Bidadari Bermata Biru

Bidadari Bermata Biru
eps 55


__ADS_3

"ngga, paman ngga akan tenang meninggalkan kalian sendiri di sini, walaupun kamu pandai beladiri bahkan mungkin sekarang kamu bisa menyamai seni beladiri paman, tetap saja paman tak akan tenang" ucap paman shira dengan khawatir


"ingat kata abi kamu, jangan pernah kamu menunjukkan kepada orang-orang di sini bahwa kamu itu bisa ilmu beladiri taichi, kamu memang bisa saja melawan para pengawal pak wawan jika mereka datang ke sini dengan ilmu beladiri karate sabuk hitam kamu, namun jika saat itu mereka berhasil melukai bahkan membawa salah satu dari kakak kamu atau diyan misalnya, apakah kamu tidak marah? apakah kamu bisa mengendalikan kemarahan kamu dan tidak mengeluarkan ilmu beladiri taichi yang kamu miliki?" ucap pamannya dengan berbagai macam pertanyaan dan raut wajah khawatir


selama dua bulan terakhir ini, shira memang selalu berlatih kepada pamannya, hingga ia bahkan telah menandingi sang paman, namun ia memang tak tahu pasti apakah ia bisa mengendalikan dirinya jika ia marah atau tidak.


"paman tenang aja, kan masih ada kak ashar dan kak Andra juga yang bisa beladiri, in Syaa allah mereka bisa di andalkan kok" jawab shira agar pamannya sedikit tenang


Candra berpikir sejenak, benar juga kata shira masih ada Ashar dan juga Andra yang bisa beladiri, beladiri mereka pun karate sabuk hitam di atas Shira.


tapi tetap saja itu tak bisa membuat candra tenang meninggalkan mereka sendirian di sini, wawan sangatlah licik, jika mereka datang dengan membawa banyak pengawal yang berjumlah tiga puluh bahkan lebih, takutnya walaupun ashar, andra dan shira melawannya bersama-sama mereka tak akan mampu, apalagi hanya memakai ilmu beladiri karate.


"atau begini saja.... kalian semua pindah saja ke ibukota J, di sana paman punya rumah yang lumayan besar bisa kalian tempati, dan kamu juga bisa melanjutkan kuliah mu bersama dengan diyan. terus Ashar, Sinta dan Andra juga bisa mencari kerja di sana" ucap Candra memberi usul agar ia tak khawatir lagi jika meninggalkan mereka.


wawan tak mungkin akan mengejar mereka sampai ke ibukota J. apalagi anak buahnya telah memastikan bahwa informasi shira dan Diyan sangat tertutup rapat di kampusnya.


memang selama shira dan diyan pergi ke ibukota J untuk pertama kalinya, anak buah Candra selalu mengikutinya bahkan di kampus ada yang bekerja menjadi dosen, dan ada juga yang menjadi tukang kebun. bahkan pada saat shira melawan para preman di sekitaran kampus yang di sebabkan oleh rena pamannya ini juga tahu, dulu sebenarnya anak buahnya ingin menolong diyan yang sudah di kepung oleh para preman itu, namun tak jadi karna bertepatan dengan shira yang baru saja datang.


dan di situlah Candra mengetahui bahwa shira tak bisa mengendalikan dirinya jika ia sedang emosi.

__ADS_1


"usulan paman boleh juga, namun di sini sangat banyak kenangan kami bersama dengan orang tua kami, pasti sinta dan Andra tak akan setuju, kalau aku sih in Syaa allah besok akan di jemput sama kak Harun dan kami akan balik kembali ke Balikpapan " ucap Amanda yang baru saja datang sambil menggendong anaknya


"suami kakak udah selesai kerjanya?" tanya shira lalu mengambil alih habil dari gendongannya


"iya, dia selesai kerjanya hari ini, jadi besok pagi dia akan berangkat ke sini" jawab Amanda


"menurut kakak kalian itu harus pertimbangan baik-baik usulan paman candra barusan, menurut kakak paman ada benarnya juga, kamu dan diyan bisa lanjutkan kuliah kalian lagi di sana, sedangkan ashar, andra dan sinta bisa mencari kerja di sana,. kita bisa sekali-sekali datang berkunjung di sini, setiap lebaran misalnya. sayang lo beasiswa kalian hangus cuma-cuma" sambung Amanda


Amanda sangat sayang kepada shira dan adik-adiknya yang lain, ia juga khawatir jika harus meninggalkan mereka sendirian di sini.


"tapi kan kak..."


shira tak melanjutkan ucapannya lagi saat mendengar Andra berbicara


Shira hanya terdiam tak berbicara apa-apa lagi, jika sudah andra yang memutuskan begitu maka shira akan mengikuti nya karna selepas abinya meninggal yang menjadi kepala keluarga adalah andra karna dia adalah satu-satunya laki-laki dalam keluarga mereka, begitupun dengan diyan, diyan harus mengikuti perkataan ashar karna ashar adalah kepala keluarga menggantikan papanya.


"jika memang kak Andra yang berbicara begitu maka shira tak akan menolak lagi, karna kak andra telah menjadi kepala keluarga menggantikan abi sekarang" ucap Shira


"namun bagaimana dengan diyan dan Ashar apakah mereka akan setuju dan mau meninggalkan rumah kedua orangtuanya?" sambungnya bertanya

__ADS_1


"iya kami setuju" jawab ashar yang entah dari mana ia muncul di ikuti dengan Diyan


"kami akan pindah ke ibukota J, agar diyan dan kamu bisa melanjutkan kuliah kalian lagi, dan untuk masalah biaya hidup kita di sana aku, andra dan diyan bisa mencari kerja di sana. Rezeki tak ada yang tahu, bukankah Tuhan kita di sini dan tuhan kita di sana sama? apa yang harus kita risau kan?" tambah ashar lagi


"oke, jadi kalian semua sudah setuju kan?" tanya paman candra memastikan


"iya paman" jawab ashar dan andra bersamaan


"baik kalau begitu paman akan menelpon di ibukota untuk membersihkan rumah paman yang di sana, kalian juga bersiap-siaplah kita berangkat bersama esok lusa" ucap paman Candra bersemangat


"tidakkah itu terlalu buru-buru paman?" tanya Shira


"urusan paman sangat mendesak tak bisa di tunda lagi" jawab sang paman


"besok kalian siapkan barang-barang kalian, besok paman juga akan balik ke rumah paman dulu untuk menyiapkan barang-barang paman juga yang lain di sana" sambungnya


"iya paman" jawab mereka semua


mereka semua pun masuk ke dalam rumah karna hari memang sudah menjelang Maghrib, ashar dan andra bersiap-siap untuk pergi ke masjid yang tak jauh dari rumah mereka itu, sedangkan shira, dan yang lainnya seperti biasa mereka akan shalat berjamaah di rumah dan duduk mengaji sambil menunggu shalat isya

__ADS_1


"menurut kamu gimana ra?" tanya diyan setelah selesai shalat dan sudah tak ada orang di dalam ruangan tempat mereka shalat itu.


"apakah kita akan bertemu mereka lagi? kak gavin,. kak satya, kak frans, dan farah. apakah mereka belum melupakan kita ra? apakah mereka masih akan sama seperti saat kita bertemu mereka? sambungnya bertanya dengan bertubi-tubi


__ADS_2