
shira masih berada di depan makam orang tuanya, hujan pun sedikit-sedikit sudah reda, pakaian Shira basah namun karna shira memakai pakaian serba hitam jadi tak terlalu kentara jika pakaian tersebut basah.
shira pelan-pelan berdiri dan berniat untuk pulang, shira tak mau terlalu lama dan membuat para kakak-kakaknya khawatir kepadanya.
selama perjalanan pulang shira terus saja berdoa dan mengucap shalawat, shira mengingat-ingat semua motivasi yang sering di ucapkan oleh kedua orang tuanya.
"Allah mempunyai skenarionya sendiri, kita hanya bisa bersyukur dan menerimanya dengan lapang dada tanpa mengeluh, ikhlaskan lah apa pun yang telah terjadi dalam hidupmu jangan terlalu bersedih apalagi sampai meratapi dan menyalahkan diri sendiri, tugas kita sebagai anak adalah mendoakan kedua orang tua kita agar mereka bisa tenang di alam sana dan semoga mereka bisa masuk surganya Allah SWT"......
.
.
betapa kagetnya shira saat sampai, shira melihat kak ashar dan juga kakaknya andra telah babak belur sedangkan Amanda, sinta dan diyan sedang di pegang oleh pengawal bahkan anak amanda menangis melihat uminya di pegang oleh para pengawal itu..
"ada apa ini?" tanya shira dengan khawatir sambil mendekati mereka semua
seketika mereka semua kaget dengan kedatangan shira, windra langsung mendekati shira, orang yang selama ini ia cintai namun selalu di tolak oleh Shira
"hay lama tak jumpa, kamu makin cantik aja" ucap windra yang telah berada di depan Shira.
Shira tak menghiraukannya, shira lebih memilih untuk pergi melihat keadaan ashar dan andra yang telah terduduk lemah di tanah dengan wajah yang lebam. namun sebelum sampai di tempat andra dan ashar shira lebih dulu menghampiri Diyan, sinta, dan amanda yang di pegang oleh para pengawal itu
"lepaskan tangan mereka" ucapnya dengan tegas namun tetap tenang, shira tak mau kejadian dulu waktu di ibukota terjadi lagi, apa lagi para tetangga dan orang-orang di kota ini tak tau bahwa dia pandai beladiri.
__ADS_1
melihat para pengawal itu tak bergeming windra langsung berbicara kepada para pengawal itu
"lepaskan"
para pengawal itu pun langsung melepaskan mereka bertiga, mereka pun langsung pergi melihat keadaan andra dan ashar.. sedangkan amanda pergi memeluk anaknya yang sejak tadi menangis
"kak ashar dan kak andra ngga apa-apa kan?" tanya shira khawatir
"ngga papa kok hanya lebam sedikit" andra berbicara dengan sedikit senyum agar shira dan sinta tak terlalu khawatir dengan keadaannya
"kakak, kak ashar ngga papa kan? jika kak ashar kenapa-kenapa diyan sama siapa? Diyan udah ngga ounya siapa-siapa lagi selain kak Ashar" ucap diyan menangis sesugukkan
Ashar langsung memeluk diyan dan berkata bahwa dirinya baik-baik saja
"udah dramanya?" tanya windra membuat semua mata mengalihkan pandangan ke arahnya
"kalau boleh saya tahu ada tujuan apa anda ke sini?" tanya shira sambil berdiri
"begini saya itu hanya mau menyampaikan bahwa orang tua mu dan orang tua diyan telah berutang kepada ayahku" ucap windra membuat Shira menatapnya dengan tidak suka dan tidak percaya, namun shira tetap tenang dan menanggapi ucapan windra
"buktinya mana?" tanya shira sambil mengulurkan tangannya meminta bukti bahwa orang tuanya dan juga orang tua diyan mempunyai hutang kepada ayah windra
"jangan percaya ra, dia itu hanya bohong aja dan...." sinta hendak melanjutkan bicaranya namun di tahan oleh Andra, biarlah shira yang berbicara dengan Windra
__ADS_1
"bu, bukti? ah kamu tenang saja semua buktinya ada di sini,. apakah kamu ingin melihatnya?" tanya balik Windra dengan sedikit gugup
"mana" jawab singkat shira
"ambil surat bukti hutang orang tua mereka" perintah windra kepada pengawalnya. salah satu pengawal itu pun langsung beranjak dan pergi menuju mobil dimana bukti-bukti itu di simpan oleh Windra, lalu setelah itu pengawal itu memberikan beberapa kertas kepada windra
windra lun maju dan memberikannya kepada shira, shira pun melihat kertas-kertas itu, shira tak banyak lihat, ia hanya melihat ujung kertas itu lalu melihat tulisan paling bawah yaitu nama abinya dan tanda tangannya yang tertera di kertas itu, seketika shira tersenyum miring, shira tahu ini bukan tanda tangan abinya, ia juga melihat tanda tangan papa Diyan, walaupun shira bukan anak dari papa diyan namun dia cukup tahu dan kenal dengan tanda tangan papa diyan karna sering melihat papa diyan menandatangani raport diyan sejak SD, SMP dan SMA jadi ia sangat kenal, lagi-lagi shira menunjukkan senyum miringnya membuat Windra yang melihat itu menjadi bingung dan penasaran
"kalian tidak akan bisa membohongi kami, orang tuaku dan orang tua diyan itu ngga pernah mengutang kepada siapapun, dan juga jika kalian ingin memberi bukti, jangan yang amburadul seperti ini. ini jelas bukan tanda tangan abi saya dan papa Diyan" ucap shira melemparkan kertas itu ke arah Windra
"mendingan sekarang kalian pergi dari sini sebelum saya berubah pikiran, kalian telah membuat kak ashar dan kak andra babak belur dan juga telah memegang tangan diyan, kak sinta dan kak amanda" sambung shira mulai geram, shira sudah tak setenang tadi lagi
shira sangat marah mengetahui orang tuanya di fitnah seperti ini, bahkan baru saja orang tuanya di kebumikan sudah ada fitnah seperti ini, ini membuat hati shira sakit dan menimbulkan emosinya keluar.
windra yang di perlakukan seperti itu langsung geram dan sakit hati, bisanya orang biasa seperti shira bicara seperti itu kepadanya
"lancang sekali kamu, pokoknya apapun yang terjadi saya akan membawa kamu dan juga Diyan" ucap windra dengan marah
"mau itu buktinya asli atau palsu emang kalian bisa apa? kalau aku bilang orang tua kalian punya hutang berarti mereka punya hutang, siapa yang berani melawanku di kota ini?" ucap windra dengan bangganya
shira mengepalkan tangannya berusaha menahan amarahnya, lagi-lagi emosinya naik saat mendengar orang tuanya di fitnah seperti itu
"punya hak apa anda ingin membawa aku dan Diyan? saya tahu anda adalah anak dari pak Wawan yang memiliki tambang batu terbesar di kota ini tapi anda sama sekali tak ada hak untuk memaksa aku dan diyan untuk ikut bersama anda apalagi memfitnah orang tua kami seperti itu" dengan bergetar shira mengatakan itu, jujur saja shira sekarang telah marah dan ingin memukul wajah windra yang seenaknya memfitnah orangtuanya dan juga orang tua Diyan
__ADS_1
"jika kamu memang tak mau di ajak bicara baik-baik maka saya akan memakai kekerasan agar kalian ikut denganku!" ucap windra lalu menyuruh para pengawalnya menangkap shira dan diyan untuk di bawa kerumahnya sesuai permintaan sang ayah.
namun sebelum para pengawal sampai di hadapan shira dan Diyan, mereka seketika langsung berhenti melangkah bahkan bernafas oun susah saat menyadari siapa yang datang, bahkan Windra pun terduduk lemas karena ketakutan dengan orang yang baru saja datang dan menghampiri mereka......