
Ryan dibawa oleh si pelayan kehalaman villa untuk menemui tamunya. Dan benar! Ryan melihat ada tiga mobil truck pengangkut yang sudah masuk didepan villanya. Truck pertama dan kedua adalah yang mengangkut mobil Ferrari dan Porsche, sementara truck kedua membawa dua motor pesanannya.
Ryan tersenyum melihat mobil dan motor pesanannya telah tiba. Lalu seorang pria paruh baya dan seorang gadis cantik datang menghampirinya setelah tahu Ryan keluar dari dalam villa.
Keduanya adalah manajer dari dua dealer yang ditugaskan oleh pemilik dealer untuk mengurusi pesanan Ryan. Dengan ramah Ryan menyalami mereka berdua dan mengajak mereka masuk kedalam villa.
Setelahnya, dia dan kedua orang itu mengurusi surat-surat kepemilikan kendaraan dan masalah pelunasan. Hal itu berlangsung selama satu jam dan saat ini keduanya telah selesai dengan urusannya dan tersenyum dengan puas.
"Baiklah Tuan Ryan! Untuk surat-surat lainnya, kami akan memberikannya kepada Tuan Ryan setelah satu hari!" ujar pria paruh baya.
"Begitu pula dengan kedua motor itu Tuan Ryan!" tambah sang gadis muda.
"Baiklah.. Tidak masalah! Kalian cukup datanglah saja ditempat ini! Namun jika kalian tidak menemukanku esok, maka berikan saja kepada manajer villa!" ucap Ryan.
"Baik Tuan Ryan!" ujar keduanya lalu pamit pergi meninggalkan Ryan.
Kedua mobil dan kedua motor juga sudah terparkir dengan rapih digarasi yang ada disamping villa. Ryan sangat puas melihat keempat barang barunya itu.
Perlu diketahui juga bahwa Villa yang dibeli oleh Ryan memiliki tiga bagian. Bagian yang pertama dan yang kedua adalah untuk mereka orang-orang yang ingin berekreasi di Puncak yang terdiri dari tempat-tempat khusus seperti kolam renang, restoran dan lain-lain. Lalu yang terakhir adalah bagian villa inti atau yang sekarang sedang Ryan tempati.
Oleh sebabnya villa itu memiliki banyak pelayan yang bertugas melayani orang-orang yang sedang berkunjung untuk berlibur atau rekreasi dan pelayan utama yang bertugas melayani pemilik villa di villa utama.
Kalian memanggil managernya untuk datang menghampiri. Dia ingin pergi dari villa itu dan menitipkannya kepada sang manajer semua barang dari mobil dan motor barunya.
"Baik Tuan Ryan! Anda bisa tenang dan mempercayakan semuanya dengan saya. Saya akan menjaganya dengan segenap kemampuan saya!" ucap sang manajer yang bernama Rangga.
"Baiklah.. Aku percayakan semua kepadamu Pak Rangga! Mungkin dua atau tiga hari lagi aku akan kembali bersama dengan ibuku!" kata Ryan.
"Siap Tuan Ryan!" ucap Rangga.
Setelah mengatakan beberapa hal yang menurut Ryan adalah hal yang penting, Ryan kemudian pergi menuju motor ninja Suprapto dan berniat untuk kembali ke rumah ibunya.
Bruummm...
Ryan menarik gas motor lalu melesat dengan kecepatan tinggi kembali ke rumah sang ibu. Dian takut ibunya akan marah karena saat ini jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas atau pukul 22.30.
"Aaiiss.. Semoga ibu tidak marah!" ucap Ryan sambil terus menarik gas motor dengan kuat.
__ADS_1
[Tenang saja Tuan! Ibu Tuan tidak akan marah! santai-santai..] ujar suara Sistem yang tiba-tiba terdengar di kepala Ryan.
"Santai kepalamu santai! Kamu tidak tahu bagaimana sifat Ibuku kalau aku telat atau terlambat pulang! Aku harus mempersiapkan diri untuk mendengarkan ceramahnya yang mungkin akan berlangsung selama 1 jam nanti!" ucap Ryan dengan kesal.
[Hahaha.. Sabarlah Tuan.. Sabar.. Ingat! Orang sabar pantatnya lebar! Hahaha..] kata Sistem dengan tertawa terbahak-bahak.
"Sialan kau!" tutur Ryan dengan dongkol.
Bagaimana tidak? Sistem selalu saja menggodanya saat dia sedang kesal. Terlebih apa kata dia sebelumnya? Orang sabar pantatnya lebar? Sungguh sistem gila! batin Ryan.
"Oiya Tem, Sistem! Apa kamu punya ide untuk menghabiskan sisa uang yang kumiliki itu?" tanya Ryan mencoba membahas hal lain.
[Cih! Panggilan begitu lagi! Untuk kali ini Tuan berfikir dan carilah cara sendiri! Aku tidak akan memberi ide lagi!] jawab Sistem dengan nada kesal.
"Ayol-.."
[Tidak! Sekali tidak ya tidak!] ucap Sistem memotong ucapan Ryan.
Ryan akhirnya terdiam untuk beberapa waktu dan tidak berbicara dengan Sistem. Dia selalu tidak berdaya dan kalah jika terus berdebat dengan Sistem bawelnya.
"Masalah? Masalah apa?" tanya Ryan.
[Ding! Tugas sistem tingkat tinggi telah terpacu! Selamatkan pria paruh baya yang hendak dibunuh oleh para preman! Tuan akan mendapatkan 10 poin sistem, 2 poin pesona, 1 kotak hadiah kecil dan 20.000.000 uang tunai! Jika gagal Tuan akan kehilangan hadiah dari tugas menghabiskan uang Tuan!]
"Tch! Sialan! Mengapa hukumannya seolah mengharuskan aku untuk menoling orang itu?" tanya Ryan tidak berdaya.
[Itu suka-sukaku!] jawab Sistem dengan acuh dan tidak mau tahu.
"Cih! Lalu dimana tempatnya?" Ryan bertanya dengan berdecih.
[Didepan sana! Tuan tinggal terus saja melaju kearah rumah Tuan, maka Tuan akan menemukan mereka!] jawab Sistem.
"Baik!" kata Ryan mengangguk.
Ryan terus melajukan motornya. Dan benar! Setelah lima belas menit, Ryan menemukan sekelompok orang terlihat sedang seperti mengintrogasi seseorang pria paruh baya. Mereka membawa senjata berupa parang dan sabit sehingga tidak ada orang yang berani mengusik saat lewat.
[Tuan berhati-hatilah! Salah satu dari komplotan itu ada yang membawa senjata api! Jangan sampai Tuan tertembak dan mati dulu sebelum Tuan membahagian ibu Tuan!] ucap Sistem memperingati.
__ADS_1
"Oke!" ucap Ryan lalu menepikan motor dan menghampiri kelompok yang sedang mengintrogasi dan hendak membunuh pria baya
***
Sementara itu di pinggiran jalan, sosok pria baya sedang dikerumuni para preman berwajah sangar dengan diikat dan didudukkan diatas kursi. Wajahnya terlihat sangat lebam tanda dia habis dipukuli. Disudut bibirnya juga ada setitik darah segar yang mengalir. Namun pria paruh baya itu masih tampak tegar dan tidak mengeluh sedikitpun.
"Cepat katakan! Dimana disk itu?" ucap pria berwajah sangar bertanya dengan membentak. Ditangannya juga terpegang parang yang dihadapkan tepat diwajah pria baya.
"Cuih! Bahkan jika kalian membunuhku sekalipun, aku tidak akan mengatakannya kepada para bajing*n tidak tahu diri seperti kalian!" jawab pria paruh baya sambil meludah darah kearah pria yang menodongkan parang.
Plakk!
Sebuah tamparan sangat keras dari preman lainnya mendarat dipipi pria paruh baya itu sehingga membuat bibirnya pecah dan berdarah.
"Kau benar-benar keras kepala! Cepat katakan!" bentak preman itu lalu memberikan tanparan lagi dan lagi kepada pria paruh baya.
Plaakk!
Plaakk!
Plaakk!
Setelah puas menampari pria paruh baya itu, dia melihat kearah korbannya yang malah justru tersenyum dengan menyeringai kepadanya.
"Sialan!" teriak preman itu lalu memukulkan tinjunya pada perut pria paruh baya.
Bug!
"Ugh.."
Pria baya menger*ng kesakitan saat pukulan telak itu mengenai perutnya. Akan tetapi dengan tegar dia tidak berteriak atau mengeluh yang membuat orang-orang yang menyiksanya sangat geram.
"Sudahlah! Tidak usah banyak basa-basi lagi! Bunuh saja dia!" ucap salah satu preman yang tampaknya dia adalah bos atau pemimpin dari preman itu.
"Baik bos!" ucap pria yang memegang parang dan bersiap untuk menebas leher pria paruh baya.
"Yoo.. Sepertinya kalian tidak punya sopan santun terhadap orang yang lebih tua!" ucap sebuah suara dari arah belakang komplotan preman.
__ADS_1