
"halo assalamualaikum mah, pah" sapa Diyan setelah mengambil hp yang diberikan Shira
"wa'alaikumussalam sayang, kalian disitu gimana kabarnya? apakah kalian kekurangan uang? jika kurang kamu bisa bilang ke mama dan papa" ucap mama Diyan disebrang telepon dengan pertanyaan yang berturut-turut karna khawatir
"mama tenang aja, kau disini baik-baik aja kok dan kalau masalah uang, kami ada kok karna kami sekarang kerja" jawab Diyan menenangkan mamanya itu
mama Diyan dan umi Shira mendengar mereka berdua bekerja langsung berkata serentak
"kalian kerja apa? kalau kalian butuh uang kalian bilang saja sama kami, kalian tidak perlu bekerja"
mereka tidak mau kuliah Shira dan Diyan terganggu karna mereka bekerja
"kami kerja di restoran mah, dan kami juga bekerja setelah kuliah, kami tidak bolos kok, jadi kalian tenang aja ya" ucap Diyan berhasil menenangkan kedua orangtuanya dan orang tua shira
"ya sudah kalau begitu kalian hati-hati ya disitu, dan kamu Diyan jika kamu pergi keluar apalagi jika itu malam-malam, kamu harus selalu bersama dengan Shira, karna kamu tidak pintar beladiri seperti Shira, ingat kalian di kota orang lain, jadi kalian itu harus selalu berhati-hati" ucap papa Diyan membatu saran kepada anak satu-satu perempuannya itu
"iya pah, papa tenang aja, kami selalu keluar bersama kok, kami tidak pernah berpisah" balas Diyan menangkan papanya
"ya sudah kalau begitu kami tutup dulu ya, kalian jangan lupa untuk selalu berdoa dan meminta petunjuk kepada Allah jika kalian dalam masalah, karna Allah selalu ada bersama kita, dimana pun kita berada" ucap Abi Shira
"iya om, yaudah om aku tutup ya panggilannya" ucap Diyan namu tertahan karena Abi Shira menyuruh Diyan untuk memberikan kembali hp itu kepada Shira
"iya Abi" ucap Shira setelah mengambil hpnya dari Diyan
"Abi ingin berpesan sama kamu, kamu harus selalu bersama dan menjaga Diyan, karna Abi telah menganggap Diyan sama seperti kamu putri Abi, dan dia juga tidak pintar beladiri"
begitulah Abi Shira berpesan kepada Shira,
memang keluarga Shira dan Diyan telah dekat bahkan sebelum Diyan dan Shira ada didunia ini
lalu mereka pun memutuskan panggilannya dengan diakhiri dengan salam
setelah lama berbicara Shira dan Diyan pun kembali masuk kedalam butik tempat mereka Farah
namun saat mereka masuk kedalam butik, mereka berdua sudah tidak melihat mami Frans, mereka malah melihat banyak paper bag di atas sofa tempat mereka duduk tadi
"ini belanjaan kamu kalian?" tanya Shira
"iya ini belanjaan kita semua termaksud kalian" jawab Farah
__ADS_1
"kita" ucap Diyan dan Shira bersamaan sambil menunjuk diri masing-masing
"iya, itu mami yang beliin kalian" ucap Farah menunjuk belanjaan khusus untuk Diyan dan Shira
"terus mami kamu mana?" tanya Shira
"dia udah pergi, ditelpon sama teman-teman arisannya" jawab Farah
"kalian masih ada mau belanja?" tanya Frans kepada Shira dan Diyan
"ngga ada kak, oh iya sampaikan permintaan maaf kami kepada mami kalian, kami tidak bisa menerima barang-barang ini" ucap Shira menunjuk paper bag yang ditunjuk oleh Farah tadi sambil menatap Frans dan Farah
"iya, kami diajarkan untuk tidak menghambur-hamburkan uang, lebih baik bajunya dijual kembali dan diberikan kepada yang butuh, kami masih punya banyak baju dirumah" sambung Diyan juga
"tapi kan sayang, barangnya kan udah dibeli, mami Lo yang pilih sendiri buat kalian, masa kalian tega sih sama mami" ucap Farah membujuk mereka berdua
namun Shira dan Diyan tetap tidak mau, Shira langsung berkata
"membeli barang itu secukupnya saja dan sebutuhnya saja, bukan untuk dipakai sekali dua kali lalu dijadikan koleksi dilemari," ucap Shira sangat hati-hati takut menyinggung perasaan Farah
"ya sudah kalau keputusan kalian begitu, dan soal permintaan maaf nanti saya akan bicara sama mami saya" ucap Frans lalu mengambil paper bag untuk Shira dan Diyan lalu mengembalikannya di kasir
Frans dan Gavin langsung kaget mendengar suara adzan di hp Shira dan Diyan. mereka bukan kaget karna adzannya, tapi mereka kaget karna malu kepada Shira dan Diyan, hp mereka saja yang terbilang sangat mahal dan canggih tidak adzan, namun hp Shira dan Diyan yang terbilang sangat kampungan dan jadul, mereka masih bisa memaikainya untuk menyetel adzan dan mengaji di hp mereka
sedangkan Farah, dia sudah biasa mendengar adzan bahkan melihat Shira dan Diyan membaca Al-Qur'an atau mengulangi hafalan mereka menggunakan hp mereka
"ayo cari mushola" ajak Gavin kepada mereka semua
mereka pun keluar dari butik, lalu pergi ke mushola mall itu
seperti biasa Shira dan Diyan akan menetap disana sampai shalat isya selesai, begitupun dengan Gavin dan frans mereka juga menunggu sampai shalat isya sambil mengotak-atik hp mereka
"aplikasi apa yang bisa dipakai agar hp kita adzan otomatis seperti mereka Shira" ucap Frans kepada Gavin
"ayo kita cari di google play"
mereka pun mencari apk yang bisa adzan otomatis, selang beberapa menit mereka mendapatkan 1 apk yaitu Al-qur'an Indonesia,
mereka pun menyetelnya agar bisa membunyikan adzan secara otomatis
__ADS_1
sementara itu Diyan, Shira dan Farah sedang berbincang-bincang,
"Alexa boleh ngga aku juga memanggil kamu dengan Shira juga?" tanya Farah tiba membuat Shira dan Diyan saling berpandangan, lalu merek mengangguk-anggukan kepala, mereka bisa menebak pasti Farah tau dari Frans
"yaudah kalau gitu Ra, Yan, aku mau bertanya sama kalian" sambungnya lagi tersenyum gembira
"silahkan" ucap Diyan dan Shira bersamaan
"menurut kalian apa itu makna ikhlas?" tanya Farah dengan sangat antusias mendengar Shira dan Diyan menjawab
Shira pun langsung menjawabnya dengan berkata
"ikhlas adalah menghargai realita yang ada sebagai pemberian istimewa semesta dan penciptanya" Shira menjelaskan dengan sangat terampil
lalu Farah kembali bertanya
"mengapa begitu?"
Diyan langsung menjawabnya dengan berkata
"karna tidakkah hanya dan hanya dengan syukur kita akan mendapatkan sesuatu yang lebih istimewa lagi?"
"kunci bahagian itu adalah dengan banyak-banyak bersyukur apapun yang diberikan oleh Allah kepada kita" ucap Shira menambahkan
"dan aku sangat bersyukur bisa mempunyai teman seperti kalian" ucap Farah lalu memeluk Shira dan Diyan
Shira dan Diyan pun balas memeluk Farah dengan tersenyum, mereka pun merasa bersyukur mempunyai sahabat seperti Farah di ibukota yang asing ini
~mutiara hikmah~
jadilah orang terbaik dalam pandangan Allah,
jadilah dalam pandangan diri sendiri dan
jadilah biasa dalam pandangan makhluk
_Ali Bin Abi Tholib_
*jangan lupa like, komen, dan vote*
__ADS_1
selamat membaca 🙂