini ternyata adalah orang yang sama dengan orang yang mengutus kami untuk membunuh bos Ryan alias ayah dari bocah yang bernama Brian!" ucap Parman menjelaskan panjang kali lebar.
"Oh.. Jadi masih keluarga dari Brian ternyata! Lalu bagaimana dengan nasib bos dari kelompok mafia serigala bayangan itu?" tanya Ryan.
"Tentu saja John melepaskannya karena sebelumnya dia telah berjanji!" jawab Parman.
"Iya.. Tidak apa-apa! Melakukan sesuatu yang sudah dijadikan sebagai janji adalah suatu kewajiban! Jadi yang dilakukan oleh John itu sangatlah benar sekali! Aku salut dengannya yang mampu menghabisi seluruh anggota mafia serigala bayangan seorang diri!" ucap Ryan kemudian meminta Parman untuk menurunkan kursi rotan yang sudah dilepaskan talinya.
__ADS_1
Parman dengan senang hati menurunkan kursi itu. Namun pada saat dia baru mengangkat sedikit kursi rotan yang tampak sedikit kuno itu tiba-tiba matanya melotot karena ternyata kursi itu cukuplah berat. Berbeda dengan kursi-kursi rotan yang biasanya.
'Sial! Kenapa bos Ryan tidak bilang dulu! Sehabis ini mungkin aku harus pijit karena encokku pasti akan kambuh!' batin Parman menggerutu.