
Seringai tipis terpancar dari sudut bibir tuan muda Alexander. Dia sudah sangat lama tidak menemukan lawan yang setara dengannya seperti halnya pemuda yang bernama Ryan ini. Oleh karena itu saat ini dia benar-benar sangat bersemangat untuk bertarung dan mengalahkan lawannya.
Disisi lain, Ryan terus tersenyum dengan masam sambil menggosok-gosok dahinya yang masih saja terasa sangat sakit. Andai saja dia terlambat untuk menghadang laju dari kapak tuan muda Alexander maka sudah dipastikan kepalanya akan terbelah menjadi dua.
"Kau ternyata sangat hebat dalam berpedang anak muda! Aku sangat terhormat dapat bertarung melawanmu!" kata tuan muda Alexander sambil tersenyum lebar.
Ekspresi wajah Ryan masih saja masam meskipun mendapatkan sanjungan dari lawan bertarungnya. Saat ini dia tidak terlalu yakin dapat keluar sebagai pemenang tanpa dengan terluka. Mungkin aja dia akan kalah dan mati ditempat ini sementara ibunya pasti akan sangat bersedih jika mengetahui anak semata wayangnya mati di usia yang sangat mudah.
Hal itu sudah menjadi pemahaman setiap orang tua dan menjadi kesedihan yang paling berat serta pukulan terberat jika ternyata anaknya lebih dahulu mendahuluinya untuk meninggalkan dunia ini. Dan Ryan tidak ingin ibunya merasakan itu.
Dia kemudian mengeratkan pegangan tangannya pada gagang pedang katana lalu kembali membuat kuda-kuda beladirinya lagi.
"Apakah kali ini kau akan serius anak muda?" tanya tuan muda Alexander sambil tersenyum cerah.
Jika benar ada apa yang ditanyakan olehnya itu, maka dia akan sangat senang sekali dan menikmati pertarungannya. Karena dalam kelompoknya, tuan muda Alexander sangatlah terkenal dengan maniak pertarungan.
Dia seolah tidak pernah mengkhawatirkan nyawanya yang sewaktu-waktu bisa saja melayang saat dirinya ternyata kalah dalam bertarung. Dalam hatinya hanyalah ada rasa ingin membuktikan bahwa dia adalah jenius beladiri terkuat yang pernah terlahir dan tidak terkalahkan oleh musuh-musuhnya.
Ryan tidak menjawab ucapan dari tuan muda Alexander. Dia hanya bergerak dengan kecepatan tinggi lalu menebaskan pedangnya untuk membuat pria gila pertarungan itu merasakan pahitnya kekalahan dan dia dapat pulang kembali ke Villa Gunung Emas miliknya.
Ryan memahami satu hal bahwa senjata kapak tidaklah terlalu efektif untuk memblokir serangan atau lemah dalam sisi pertahanan. Senjata kapak hanya efektif untuk menyerang saja. Maka dari itu Ryan berniat untuk memberikan serangan bertubi-tubi kepada tuan muda Alexander tanpa memberikan kesempatan baginya untuk membalas atau membalikkan serangan.
Wajah tuan muda Alexander mengerut saat mendapati lawannya itu terus menyerang tanpa berhenti dan dia selalu dipaksa untuk dalam posisi bertahan. Padahal jelas bahwa posisi itu sangat tidak menguntungkan baginya.
'Sial! Apa bocah ini sudah mengetahui kelemahan senjata kapak?' batin tuan muda Alexander menggerutu.
__ADS_1
Wajah tuan muda Alexander kini berubah sangat suram dan tidak ada lagi senyuman lebar yang terukir seperti sebelum-sebelumnya. Kini posisinya benar-benar dalam keadaan terdesak dan tidak bisa untuk membalas meski hanya satu serangan kepada Ryan.
Sementara untuk Ryan sendiri, sudut bibirnya kini memancarkan seringai tipis. Dia benar-benar telah menyudutkan tuan muda Alexander yang sebelumnya berbicara arogan dan sangat sombong kepadanya. Namun keadaan menjadi terbalik saat ini dan dia tidak akan pernah menghentikan ayunan tangannya.
Ryan sangat yakin bahwa jika terus dalam posisi seperti ini, tuan muda Alexander pasti suatu saat akan melakukan sebuah kesalahan yang membuat celah ataupun peluang bagi Ryan untuk memberikan serangan penutup yang mengalahkannya.
"Dimana ucapan sombongmu yang sebelumnya tuan muda Alexander yang terhormat?" tanya Ryan mengejek pria di depannya itu di sela-sela dirinya melepaskan pedang untuk membubarkan konsentrasi.
Senyuman yang diperlihatkan oleh Ryan juga terlihat sangatlah menjengkelkan sekali sehingga membuat tuan muda Alexander sangatlah geram dan secara tidak sadar dia mulai terprovokasi.
Ryan menebaskan pedangnya dengan kekuatan yang lebih kuat dari sebelum-sebelumnya sehingga tuan muda Alexander langsung bergerak untuk memblokir tebasan itu menggunakan gagang kapaknya yang terbuat dari besi khusus yang sangat keras.
Trankk!
Bukk!
Tuan muda Alexander langsung terdorong mundur dan merasakan organ dalam yang ada didadanya seperti hendak hancur saja sehingga dia kehilangan fokus dengan Ryan yang kini sudah maju mendekatinya dan kembali mengayunkan pedangnya untuk memberikan serangan susulan ke arah lehernya.
'Sial!' umpat tuan muda Alexander sembari bergerak untuk menghindari tebasan pedang dari Ryan itu. Akan tetapi laju dari pedang katana milik Ryan lebih cepat dari pergerakan tubuh tuan muda Alexander sehingga bahu kanannya tertebas pedang itu hingga mengenai tulangnya.
Sret!
"Aaakkhh.."
Tuan muda Alexander menjerit kesakitan sembari memegangi luka yang menganga pada bahu kanannya. Dia bergerak mundur puluhan langkah dari Ryan untuk menjaga jarak supaya tidak mendapatkan serangan susulan lagi.
__ADS_1
Darah mengucur dengan deras mengotori jas hitam yang dia pakai. Rasa nyari yang teramat sangat menyakitkan akibat tulangnya terkena sedikit goresan pedang katana Ryan juga tuan muda Alexander rasakan. Kini dirinya tidak bisa lagi leluasa menggunakan senjata kapak dengan tangan kanannya. Dia terus berteriak sambil mengobati Ryan didalam hati.
Sudut bibir Ryan memancarkan seringai jahat yang terlihat sangat menakutkan begituan muda Alexander yang kini sedang terluka. Dia berjalan dengan santai mendekati musuhnya itu yang sebelumnya berbicara besar dan sangatlah sombong.
"Tuan muda Alexander! Apakah sekarang anda merasakan bagaimana pahitnya kekalahan itu?" tanya Ryan sambil terus memperlihatkan seringai jahatnya kepada tuan muda Alexander.
"Jangan mendekat! Aku mengaku kalah darimu! Silakan ambil mobilku! Semua perlengkapan beserta surat-suratnya sudah ada dalam dompet gantungan kunci dan dasbor!" ucap tuan muda Alexander dengan raut wajah ketakutan.
Dia sangat takut saat ini jika pemuda dihadapannya akan kembali menyerang dirinya yang sudah tidak berdaya.
"Hehehe.. Tuan muda Alexander yang terhormat! Jika aku lebih lemah darimu Dan posisi kita di balik apakah kamu juga akan memberikanku pengampunan?" ucap Ryan memberikan pertanyaan yang tidak mungkin bisa dijawab oleh tuan muda Alexander.
Tentu saja jika posisinya saat ini dibalik dan kondisi lawannya dalam posisi terdesak serta tidak berdaya, maka sudah pasti dia akan langsung membunuh lawannya seketika itu juga. Karena itu merupakan kesempatan dalam sebuah pertarungan yang tidak akan pernah dilewatkan oleh pihak yang posisinya diuntungkan.
Ryan terus berjalan mendekati tuan muda Alexander sembari mengayun-ayunkan bila pedang katana untuk menakut-nakuti mental dari lawannya itu. Sementara untuk tuan muda Alexander sendiri dia sudah memasang kuda-kuda beladiri meskipun rasa sakit pada tulangnya yang tergores pedang katana Ryan kini sudah mulai menjalar ke seluruh tubuhnya.
Tubuh tuan muda Alexander terlihat bergetar meskipun dia memposisikan diri dengan kuda-kuda beladiri kokoh.
"Maaf tuan muda Alexander yang terhormat! Aku tidak bisa mengampuni dan membiarkanmu hidup lagi! Karena suatu saat pastilah kau akan menjadi batu sandungan untukku jika itu dibiarkan!" kata Ryan memberikan keputusan.
"Tidak! Jangan mendekat! Jangan mendekat!" seru tuan muda Alexander ketakutan.
Ryan tidak memperdulikan teriakan lawannya itu. Dia lalu bergerak dengan sangat cepat dan dengan kekuatan penuh memberikan tebasan pada bagian leher tuan muda Alexander yang langsung berusaha untuk bertahan namun tetap saja gagal.
Sraakkk!
__ADS_1