
Setelah berbincang-bincang sejenak dengan Pak Rangga, Ryan pun pamit undur diri menuju kekamarnya untuk membersihkan diri sebelum mengantar Lintang pulang.
"Haaiihh.."
Ryan menghilangkan nafas panjangnya sambil menjatuhkan tubuhnya itu diatas perbaringan atau kamar tidur.
"Tem.." panggil Ryan kepada Sistem.
[Iya Tuan!] sahut Sistem dengan acuh. Dia sangant tidak suka jika dipanghil yang seperti itu.
"Sudah lama aku tidak mengecek statusku! Sekarang cek status!" ucap Ryan.
[Cih! Baiklah Tuan! Cek Status:
Nama: Ryan Aji Sena
Umur: 23 tahun
Status: Jones alias jomblo ngenes dan tidak ada kejelasan
Pesona: 26/100
Poin: 500/1000
Keahlian: Tukang Pijat Super Tingkat Tinggi, Ahli Kungfu Tingkat Menengah, Skill Berkendara Tingkat Tinggi, Skill Peretas Tingkat Tinggi, Ahli Semua Bahasa
Kekuatan: 40/100
Tugas: -
Tabungan di bank: 423.021.845.000
Toko Sistem: Belum Bisa Diakses
Brangkas: Pedang Katana, Pistol, 2 Kotak Hadiah Kecil
__ADS_1
Versi Sistem: 1.0 (Naikkan..)]
Wajah Ryan langsung mengerut ketika melihat statusnya yang masih jones, namun kali ini ada tambahan kata 'tidak ada kejelasan' pada layar hologram yang terpampang didepannya.
"Tem! Apa maksudnya tidak ada kejelasan dalam statusku itu?" tanya Ryan dengan kesal.
[Hahaha.. Itu karena Tuan dengan kuta-.. Eh.. Maksudku Lintang itu memang tidak ada kejelasan!] jawab Sistem dengan santainya.
"Sial! Mengapa pula harus bawa-bawa Lintang! Dasar Sistem aneh!" ujar Ryan dengan hati dongkol.
[Masalah itu suka-sukaku dong! Mau aku tambahin, mau aku hilangin atau apapun itu terserah aku! Kalau Tuan pingin hapus, hapus sendiri sono jika bisa! Haha..] tutur Sistem mengejek Ryan.
"Cih!" Ryan hanya berdecih untuk menanggapi ucapan dari Sistemnya itu.
Setelah itu Ryan pun segera bangun dari perbaringannya itu untuk ke kamar mandi guna membersihkan dirinya. Seperti biasa, hanya butuh waktu tidak lebih dari 10 menit bagi Ryan untuk menyelesaikan ritual mandinya.
Setelah itu, Ryan keluar dari kamar mandi dan berganti baju yang telah disediakan oleh pihak Villa atau baju-baju yang sebelumnya dia beli dari butik. Semuanya sudah tersedia dan tertata rapi di dalam lemari kamarnya.
Ryan memilih baju yang menurutnya paling sederhana namun juga tidak terkesan seperti baju orang miskin. Ya.. Memang seperti itulah kepribadian asli dari Ryan. Dia tidak terlalu suka untuk bermewah-mewah dalam hal pakaian atau dilihat wow oleh orang dengan atribut-atribut mahal yang menempel dibadannya.
Ryan melakukan hal seperti itu karena dia terinspirasi serta tertarik dengan dua tokoh besar yang sangat kaya raya namun dia tidak pernah memamerkan hartanya dengan memakai atribut-atribut seperti jam tangan atau pakaian mahal atau apalah itu yang memperlihatkan bahwa saya dia banyak harta.
Kedua orang itu tentu adalah pendiri atau pembuat aplikasi Facebook, Instagram dan WhatsApp, Mark Zuckerberg dan pendiri atau direktur tertinggi dari sebuah perusahaan yang bernama Amazon, Jeff Preston Bezos.
Keduanya tidak pernah memakai atribut apapun. Bahkan jika keluar-keluar dari rumah, mereka hanya memakai kaos biasa yang harganya pun tidak terlalu mahal atau bisa dikatakan class menengah kebawah.
Saat ini jam telah menunjukkan pukul 05.00 sore. Ryan keluar dari kamarnya dan menemui semua orang yang sudah ada diruangan makan. Tanpa basa-basi lagi mereka semua menyantap semua makanan yang ada diatas meja makan itu dengan lahap.
Setelah selesai makan dan berbincang-bincang sejenak dengan sang ibu, Ryan pun mengajak Lintang untuk kembali kerumahnya atau pulang. Lintang awalnya ingin menolak. Dia sangat kerasan atau betah di Villa Gunung Emas milik Ryan ini. Terlebih ada ibu Ryan yang sangat perhatian terhadapnya.
"Kalau kamu masih ingin aku anggap sebagai temanku dan masih ingin aku sapa, maka Ayo sekarang kita pulang! Aku tidak mau orang tuamu kembali khawatir untuk kedua kalinya karena kamu pulang terlambat!" ujar Ryan dengan tegas.
Mendengar ucapan dari Ryan yang sangat tegas itu membuat Lintang tidak berani untuk menolak. Dia menganggukkan kepala tanda menuruti apa yang Ryan katakan.
"Bagus kalau kamu mengerti! Baiklah ibu.. Sekarang kami pergi dulu!" ucap Ryan kepada ibunya untuk pamit.
__ADS_1
"Iya nak! Hati-hati dijalan! Ingat! Kamu sedang membawa seorang gadis!" ucap Lastri mengingatkan.
Dia paham betul dengan anaknya itu yang mana sekarang hatinya pasti terasa sedang jengkel atau dongkol karena sikap dan sifat dari Lintang yang keras kepala. Maka dari itu, dia memperingatkan anaknya itu untuk tidak perlu ngebut-ngebutan dijalan.
"Ibu.. Lintang pamit dulu.. Kapan-kapan Lintang pasti akan mampir lagi kesini!" ujar Lintang yang bersalaman dengan Lastri.
Setelah itu Lintang pun berjalan di belakang Ryan untuk mendatangi mobilnya yang akan digunakan untuk mengantarkan Lintang. Ryan tidak menggunakan mobil Ferrari miliknya, akan tetapi dia ingin mencoba mobil Porsche.
Tidak ada obrolan sepatah pun yang terucap dari kedua muda-mudi itu. Keduanya hanya saling diam dan diam didalam perjalanan, kecuali Lintang yang mengarahkan Ryan untuk membelok kanan atau membelok kiri pada saat dijalan.
Satu jam berlalu sampai pada akhirnya mobil Porsche milik Ryan itu sampai disebuah rumah yang sangat megah bak istana yang menjulang tinggi diatas perbukitan.
Lampu hias yang lumayan banyak terlihat sangat indah dan menambahkan daya tarik bagi siapapun yang melihatnya.
"Itu rumahmu? Lumayan bagus!" tanya Ryan dan memuji interior kediaman mewah didepannya itu yang begitu klassik namun mewah.
"Bukan! Tapi milik Papa dan Mamaku!" jawab singkat Lintang lalu keluar begitu saja dari mobil Ryan dan masuk kedalam gerbang rumah tanpa berkata-kata apapun lagi.
'Sial! Gadis itu benar-benar menjengkelkan!' ucap Ryan dalam hatinya.
Setelah menarik nafasnya beberapa kali untuk menenangkan diri, Ryan pun memutar balik arah mobilnya lalu bergegas untuk kembali ke Villa Gunung Emas. Mobil Porsche milik Ryan itu melaju dengan santai dan tidak berburu-buru menuju kearah Villa Gunung Emasnya berada.
Di dalam perjalanan tidak lupa Ryan menghidupkan musik yang dia senangi yaitu musik Minang. Sambil bernyanyi dan terus menyetir mobil, Ryan melupakan segala sesuatu yang terjadi hari ini. Tentang kejengkelannya terhadap Lintang atau kedongkolannya terhadap ejekan sistem dengan berteriak-teriak keras didalam mobil.
Tiba-tiba pada saat Ryan sedang bergembira ria atau asik bernyanyi, firasat atau instingnya merasakan sesuatu hal yang buruk akan terjadi kepada dirinya.
DORR!
Dan benar! Sebuah peluru tembak melesat dengan cepat kearahnya menuju jantung Ryan. Akan tetapi Ryan sudah terlebih dahulu menghindar dan selamat dari aksi pembunuhan itu.
"Kampret! Siapa yang berani-beraninya ingin membunuh si tampan ini? Aku tidak akan memaafkannya!" ujar Ryan dengan kesal lalu melaju mobilnya dengan kecepatan tinggi dan berkelit-kelit agar tidak terkena tembakan susulan.
Ryan melajukan mobil Porschenya mengarah kesebuah gedung yang tinggi yang menurutnya disitulah orang atau sniper handal yang menembak dirinya sebelumnya.
Bagaimana tidak handal? Sekarang sudahlah sore hari bahkan bisa dikatakan sudah mulai malam. Tapi sniper itu masih dengan hebatnya menembak tepat kearah sasarannya jika Ryan tidak menyadarinya lebih awal dan menghindar.
__ADS_1
"Awas saja! Akan aku bikin babak belur dan aku jewer habis-habisan kau kampret sialan!" ucap Ryan sambil terus menyetir.