
Darah menyembur mengenai wajah tampan Ryan. Sementara kepala tuan muda Alexander terbang lalu terjatuh ketanah menggelinding.
"Maafkan aku ibu! Kini anakmu telah menjadi pembunuh kejam!" ucap Ryan lirih.
Ada rasa penyesalan dalam hati kecilnya karena telah membunuh tiga orang ditempat. Sementara untuk tujuh belas yang lainnya kini mereka semua pingsan karena tidak sanggup lagi menahan rasa sakit yang mereka rasakan. Namun darah terus mengalir dari luka-luka mereka dan secara perlahan mereka pun akan mati juga tidak lama lagi.
Beberapa kali Ryan menghela nafas panjangnya berharap kejadian seperti ini tidaklah terulang kembali, sebab dia benar-benar tidak menginginkannya. Dia tidak ingin menjadi orang yang haus akan darah yang sedikit-sedikit langsung main bunuh.
Setelah memejamkan matanya beberapa saat karena termenung, Ryan lalu menyimpan kembali pedang katana yang telah dia gunakan untuk membunuh itu kedalam brankas sistemnya. Sementara untuk Sistem sendiri, dia tidak berbicara sedikit pun karena memahami kecamuk yang ada dalam hati tuannya.
Untuk menghilangkan kecamuk dalam hatinya itu, Ryan mengambil kapak milik tuan muda Alexander lalu berjalan kearah mobil sport Ferrari California T miliknya dan menghancurkan mobilnya itu dengan kapak yang ada ditangannya.
Setelah puas dengan kelakuan anehnya yang menghilangkan sedikit kecamuk dalan hatinya itu, Ryan menyimpan kapak itu lalu berjalan mendekati mobil Mercedes-Benz Maybach Exelero milik tuan muda Alexander lalu memasukinya.
Dia memeriksa surat-surat mobil yang sebelumnya telah dikatakan oleh tuan muda Alexander dan ternyata benar adanya. Ryan sedikit tersenyum lalu pergi meninggalkan tempat itu kembali ke Villa Gunung Emas.
Namun sebelum itu, dia mencari orang-orang yang sebelumnya akan melakukan transaksi dengan sindikat narkoba internasional Geng Kapak Maut. Akan tetapi dirinya tidak menemukannya. Ryan mengira mungkin mereka telah kabur setelah gagal melakukan transaksinya.
***
[Tuan! Apakah Tuan baik-baik saja?] tanya Sistem tiba-tiba saat Ryan masih berada dijalanan menuju ke Villa Gunung Emas.
"Mentalku sedikit terguncang Tem!" jawab Ryan dengan tanpa ekspresi.
[Itu wajar Tuan! Dan juga ini adalah pengalaman pertama Tuan membunuh manusia!] kata Sistem.
"Benar sekali! Tapi aku akan berusaha untuk tidak melakukannya lagi! Aku memang pernah melakukan hal kejam kepada Leo dengan menembak burungnya hingga hancur, tapi hal seperti itu masihlah bisa diganti dengan milik anjing atau kuda yang lebih mantab! Namun membunuh itu sesuatu yang lain!" ucap Ryan masih dengan tanpa ekspresi.
Sistem sebenarnya ingin tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan tuannya yang serampangan itu. Namun dia berusaha sebisa mungkin menahannya sebab suasana hati sang tuan sedang tidak dalam mood baik.
__ADS_1
Setelah beberapa saat kemudian, Ryan yang mengemudikan mobil dengan sangat pelan akhirnya tiba juga di Villa Gunung Emas. Ryan disambut dengan isak tangis sang ibu karena melihat Ryan terluka dan baju serta wajahnya penuh dengan darah.
"Apa yang terjadi kepadamu nak? Siapa yang melakukan ini?" tanya Lastri dengan ekspresi saat khawatir.
"Baiklah.. Tidak perlu dijawab! Sekarang ayo kamu masuk dulu! Ibu akan merawatmu!" katanya lagi yang mengerti akan anaknya tidak akan menjawab pertanyaan sebelumnya.
Ryan hanya menganggukkan kepala lalu berjalan masuk ke dalam Villa Gunung Emas dengan langkah gontai. Dia memasuki kamarnya untuk membersihkan diri serta mengatakan kepada ibunya bahwa dia ingin sendiri dan tidak ingin diganggu.
Lastri yang mengerti hanya mengangguk dan tidak bertanya mengapa dan apa sebenarnya yang terjadi kepada anaknya itu. Karena Lastri yakin bahwa esok atau suatu saat Ryan pasti akan menceritakan kepadanya tentang masalahnya ini.
***
Hari-hari berlalu dengan sangat cepat. Ryan menjalani kehidupannya seperti biasa tanpa pernah menceritakan kejadian kelam beberapa hari yang lalu. Dia juga sudah melihat tayangan di TV yang memperlihatkan 20 mayat yang ditemukan di sebuah gang sempit pemukiman warga.
Kasus itu masih terus diselidiki oleh polisi, namun sampai saat ini mereka belum menemukan siapa sebenarnya pelaku yang berbuat hal sesadis itu. Mereka hanya mengetahui bahwa orang-orang yang terbunuh adalah para anggota dari Geng Kapak Maut.
Ryan hanyalah diam saja melihat pemberitaan di televisi itu tanpa berekspresi sedikitpun. Sebab Lastri pasti akan bertanya sesuatu hal jika dia merubah ekspresi wajahnya.
***
Tentunya Sistem dengan senang hati menuruti permintaan dari tuannya itu. Beberapa hari ini juga sistem belum lah memberikan tugas lagi kepada Ryan supaya tuannya itu hatinya tenang terlebih dahulu.
Selesai melakukan sarapan, Ryan pun pamit dengan ibunya dan mengatakan kepada Parman dan Suprapto untuk terus menjaga sang ibu ke manapun sang ibu berada.
Sementara Lastri hanya tersenyum mendengar ucapan anaknya yang begitu perhatian terhadap dirinya. Dia tidak menyangka bahwa meskipun hidup mereka telah berubah namun sifat dan sikap yang diperlihatkan tidaklah pernah berubah. Hal itu membuat hati Lastri sedikit bergetar karena bahagia telah memiliki putra yang sangat baik seperti Ryan.
"Baiklah nak! Hati-hati dijalan! Tidak perlu ngebut-ngebutan!" kata Lastri memperingati.
"Iya bu! Tenang saja! Palingan cuma jalan 100 saja!" jawab Ryan dengan santai seperti tanpa beban. Dia pun bersalaman dengan sang ibu seperti yang biasa dilakukannya jika hendak pergi kemanapun.
__ADS_1
Plak!
"Aduh! Mengapa ibu melukul kepalaku?" tanya Ryan yang kaget karena ibunya tiba-tiba memukul kepala bagian belakangnya saat dia bersaman.
"Bocah bandel! Laju 100 dari mobil itu sangat kencang tahu!" ujar Lastri yang marah-marah.
"Ehehehe.. Ayolah ibuku yang paling cantik dan baik! Anakmu ini akan terlambat lalu dipermalukan oleh manusia satu kampus jika tidak sedikit ngebut!" kata Ryan sambil memasang wajah memelas.
"Cih! Alasan saja! Tapi baiklah! Tetap hati-hati!" kata Lastri pada akhirnya.
"Asssiiyyaaap bu bosku!" ujar Ryan lalu memberi hormat kepada ibunya dan setelahnya berlari menuju mobil Mercedes-Benz Maybach Exelero.
Lastri hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah dari anak bujangnya itu. Dia sangat senang karena sikap Ryan yang sebelumnya hanya diam dan sedikit dingin semenjak kepulangannya dalam keadaan terluka dan penuh darah kini telah kembali seperti semula.
Dia bersama dengan Parman dan Suprapto kembali ke dalam villa untuk mempersiapkan beberapa hal yang dibutuhkan.
***
Didalam perjalanannya menuju kampus, Ryan berbincang-bincang santai dengan Sistem dan saling bertanya mengenai beberapa.
"Tem! Selama hampir sepekan ini aku tidak mendapatkan tugas sistem! Apakah memang tidak ada tugas yang harus aku selesaikan?" tanya Ryan penasaran.
[Sebenarnya ada Tuan! Tapi aku sengaja meng-cancelnya karena melihat suasana hati Tuan masihlah belum stabil!] jawab Sistem santai.
[Apakah Tuan ingin mendapatkan tugas sistem sekarang juga?] ucap Sistem lagi dan bertanya kepada Ryan.
"Tem! Apa kamu ingin aku terlambat di jam kuliah?" tanya Ryan dengan nada kesal.
[Hahaha.. Kirain Tuan sudah mau menjalankan tuga sekarang juga!] kata Sistem sambil tertawa terkekeh-kekeh.
__ADS_1
"Cih!" decih Ryan. Dia pun mulai melaju mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Bruuummm...